Pertempuran Heliopolis
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Januari 2026) |
| Pertempuran Heliopolis | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Perang Muslim-Bizantium | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
| Pasukan Muslim | Pasukan Bizantium | ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
| Amr bin Ash | Theodore | ||||||
| Kekuatan | |||||||
| 12.000 | 20.000 | ||||||
| Korban | |||||||
| Sedikit korban | Hampir semua terbunuh | ||||||
Pertempuran Heliopolis atau Ain Syams adalah pertempuran yang menentukan pada tahun 19 H / 640 M antara pasukan Muslim Arab yang dipimpin Amru bin Ash dimasa Khalifah Umar bin Khathab dan pasukan Bizantium untuk menguasai Mesir. Kekuatan Bizantium dipimpin Theodore dengan sekitar 20.000 pasukan sementara Amru membawa sekitar 12.000 pasukan yang dimenangkan pasukan muslim di wilayah Memphis.[1][2] Theodore merengsek ke 'Ain Syams, namun Amru membuat perangkap di sebuah tempat tersembunyi di daerah Gunung Merah, dan membuat perangkap yang lain lagi di daerah Nil yang dekat dengan Ummu Dunain sebelah utara Kairo.[3] Theodore harus berhadapan dengan sebuah pasukan besar di sana. Perang pun berjibaku antara kedua pasukan di sepanjang jalan dekat kampung al-'Abbasiyah (sekarang di pinggir kota Kairo).[2] Masing-masing pihak yakin bahwa siapa yang menang dalam perang di medan tempur saat itu akan dapat menguasai sebagian besar Mesir. Pertempuran antara kedua pasukan pun semakin memanas.
Ketika perang sudah berada pada puncaknya, pasukan Kharijah bin Hudzafah muncul dari arah gunung dan menyambar layaknya petir ke ekor pasukan Romawi. Barisan pasukan Romawi hancur lebur dan mulai mundur ke barat, tepatnya ke arah Ummu Dunain. Di sana mereka malah bertemu dengan pasukan militer bangsa Arab lagi. Dengan demikian, mereka berada di antara 3 pasukan besar Arab yang akhirnya berhasil memorak-morandakan mereka. Tidak ada yang tersisa selain pasukan itu dalam jumlah kecil saja, sebagiannya berada didaerah Nil, sedangkan sebagiannya lagi melarikan diri ke Babilonia.[2] Selanjutnya pasukan Amr bergerak menuju Babilonia. Penduduknya yang mayoritas Kristen Koptik membuat perjanjian damai dengan muslimin, lalu Amru mendirikan kota Fustat (sebelum Kairo).[4]
Meskipun ada beberapa pertempuran besar setelah pertempuran ini, pertempuran ini secara efektif menentukan nasib kekuasaan Bizantium di Mesir, dan membuka pintu bagi penaklukan Muslim atas Kekuasaan Bizantium di Afrika Utara.[5]
Referensi
- ^ Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
- ^ a b c Hasan, Dr. Hasan Ibrahim (2018). Amr bin Ash: Panglima Pembebas Mesir. Solo: Tinta Medina. ISBN 978-623-7011-22-4
- ^ Harsono, Yulian. Sejarah Penaklukan-Penaklukan Muslim yang Mengubah Wajah Dunia. DIVA PRESS. hlm. 79. ISBN 978-623-189-646-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Murrad, Mustafa (2009-05-01). Kisah Hidup Umar ibn Khattab. Serambi Ilmu Semesta. hlm. 133. ISBN 978-979-024-065-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



