Pertempuran Changping

Pertempuran Changping
Bagian dari Periode Negara Perang

Pertempuran Changping
TanggalApril 262 SM – Juli 260 SM
LokasiSebelah barat laut Gaoping, Shanxi
Hasil Kemenangan besar Qin
Penyatuan Tiongkok oleh Qin tak terhindarkan lagi
Pihak terlibat
Negara Zhao Negara Qin
Tokoh dan pemimpin
Lian Po
Zhao Kuo 
Feng Ting 
Wang He (王齕)
Bai Qi
Kekuatan
450.000 550.000
Korban
450.000 150.000

Pertempuran Changping (長平之戰) adalah sebuah kampanye militer yang berlangsung selama Periode Negara Perang di Tiongkok kuno. Konflik ini berakhir pada tahun 260 SM dan negara Qin memperoleh kemenangan besar atas negara Zhao. Korban jiwa di pihak Zhao juga amat besar, sehingga negara ini menjadi lemah dan penyatuan Tiongkok oleh negara Qin tak lagi terhindarkan.

Pertempuran ini dikenal sebagai pertempuran terhebat dan terlama sepanjang sejarah kuno umat manusia, bahkan dikenal sebagai salah satu pertempuran mematikan sepanjang sejarah manusia. Beberapa ratusan ribu pasukan dikubur hidup-hidup sebagai akibatnya. Catatan sejarah yang mencatat pertempuran ini terdapat di Catatan Sejarawan Agung yang ditulis lebih dari satu abad kemudian dan mencatat estimasi ada sebanyak 450,000 pasukan dari Zhao dan 250,000 pasukan Qin gugur. Kaisar Xuanzong dari Tang (685–762) kemudian membangun sebuah kuil setelah ia menerima laporan mengenai penemuan beberapa sisa jasad pasukan dari pertempuran ini. Tulang beulang dan kuburan massal terus ditemukan di situs pertempuran hingga saat ini.[1]

Latar belakang

Qin menyerang kota Qinyang di Negara Han pada tahun 265 SM. Qin terus menyerang negara Han untuk menduduki Shangdang yang memiliki lokasi yang strategis di sebelah barat Zhao. Jika wilayah tersebut jatuh ke tangan Qin, Qin dapat melancarkan serangan ke negara Zhao. Dalam waktu empat tahun, pasukan Qin berhasil mengisolasi Shangdang dari wilayah Han lainnya dengan merebut jalan-jalan utama dan benteng-benteng di Pegunungan Taihang. Shangdang tampaknya akan segera jatuh ke tangan Qin.

Negara Han meminta bantuan dari negara Zhao. Raja Xiaocheng dari Zhao (趙孝成王) lalu mengirim pasukannya yang dipimpin oleh Lian Po untuk membantu mengamankan wilayah Shangdang dari pasukan Qin. Pasukan Zhao berhadapan dengan pasukan Qin yang dipimpin oleh Wang He pada tahun 262 SM di Changping di sebelah selatan Shangdang.

Pertempuran

Kekalahan Zhao

Pada Juli 260 SM, Zhao Kuo tiba di Changping dan mengambil alih komando pasukan Zhao. Ia mengabaikan semua strategi pertahanan sebelumnya yang dibuat oleh pendahulunya, dan malah memutuskan untuk membawa pasukan utamanya ke utara untuk segera menyeberangi Sungai Dan dan menyerang sayap kiri pasukan Qin yang ditempatkan di sepanjang tepi barat hulu sungai, dengan harapan serangan yang menentukan akan cukup untuk menghancurkan pasukan Qin. Dengan melakukan itu, ia meninggalkan sebagian besar perbekalan yang disimpan di kamp utama lama lebih jauh ke selatan di sepanjang sungai, yang sekarang relatif kekurangan personel dan tidak dapat mengamankan jalur pasokan panjang yang membentang di depan pasukan Qin di seberang sungai.

Tidak diketahui oleh Zhao sendiri, Bai Qi mengantisipasi rencananya dan merespon dengan sebuah manuver yang kemudian dilakukan oleh Hannibal saat melawan pasukan Republik Romawi di Pertempuran Cannae. Bai Qi dengan sengaja mengurangi kekuatan sayap kirinya yang ditempatkan di sepanjang sungai, dan sebagai gantinya memperkuat garis benteng bukit di sebelah barat sungai. Ketika Zhao Kuo menyeberangi sungai dan menyerang, sayap kiri Qin dengan cepat meninggalkan posisi mereka di tepi sungai dan mundur kembali ke barat menuju perbukitan, memancing Zhao Kuo untuk mengejar mereka. Namun, detasemen Qin yang terdiri dari 25.000 orang kemudian melintasi ke utara melalui Pegunungan Taiyue untuk melakukan pengepungan kiri yang luas di belakang garis pertahanan ketiga Zhao yang berpusat di sekitar Celah Changping, memutus jalur pasokan Zhao dari utara. Pada saat yang sama, detasemen lain yang terdiri dari 5.000 kavaleri ringan dengan busur dan panah maju di sebelah kanan dan menyeberangi Sungai Dan untuk memutus komunikasi antara kamp baru Zhao Kuo dan depot utama mereka di selatan, membagi pasukan Zhao menjadi dua, dan pasukan utama Bai Qi segera menyusul untuk mengamankan posisi strategis dan menutup jalan keluar lembah Sungai Dan. Detasemen-detasemen ini akhirnya menyelesaikan pengepungan segitiga yang menjebak pasukan Zhao Kuo di dalam lembah sungai.

Akibat

Pasukan Zhao yang ditangkap oleh Qin dihukum mati, kemungkinan dengan dikubur hidup-hidup.[2] Hal ini dilakukan karena warga setempat tidak menyukai Qin dan ia takut pasukan yang telah ditawan akan memberontak. Sejarawan Sima Qian mengklaim bahwa lebih dari 450.000 pasukan Zhao meninggal selama pertempuran ini.

Sebelum pertempuran ini, Zhao merupakan salah satu negara terkuat di Tiongkok, dan semenjak kekalahannya Zhao tidak dapat lagi bangkit, sehingga membuka jalan bagi Qin untuk menyatukan kembali Tiongkok pada tahun 221 SM.

Catatan kaki

Pranala luar


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement