Persekutuan Pitu Ulunna Salu

Persekutuan Pitu Ulunna Salu (bahasa Indonesia: Persekutuan Tujuh Hulu Sungai)[1] adalah persekutuan yang dibentuk oleh tujuh kerajaan yang berkuasa di pegunungan sebelah barat Sungai Mamasa.[2] Pada abad ke-16, Persekutuan Pitu Ulunna Salu mulai mengadakan kerja sama dalam bidang pertahanan dan keamanan dengan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga.[3][4] Setelah Perjanjian Bongaya ditandatangani pada tahun 1667, Persekutuan Pitu Ulunna Salu menjadi salah satu kelompok persekutuan yang menjadi sekutu Belanda.[5]

Pembentukan

Nama "Pitu Ulunna Salu" dalam Persekutuan Pitu Ulunna Salu dalam bahasa Indonesia berarti tujuh hulu sungai.[1] Penamaan ini didasari oleh pembentukan Persekutuan Pitu Ulunna Salu oleh tujuh kerajaan suku Mandar yang menghuni wilayah hulu Sungai Saddang.[3][6] Ketujuh kerajaan tersebut ialah Kerajaan Tabulahan, Kerajaan Aralle, Kerajaan Mambi, Kerajaan Rantebulahan, Kerajaan Matangnga, Kerajaan Tabang, dan Kerajaan Bambang.[3] Pembentukan Persekutuan Pitu Ulunna Salu dalam keyakinan lokal suku Mamasa dilakukan oleh tujuh orang anak dari seseorang bernama Pongkapadang yang masing-masing menjadi penguasa lokal di wilayah hulu Sungai Saddang.[1]

Wilayah kekuasaan dan pembagian peran

Wilayah Persekutuan Pitu Ulunna Salu terletak di kawasan pegunungan yang berada di sebelah barat Sungai Mamasa yang masuk dalam kawasan pantai barat Pulau Sulawesi dan Dataran Tinggi Mamasa.[2] Masing-masing kerajaan yang tergabung dalam Persekutuan Pitu Ulunna Salu tetap memiliki kedaulatan tersendiri atas wilayah kekuasaannya.[7]

Politik

Kerja sama dengan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga

Pada abad ke-16, Persekutuan Pitu Ulunna Salu mulai mengadakan kerja sama dengan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga. Pernyataan kerja sama dinyatakan dalam Perjanjian Luyo yang berisi pernyataan dari kerajaaan-kerajaan Persekutuan Pitu Ulunna Salu dan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga untuk saling mendukung satu sama lain.[3] Kerja sama antara Persekutuan Pitu Ulunna Salu dengan Persekutuan Pitu Baqbana Binanga terutama dalam hal pertahanan dan keamanan dari seluruh kerajaan yang termasuk anggota dalam kedua persekutuan tersebut.[4]

Persekutuan dengan Belanda

Persekutuan Pitu Ulunna Salu merupakan salah satu kelompok persekutuan kerajaan di daerah Mandar yang menjadi sekutu Belanda. Hubungan antara Belanda dan Persekutuan Pitu Ulunna Salu diatur dalam Perjanjian Bongaya yang dibuat pada tahun 1667. Kerajaan-kerajaan dalam Persekutuan Pitu Ulunna Salu tetap memperoleh kemerdekaan dan kedaulatan atas wilayahnya masing-masing. Namun Belanda harus dijadikan sebagai pelindung dan perantara dalam urusan kerajaannya.[5]

Referensi

Catatan kaki

  1. ^ a b c Rinoza dan Buamona 2019, hlm. 27.
  2. ^ a b Rinoza dan Buamona 2019, hlm. 22.
  3. ^ a b c d Amir 2016, hlm. 5.
  4. ^ a b Rijal, dkk. 2019, hlm. 31.
  5. ^ a b Amir 2016, hlm. 4-5.
  6. ^ Rijal, dkk. 2019, hlm. 32.
  7. ^ Rijal, dkk. 2019, hlm. 31-32.

Daftar pustaka

  • Amir, Muhammad (2016). Muhtamar, Syafruddin (ed.). Penataan Mandar dalam Masa Kolonial Belanda 1905 - 1942 (PDF). Makassar: Arus Timur. ISBN 978-602-6350-00-8. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Rijal, dkk. (2019). Machmury, Andri (ed.). Potensi Sejarah dan Budaya Mandar dalam Perspektif Pariwisata (PDF). Makassar: Politeknik Pariwisata Makassar. ISBN 978-602-51991-6-5. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Rinoza, R., dan Buamona, R. (April 2019). Bumi dan Manusia Mamasa. Sebuah Ihwal tentang Perubahan Sosial-Ekologi di Dataran Tinggi Sulawesi (PDF). Bogor dan Yogyakarta: Tim Kaji Tindak Malabar 22, Tanah Air Beta & Sajogyo Institute. ISBN 978-623-90080-2-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement