Peristiwa Surau Batu Sintuak
Peristiwa Surau Batu Sintuak atau juga disebut Perang Sintuak terjadi pada 7 Juni 1949 ketika 40 orang pejuang kemerdekaan Indonesia ditangkap tentara Belanda di Nagari Sintuak, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. 37 di antara mereka tewas ditembak dari belakang oleh tentara Belanda di tepi sungai Batang Tapak, tepatnya di area Surau Batu Sintuak.[1]
Bangunan Surau Batu Sintuak sudah hancur akibat gempa bumi yang melanda Sumatera Barat pada 2009. Sementara itu, upaya peringatan dan pelestarian atas peristiwa ini dilakukan oleh masyarakat melalui inisiatif mendirikan Museum Perang Sintuak.[2]
Latar belakang
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda berusaha untuk kembali menguasai wilayah di Indonesia. Pada 21 Juli 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer pertama, yang melanggar Perjanjian Linggarjati. Dalam waktu kurang dari satu bulan, Belanda berhasil menduduki Padang hingga ke Lubuk Alung.[3]
Menjelang Agresi Militer kedua, tentara Belanda terus berusaha mengadakan gerakan untuk meluaskan penguasaannya ke arah utara, hingga ke Pariaman.[4] Akibatnya, terjadi sejumlah perlawanan rakyat terhadap tentara Belanda, salah satunya di Nagari Sintuak. Catatan mengenai Peristiwa Surau Batu Sintuak ditulis dalam buku Peristiwa Surau Batu Sintuak: Sejarah yang Terlupakan 7 Juni 1949 yang disusun pada tahun 2001.[5]
Kronologi

Pada 7 Juni 1949 pagi, satu kompi serdadu Belanda melakukan penyisiran ke arah barat Lubuk Alung, meliputi Pungguang Kasiak, Sintuak, Pakandangan, Toboh Gadang, Bintungan Tinggi, hingga Pauh Kambar. Operasi itu dipimpin oleh Komando Markas Teritorial Belanda Kapten Backer. Tujuan penyisiran menangkap gerilya pemuda pejuang kemerdekaan dan anggota TNI. Hasil penyisiran, Belanda menangkap setiap laki-laki dewasa yang ditemui.[5]
Di stasiun kereta api Sintuak, semua tangkapan dikumpulkan dan dibagi tiga kelompok. Pertama, 20 orang dibawa ke Lubuak Aluang untuk diperiksa. Kedua, 35 orang dibebaskan. Ketiga, 40 orang dibawa ke Surau Batu Sintuak. Mereka digiring ke belakang surau, tepatnya di tepi sungai Batang Tapak dan selanjutnya dieksekusi dengan cara ditembak dari belakang. Dari 40 tersebut, tiga orang berhasil menyelamatkan diri saat mendengar tembakan dengan cara menceburkan diri ke sungai,.[5]
Di antara 40 pejuang yang ditembak Belanda tersebut, yakni Tengkarangan Datuak Sati dari Toboh Olo, Babot Datuak Tuah dari Toboh Kandang Gadang, Juri asal Toboh Apa, Hamid asal Sintuak, Yusuf Jalang asal Sintuak, dan Nazir Labai Itiak asal Sintuak. Selain melakukan eksekusi, pasukan Belanda membakar sebagian bangunan surau.[5]
Peringatan
Pada 2001, masyarakat menggagas pendirian tugu peringatan yang dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Padang Pariaman H. Sudirman Gani. Upaya itu diikuti dengan penyusunan buku Peristiwa Surau Batu Sintuak: Sejarah yang Terlupakan 7 Juni 1949. Akan tetapi, pembangunan tugu terbengkalai di tengah jalan.[5]
Referensi
- ^ "Mengenang Tragedi Berdarah Surau Batu Sintuak". Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ "Museum Perang Sintuk Padang Pariaman dibangun secara swadaya". Antara News. 2021-04-18. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ Nasution, Abdul Haris (1977). Sekitar perang kemerdekaan Indonesia: Periode Linggajati. cet. 1. 1978. DISJARAH-AD.
- ^ Silalahi, M. Daud (1992). Sejarah perjuangan kemerdekaan R.I. di Minangkabau/Riau, 1945-1950. Badan Pemurnian Sejarah Indonesia-Minangkabau. ISBN 978-979-405-126-9.
- ^ a b c d e Armaidi Tanjung (2008). Sejarah Perjuangan Rakyat Padang Pariaman Dalam Perang Kemerdekaan RI 1945-1950. Pariaman: Pustaka Artaz.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


