Perisai Kasih yang Terkoyak
| Perisai Kasih yang Terkoyak | |
|---|---|
| Sutradara | Hadi Poernomo |
| Produser | Jung Indradjaja |
| Skenario | Irhandie Kasmara |
Berdasarkan | Perisai Kasih yang Terkoyak oleh Mira W. |
| Pemeran |
|
| Penata musik | Billy J. Budiarjo |
| Sinematografer | Hasan Basri Jafar |
| Penyunting | Rizal Asmar |
Perusahaan produksi | PT. Central Graha Utama Film |
Tanggal rilis | 1986 |
| Negara | Indonesia |
| Bahasa | Bahasa Indonesia |
Perisai Kasih yang Terkoyak adalah film Indonesia tahun 1986 yang disutradarai oleh Hadi Poernomo. Film ini diperankan oleh Nena Rosier, Tuti Indra Malaon dan Agyl Syahriar. Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul Perisai Kasih yang Terkoyak karya novelis Indonesia, Mira W..
Sinopsis
Kisah yatim-piatu dengan bumbu tangis. Bunga (Susan Iskandar) dan adiknya, Gilang (Ferry Iskandar), hidup terpisah. Mereka tinggal dengan orang tua angkat berbeda sesudah diasuh dalam rumah yatim piatu, milik bekas pacar ayah mereka, Lastri (Tuty Indra Malaon). Ketika dewasa, Bunga (Nena Rosier) menjadi penyanyi tenar berkat bimbingan ayah angkatnya yang seorang pencipta lagu, Wisnu (Deddy Sutomo), adik Lastri yang ditinggal istrinya. Bunga dicintai oleh Agung (Dwi Yan), anak orang kaya, tetapi Bunga selalu mengelak dengan alasan belum bertemu dengan adiknya. Tanpa disangka, adiknya pun, Gilang Agyl Shahriar menjadi penyanyi tenar. Produser mereka saling bersaing untuk mengorbitkan artisnya. Ketika hendak ada pertunjukan bersama, Gilang kecelakaan. Suaranya rusak dan kakinya lumpuh. Saat itulah Bunga tahu bahwa Gilang adalah adiknya yang dicari-carinya. Ketika pertunjukan berlangsung, Gilang muncul di panggung dengan kursi roda dan sembuh.[1]
Referensi
- ^ JB Kristanto, Katalog Film Indonesia 1926-1995, PT Grafiasri Mukti,Jakarta, 1995 hal 308
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


