Perang Bani Mustaliq

Pertempuran Bani Mustaliq atau Ekspedisi al-Muraysi’ adalah kampanye Muslim awal melawan suku Bani Mustaliq yang berlangsung pada bulan Januari 627 M atau bulan Syaban 6 H[1], setelah Pertempuran Khandaq.[2][3] Awalnya Nabi Muhammad mendengar akan adanya rencana penyerangan dari kaum Bani Mustaliq atau Bani Musthaliq ke Madinah, maka Muhammad mempersiapkan pasukan untuk terlebih dahulu menyerang ke arah selatan. Muhammad menunjuk Abu Dzar sebagai pimpinan Madinah (atau riwayat lain Numailah bin Abdullah Al-Laitsi).

Panglima perang Bani Mustaliq adalah Al-Harits bin Abu Dhirar ayah Juwairiyah binti Al-Harits. Perkampungannya berada di antara Mekah dan Madinah.

Serangan kejutan

Mendengar kemunculan kaum Muslimin, suku tersebut ketakutan, dan orang-orang Arab yang menyertai mereka membelot dan melarikan diri untuk hidup mereka. Abu Bakar dipercayakan sebagai komandan Muhajirin (Imigran Mekah ke Madinah), dan Sa'd bin 'Ubādah adalah komandan Anṣar (Kaum Pembantu di Madinah). Kedua tentara itu ditempatkan di sebuah sumur bernama Al-Muraysī ', dekat laut, tidak jauh dari utara kota Mekkah. Mereka bertempur dengan busur dan anak panah selama satu jam, dan kemudian kaum Muslim maju dengan sangat cepat, mereka mengelilingi al-Muṣṭaliq dan membawa seluruh suku tersebut sebagai tahanan, dengan keluarga, kawanan ternak dan kawanan mereka. Pertempuran berakhir dengan kemenangan penuh bagi umat Islam.[4] 'Alī ibn Abī Ṭālib membunuh beberapa orang terluka Banī al-Muṣṭaliq; Di antaranya adalah Mālik dan anaknya.[5]

Dua ratus keluarga diambil sebagai tawanan, dua ratus unta, lima ribu ekor domba, kambing, serta sejumlah besar barang rumah tangga yang ditangkap sebagai barang rampasan. Barang-barang rumah tangga dijual dalam lelang ke penawar tertinggi.

Hanya satu Muslim terbunuh karena kesalahan oleh seorang pembantu yaitu yang berasal dari Bani Kalb bin Auf bin Amir binLaits bin Bakr yang bernama Hisyam bin Shubabah gugur karena dikira musuh oleh kabilah Ubadah bin Shamit.[1] Juwayrīyah binti al-Ḥārits, putri kepala Bani Mu'aliq adalah salah satu tawanan, dan setuju untuk menikahi Muḥammad dengan imbalan membebaskan 100 tahanan yang masuk Islam, sebagai kompensasi (menurut ulama Muslim Saifur Rahman al Mubarakpuri).[6] Pada saat kepulangan terjadi peristiwa fitnah tuduhan Aisyah berzina karena tertinggal di rombongan belakang saat menuju Madinah, tetapi kemudian namanya dibersihkan dengan turunnya ayat al-Quran.[7]

Konflik Aus-Khazraj

Pada saat Muhammad berada di dekat sumur Al-Muraisi', orang-orang dan pekerja Umar bin Khaththab dari Bani Ghifar bernama Jahjah bin Mas'ud yang menuntun kuda datang ke sumur tersebut. Di sana, Jahjah bin Mas'ud berebut air dengan Sinan bin Wabar Al-Juhani sekutu Bani Auf bin Khazraj hingga keduanya terlibat perkelahian. Sinan bin Wabar Juhani berteriak: "Wahai orang-orang Anshar." Sedangkan Jahjah berteriak: "Wahai orang-orang Muhajirin." Abdullah bin Ubay langsung menghasut untuk berkonflik. Zaid bin Arqam segera melaporkan kepada Muhammad sehingga Muhammad segera datang untuk mendamaikan konflik yang nyaris menjadi pertempuran sesama muslim.[1]

Korban dan Tawanan Bani Mustaliq

Ali bin Abu Thalib membunuh dua orang, mereka adalah Malik dan anaknya. Abdurrahman bin Auf membunuh seorang penunggang kuda dari mereka yang bernama Ahmar atau Uhaimar. Juwairiyah awalnya tawanan Tsabit bin Qais, lalu ia menghadap Muhammad meminta dibebaskan, namun justru dilamar Muhammad, sementara Aisyah merasa kurang senang melihat kecantikan Juwairiyah.

Ayah Juwairiyah, Al-Harits bin Abu Dhirar, datang dengan maksud menebus putrinya. Pada saat ia berada di Al-Aqiq, ia mengamati unta-unta yang ia siapkan sebagai tebusan bagi putrinya dan ia pun tertarik dengan dua unta dari unta-unta yang ada. Dan ia menyembunyikannya di salah satu lembah di Al-Aqiq. Sesudah itu ia datang menemui RasMuhammad dan berkata,"Wahai Muhammad, engkau tawan putriku dan ini sebagai tebusannya." Muhammad berkata,"Lalu mana dua unta yang engkau sembunyikan di salah satu lembah di Al-Aqiq?" Al Harits bin Abu Dhirar berkata,"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Demi Allah, tidak ada yang melihat kedua unta tersebut kecuali Allah." Maka Al-Harits masuk Islam yang diikuti dua anaknya dan sejumlah orang dari kaumnya. Kemudian dia menyuruh seseorang untuk mengambil dua unta yang dia sembunyikan, yang kemudian dibawa ke tempat dia berada dan diserahkan kepada Muhammad, dan putrinya, Juwairiyah binti Al-Harits diserahkan kepadanya. Juwairiyah binti Al-Harits masuk Islam dan keislamannya sangat baik. Lalu Muhammad melamar kepada ayahnya kemudian ayahnya menikahkan ia dengan Juwairiyah dengan mahar empat ratus dirham.[1]

Pranala luar

Referensi

  1. ^ a b c d Hisyam, Ibnu (205). Sirah Nabawiyah. Jakarta : Penerbit Qisthi Press. ISBN 978-979-1303-91-0
  2. ^ Watt, W. Montgomery (1956). Muhammad at Medina. Oxford At The Claredon Press. hlm. 341.
  3. ^ J. M. B. Jones (1957). "The Chronology of the "Mag̱ẖāzī"-- A Textual Survey". Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London. 19 (2): 251 – via JSTOR.
  4. ^ Muhammad at Medina. Oxford University Press. 1956. hlm. 35. ISBN 978-0-19-577307-1. ; (free online)
  5. ^ Al Tabari, Michael Fishbein (translator) (1997), Volume 8, Victory of Islam, State University of New York Press, hlm. 56, ISBN 978-0-7914-3150-4
  6. ^ Sunan Abu Dawud, Book 29, Number 3920
  7. ^ Mubarakfuri, Shafiyurrahman al- (2020-12-01). Sirah Nabawiyah. Gema Insani. hlm. 217. ISBN 978-602-250-850-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement