Penyerbuan Yogyakarta (1757)
Penyerbuan Yogyakarta tahun 1757 merupakan penyerbuan terhadap Benteng Vredeburg yang ada di Yogyakarta oleh Pangeran Sambernyawa untuk melawan pengaruh VOC di Yogyakarta. Hasil dari pertempuran tersebut mengakibatkan kerugian besar terhadap VOC dan Yogyakarta.
| Penyerbuan Yogyakarta (1757) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Perang Takhta Jawa Ketiga | |||||||||
| |||||||||
| Pihak terlibat | |||||||||
|
| Pasukan pemberontak | ||||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||||
|
|
Pangeran Sambernyawa Kudanawarsa[2] | ||||||||
| Korban | |||||||||
| 5 tewas[3] | Tidak diketahui | ||||||||
Saat itu Pangeran Sambernyawa sedang kabur dari kejaran pasukan VOC, namun saat kabur Pangeran Sambernyawa mendengar kabar bahwa pasukan VOC mengejar Pangeran Sambernyawa sambil membakar dan menjarah desa yang ada disana.[4][3]
Pangeran Sambernyawa marah atas perilaku VOC yang demikian, akhirnya Pangeran Sambernyawa dengan pasukannya yang sedikit memerintahkan pasukannya untuk menyerbu pasukan VOC yang berada di Yogyakarta.[4] Namun patihnya yang bernama Kudanawarsa khawatir dengan pasukannya yang sedikit, tetapi Pangeran Sambernyawa meyakinkannya agar mengikuti perintahnya.[2][3]
Akhirnya Pangeran Sambernyawa berbalik arah yang sebelumnya kabur menjadi menyerbu, dan memancung kepala patih Yogyakarta yakni Joyosudirgo,[4] lalu Pangeran Sambernyawa membawa pasukan ke Keraton Yogyakarta secara diam-diam, dan terjadilah penyerbuan terhadap pasukan VOC yang berada di Benteng Vredeburg.[2]
Pasukan VOC terkejut atas serbuan tersebut yang mengakibatkan 5 pasukan VOC tewas, sedangkan ratusan lainnya melarikan diri ke Keraton Yogyakarta. Setelah menduduki Benteng Vredeburg, pasukan Sambernyawa menyerang Keraton Yogyakarta. Pertempuran terjadi seharian penuh, dan Pangeran Sambernyawa menarik kembali pasukannya pada saat matahari terbenam.[4][2][3]
Serbuan Pangeran Sambernyawa terhadap Keraton Yogyakarta membuat marah Hamengkubuwana I dan Nicolaas Hartingh. Hamengkubuwana I akan memberikan 500 real dan jabatan Bupati bagi siapa saja yang dapat menangkap Pangeran Sambernyawa. Sedangkan VOC akan memberikan 1,000 real bagi siapapun yang dapat membunuh Pangeran Sambernyawa.[2][3][5]
Namun tidak ada yang berhasil,[1] oleh karena itu VOC mendesak Sunan Surakarta yakni Pakubuwana III agar dapat membujuk Pangeran Sambernyawa untuk berdamai.
Atas perintah VOC, Pakubuwana III mengirimkan utusannya yang masih saudara Pangeran Sambernyawa untuk mengajak Pangeran Sambernyawa agar berdamai di Keraton Surakarta. Dikarenakan semakin sedikit dan melemahnya pasukan Pangeran Sambernyawa, akhirnya Sambernyawa setuju untuk menyatakan berdamai. Namun Pangeran Sambernyawa meminta agar perdamaiannya tanpa melibatkan VOC.[4][3] Pangeran Sambernyawa bersama 150 pengawalnya datang ke Keraton Surakarta untuk berdamai, tetapi agar tidak tertipu oleh Pakubuwana III, Pangeran Sambernyawa mengirim utusannya terlebih dahulu yang bernama Mangkudiningrat & Pringgalaya untuk bertemu dengan Pakubuwana III di Keraton, setelah Pangeran Sambernyawa yakin itu bukan tipu daya, akhirnya Pangeran Sambernyawa setuju dengan tawaran tersebut.[2][3] Dan disanalah lahir "Perjanjian Salatiga".[1][5]
Lihat lainnya
Referensi
- ^ a b c Raditya, Iswara N (22 Desember 2017). "Ramai-Ramai mengeroyok Pangeran Sambernyawa". tirto.id. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
- ^ a b c d e f Cahyono, Tri Wahyu (3 Mei 2024). "Kisah Heroik di Kabupaten Karanganyar: Benteng di Yogyakarta Diacak-acak Pasukan Pangeran Sambernyawa Membuat Belanda Mengubah Sikap". radarsolo.jawapos.com. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
- ^ a b c d e f g Nurcholis (7 Februari 2015). "Legenda Keberanian Pangeran Sambernyawa". daerah.sindonews.com. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
- ^ a b c d e Asyhad, M. Habib (4 Mei 2023). "3 Pertempuran Dahsyat Diprakarsai Sambernyawa Pangeran Mataram Islam Paling Berani, Termasuk Lawan Mertua Sendiri". intisari.grid.id. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
- ^ a b Prayoga, Yudi (15 Oktober 2022). "Strategi Perang Gerilya Pangeran Sambernyowo". lampung.nu.or.id. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


