Penggambaran budaya harimau

Minhwa (lukisan rakyat Korea)

Harimau memiliki makna simbolis yang penting dalam berbagai budaya. Hewan ini dianggap sebagai salah satu megafauna karismatik dan digunakan sebagai wajah kampanye konservasi di seluruh dunia. Dalam sebuah jajak pendapat daring tahun 2004 yang dilakukan oleh saluran televisi kabel Animal Planet, yang melibatkan lebih dari 50.000 penonton dari 73 negara, harimau terpilih sebagai hewan favorit dunia dengan 21% suara, mengalahkan anjing dengan selisih tipis.[1]

Mitologi, agama, dan cerita rakyat

Dalam mitologi Tiongkok dan budaya Tionghoa, harimau adalah salah satu dari 12 hewan dalam zodiak Tionghoa. Dalam seni Tiongkok, harimau digambarkan sebagai simbol bumi dan saingan setara bagi naga Tiongkok – keduanya masing-masing mewakili materi dan roh. Seni bela diri Tiongkok Selatan, Hung Ga, didasarkan pada gerakan harimau dan bangau. Di Tiongkok Kekaisaran, harimau merupakan personifikasi perang dan sering kali mewakili Jenderal angkatan darat tertinggi,[2] sementara kaisar dan permaisuri masing-masing diwakili oleh naga dan feniks. Macan Putih (Hanzi: 白虎; Pinyin: Bái Hǔ) adalah salah satu dari Empat Simbol rasi bintang Tiongkok. Kadang-kadang ia disebut Macan Putih dari Barat (Hanzi: 西方白虎), dan mewakili arah barat serta musim gugur.[2]

Ekor harimau muncul dalam cerita-cerita dari berbagai negara termasuk Tiongkok dan Korea, yang secara umum menyatakan bahwa memegang ekor harimau adalah tindakan yang tidak bijaksana.[3][4] Dalam mitologi Korea dan budaya Korea, harimau dianggap sebagai pelindung yang mengusir roh jahat dan makhluk suci yang membawa keberuntungan – simbol keberanian dan kekuasaan mutlak. Bagi orang-orang yang tinggal di dalam dan sekitar hutan Korea, harimau dianggap sebagai simbol Roh Gunung atau Raja dari hewan-hewan gunung.[butuh rujukan] Seseorang yang dibunuh oleh harimau akan berubah menjadi hantu pendendam yang disebut "Changgwi" (Hangul창귀), dan harus mencari korban berikutnya untuk bertukar nasib agar dapat mati dengan tenang.[5]

Dalam Buddhisme, harimau adalah salah satu dari Tiga Makhluk Tak Berakal, yang melambangkan kemarahan, sedangkan monyet mewakili keserakahan dan rusa melambangkan kerinduan cinta.[2] Bangsa Tungusik menganggap harimau siberia sebagai mahluk yang mendekati dewa dan sering menyebutnya sebagai "Kakek" atau "Lelaki Tua". Suku Udege dan Nanai menyebutnya "Amba". Bangsa Manchu menganggap harimau siberia sebagai "Hu Lin", sang raja.[6] Dalam Hinduisme, dewa Siwa mengenakan dan duduk di atas kulit harimau.[7] Dewi pejuang berlengan sepuluh, Durga, menunggangi harimau betina (atau singa betina) Damon ke medan perang. Di India selatan, dewa Ayyappan dikaitkan dengan seekor harimau.[8] Dingu-Aneni adalah dewa di India Timur Laut yang juga dikaitkan dengan harimau.[9]

Patung kayu Padmasambhava dalam manifestasinya sebagai Guru Dorje Drolo yang menunggangi harimau

Di Bhutan, harimau dipuja sebagai salah satu dari empat hewan perkasa yang disebut "empat kemuliaan", dan seekor harimau betina diyakini telah membawa Padmasambhava dari Singye Dzong ke biara Paro Taktsang pada akhir abad ke-8.[10] Dalam dunia Yunani-Romawi, harimau digambarkan ditunggangi oleh dewa Dionisos.[11] Orang Warli dari India barat menyembah dewa menyerupai harimau bernama Waghoba. Suku Warli percaya bahwa kuil dan pengurbanan kepada dewa tersebut akan membawa koeksistensi yang lebih baik dengan kucing besar setempat, baik harimau maupun macan tutul, dan bahwa Waghoba akan melindungi mereka saat memasuki hutan.[12]

Harimau jadian menggantikan manusia serigala dalam cerita rakyat pengubah wujud di Asia;[13] di India mereka merupakan penyihir jahat, sementara di Indonesia dan Malaysia mereka cenderung lebih ramah.[14] Dalam kepercayaan rakyat Taiwan, Bibi Harimau mengisahkan cerita tentang seekor harimau yang berubah menjadi wanita tua, menculik anak-anak di malam hari dan melahap mereka untuk memuaskan nafsunya.[15]

Referensi

  1. ^ "Endangered tiger earns its stripes as the world's most popular beast". The Independent. December 6, 2004. Diarsipkan dari asli tanggal January 20, 2008. Diakses tanggal March 7, 2009.
  2. ^ a b c Cooper, J. C. (1992). Symbolic and Mythological Animals. London: Aquarian Press. hlm. 161–162. ISBN 978-1-85538-118-6.
  3. ^ "Tiger's Tail". Cultural China. Diarsipkan dari asli tanggal 29 March 2014. Diakses tanggal 29 March 2014.
  4. ^ Curry, L. S. & Chan-Eun, P. (1999). A Tiger by the tail and other Stories from the heart of Korea. Englewood: Libraries Unlimited. ISBN 9780313069345.
  5. ^ Bella Kim (2021-09-28). "'CHANGGWI' Review: What Ghosts Think of Us". The Harvard Crimson.
  6. ^ Matthiessen, P.; Hornocker, M. (2008). Tigers in the Snow (Edisi reprint). Paw Prints. ISBN 9781435296152.
  7. ^ Sivkishen (2014). Kingdom of Shiva. New Delhi: Diamond Pocket Books Pvt Ltd. hlm. 301.
  8. ^ Balambal, V. (1997). 19. Religion – Identity – Human Values – Indian Context. Bioethics in India: Proceedings of the International Bioethics Workshop in Madras: Biomanagement of Biogeoresources, 16–19 January 1997. Eubios Ethics Institute. Diakses tanggal 8 October 2007.
  9. ^ Nanditha, K. (2010). Sacred Animals of India. Penguin Books India. ISBN 978-8184751826. Diakses tanggal 5 August 2022.
  10. ^ Tandin, T.; Penjor, U.; Tempa, T.; Dhendup, P.; Dorji, S.; Wangdi, S. & Moktan, V. (2018). Tiger Action Plan for Bhutan (2018-2023): A landscape approach to tiger conservation (Report). Thimphu, Bhutan: Nature Conservation Division, Department of Forests and Park Services, Ministry of Agriculture and Forests. doi:10.13140/RG.2.2.14890.70089.
  11. ^ Dunbabin, K. M. D. (1999). Mosaics of the Greek and Roman World. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 32, 44. ISBN 978-0-521-00230-1.
  12. ^ Nair, R.; Dhee; Patli, O.; Surve, N.; Andheria, A.; Linnell, J. D. C. & Athreya, V. (2021). "Sharing spaces and entanglements with big cats: the Warli and their Waghoba in Maharashtra, India". Frontiers in Conservation Science. 2. Bibcode:2021FrCS....2.3356N. doi:10.3389/fcosc.2021.683356. hdl:11250/2990288.
  13. ^ Summers, M. (1933). The Werewolf in Lore and Legend (Edisi 2012). Mineola: Dover Publications. hlm. 21. ISBN 978-0-517-18093-8.
  14. ^ Newman, P. (2012). Tracking the Weretiger: Supernatural Man-Eaters of India, China and Southeast Asia. McFarland. hlm. 96–102. ISBN 978-0-7864-7218-5.
  15. ^ Hulick, J. (2009). "Review of Auntie Tiger". Bulletin of the Center for Children's Books. 62 (6): 267. doi:10.1353/bcc.0.0662. S2CID 144937417.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement