Pengepungan Alexandria
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Januari 2026) |
| Pengepungan Alexandria | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Sisa Benteng Alexandria | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
| Pasukan Muslim | Pasukan Bizantium | ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
Amr bin Ash Ubadah bin Shamit |
Cyrus Theodore Menas | ||||||
| Kekuatan | |||||||
| 22.000 | >50.000 | ||||||
Pasukan Kekhalifahan Rasyidun dipimpin Amr bin Ash berhasil merebut pelabuhan utama Mediterania, Alexandria (Iskandariah), dari Kekaisaran Romawi Timur pada pertengahan abad ke-7 Masehi setelah pengepungan selama 14 bulan. Alexandria sebelumnya adalah ibu kota provinsi Bizantium di Mesir. Hal ini mengakhiri kendali maritim Romawi Timur dan dominasi ekonomi di Mediterania Timur dan dengan demikian terus menggeser kekuatan geopolitik lebih jauh ke arah Kekhalifahan Rashidun.[1][2]
Para komandan Bizantium, yang tahu betul bahwa target Muslim berikutnya adalah Alexandria, berusaha mengusir Muslim melalui serangan mendadak dari benteng atau, paling tidak, menguras habis tenaga mereka dan mengikis moral mereka dalam kampanye yang melelahkan. Pada bulan Februari 641, 'Amr berangkat ke Alexandria dari keberhasilan Pengepungan Babilonia bersama pasukannya, berhadapan dengan resimen-resimen pertahanan di sepanjang rute. Pada hari ketiga perjalanan mereka, barisan terdepan Muslim berhadapan dengan satu detasemen Bizantium di Tarnut (Tornuth) di tepi barat Sungai Nil. Bizantium gagal menimbulkan kerugian besar tetapi berhasil menunda kemajuan pasukan selama sehari penuh.[2] Pasukan muslim juga mendapatkan dukungan dari penduduk Qibthi Mesir.
Para komandan Muslim memutuskan untuk menghentikan pasukan utama di Tarnut dan mengirim barisan terdepan kavaleri ke depan untuk membersihkan jalan. Muslim tiba di Kebrias daerah Abadja, tempat Domentianus dan tentaranya berada. Ia dengan pengecut melarikan diri dari kota itu dengan sebuah perahu kecil, meninggalkan tentaranya menghadapi nasib buruk. Mereka mencoba mengikutinya, tetapi dalam kepanikan para tukang perahu melarikan diri ke provinsi asal mereka, meninggalkan banyak tentara terdampar. Ketika orang-orang Arab tiba, para prajurit melemparkan senjata mereka ke dalam air di hadapan musuh-musuh mereka, berharap untuk diselamatkan, tetapi sebaliknya mereka semua dibantai. Menurut John dari Nikiu, satu-satunya orang yang selamat untuk menceritakan kisah itu adalah seorang "prajurit gagah berani" bernama Zacharias. Theodore meminta bantuan ke Konstantinopel tetapi tidak mendapatkan respon yang berarti dimana Heraklius telah wafat beberapa bulan sebelumnya. Pasukan muslim terdepan dipimpin Abdullah bin Amr bin Ash yang sempat mendapatkan luka dalam pertempuran menuju Alexandria ini.[2]
Ketika Theodore kembali ke Alexandria, ia memecat Domentianus sebagai komandan militer garnisun dan mengasingkannya dari kota, menggantikannya dengan Menas, seorang Koptik non-Khalsedon dan populer di kalangan tentara. Menas menaruh dendam terhadap saudara Domentianus, Eudocianus, atas penyiksaan Eudocianus terhadap tahanan Koptik di Babilonia. Theodore marah kepada Domentianus atas tindakan pengecutnya melarikan diri dari Nikiu dan memihak Menas dalam pertengkaran mereka. Meskipun bersaudara ipar, Domentianus juga tidak menghormati Cyrus dan menunjukkan kebencian yang tidak masuk akal kepadanya. Ia mengajak kaum Biru di Alexandria untuk bergabung dengannya, yang ditanggapi Menas dengan mengajak kaum Hijau.
Philiades, prefek dari provinsi Faiyum dan saudara Patriark George I dari Alexandria, juga datang ke Alexandria. Philiades adalah teman Menas, tetapi tidak seperti Menas, ia korup dan tidak populer, sehingga ia hampir dihukum mati. Karena kedatangan Theodore dan Cyrus di Mesir jatuh pada tanggal 14 September 641, yaitu Hari Raya Salib, maka diadakanlah prosesi besar dari tempat pendaratan mereka ke Alexandria. Cyrus kemudian memberikan khotbah tentang penemuan Salib Sejati, mungkin untuk mendorong mereka agar melawan pengepungan atas nama Salib, meskipun ia sendiri telah memutuskan untuk meninggalkan Salib dan menyerah kepada kaum Muslim.[3]
Gabbon (IX/271) mengatakan, "Jiwa-jiwa penduduk Mesir telah mendidih untuk membalas penindasan yang dilakukan oleh orang-orang zalim ini (pasukan Romawi) dan mengusir mereka dari negeri Mesir. Makanya, penduduk Mesir terus menerus berusaha untuk memberikan bantuan kepada Amr, baik bantuan yang sifatnya materi maupun berbentuk pasukan militer. Komandan Otikhus sendiri mengakui keberanian bangsa Arab dalam berperang pada saat itu, yang tak ubahnya seperti keberanian singa (kata-kata ini dikutip dalam Tarikh lbnu 'Abdil-Hakam). Mereka sanggup membalas serangan Romawi berkali-kali dan membalas serangan itu dengan serangan yang setimpal. Mereka bisa menyerbu dinding kota beserta menara-menaranya. Dalam seluruh serangan ini, kita akan melihat bagaimana pedang dan bendera Amr akan terus bersinar di hadapan kaum muslimin."
Sampai suatu hari perang antara kedua belah pihak sudah berada di puncaknya yang berujung dengan keberhasikan kaum muslimin menerobos benteng. Mereka menyerbu Romawi di sana. Namun, orang-orang Romawi berhasil memberikan serangan telak hingga mampu mengusir pasukan kaum muslimin dari benteng kecuali 4 orang saja, yang di antaranya adalah Amr bin Ash dan Maslamah bin Makhlad. Keempat orang ini pun berlindung ke ruangan bawah tanah yang berada di tengah benteng Romawi dan masuk ke sana (mengurung diri di sana). Romawi pun menyuruh seorang pasukan mereka untuk mengajak mereka berbicara menggunak.an bahasa Arab. Pasukan itu mengatakan, "Kalian sebenarnya menjadi tawanan di tangan kami, maka menyerahlah dan jangan kalian membinasakan diri kalian sendiri." Namun, keempat pejuang muslim itu menolaknya.
Lalu pasukan itu berujar lagi, "Di tangan sahabat-sahabat kalian di luar ada beberapa orang kami yang kalian tawan, kami akan membuat perjanjian dengan kalian. Kami akan tebus orang-orang kami itu dengan kalian dan kami tidak akan membunuh kalian." Lagi-lagi mereka menolak. Ketika pasukan Romawi itu melihat penolakan tersebut, ia berkata kepada mereka, "Apa kalian mau yang lebih adil lagi? Jika teman kami menang duel dengan salah seorang teman dari kalian, kal ian harus rela menjadi tawanan kami dan menyerahkan diri kalian kepada kami. Namun, jika ternyata teman kalian yang menang duel dengan teman kami, kami akan lepaskan kal ian kembali ke teman-teman kalian lagi."
Mereka pun setuju dengan ketentuan itu. Mereka lalu membuat perjanjian. Keempat pejuang itu pun diajak ke ru.ang terbuka. Seorang tentara Romawi yang terkenal dengan keganasan dan kekerasannya muncul.
Saat itu Amr ingin maju menampilkan dirinya. Namun, Maslamah mencegahnya dengan berkata, "Apa-apaan ini? Engkau akan melakukan dua kali kesalahan. Engkau telah berpisah dari pasukanmu, padahal engkau adalah pemimpin mereka. Engkaulah yang bertanggung jawab atas mereka, sementara hati mereka tertaut. kepadamu, padahal mereka tidak mengetahui apa yang menimpamu. Kemudian tiba-tiba engkau ingin muncul dan tampil untuk berduel? Jika engkau terbunuh, hal itu akan menjadi musibah bagi pasukanmu. Posisimu ini, biar aku yang menggantikanmu, lnsya Allah."
Amr menanggapinya, "Baiklah, mudah-mudahan Allah memberi jalan keluar melaluimu." Maslamah akhirnya tampil untuk duel dengan si Romawi itu. Maslamah berhasil membunuh si Romawi tersebut. Orang-orang Romawi ternyata menepati janji mereka, keempat pejuang muslim itu keluar. Pasukan Romawi itu tidak mengetahui Amr ada di antara keempat pejuang itu, hingga ada yang menyampaikan informasi tersebut kepada mereka. Mereka pun sangat menyesal atas keteledoran yang mereka lakukan sendiri."[2]
Khalifah Umar bin Khathab merasa ragu karena lamanya pengepungan Alexandria sehingga memerintahkan Ubadah bin Shamit untuk maju bertempur bersama Amru sehingga berhasil menaklukkan Alexandria.[1]
Cyrus kemudian pergi ke Babilonia untuk berunding dengan 'Amr, dan menyetujui perjanjian berikut:
- Pembayaran upeti tetap oleh semua pihak yang terikat perjanjian.
- Gencatan senjata sekitar sebelas bulan, yang akan berakhir pada hari pertama bulan Koptik Paopi, yaitu 28 September 642.
- Selama gencatan senjata, pasukan Arab harus mempertahankan posisi mereka, tetapi tetap menjaga jarak dan tidak melakukan operasi militer terhadap Aleksandria; pasukan Romawi harus menghentikan semua tindakan permusuhan.
- Garnisun Aleksandria dan semua pasukan di sana harus berangkat melalui laut, membawa semua harta benda dan harta benda mereka bersama mereka: tetapi setiap prajurit Romawi yang meninggalkan Mesir melalui darat harus membayar upeti bulanan dalam perjalanan mereka.
- Tidak ada pasukan Romawi yang boleh kembali atau mencoba merebut kembali Mesir.
- Umat Muslim harus menghentikan semua perampasan gereja, dan tidak boleh ikut campur dengan cara apa pun terhadap umat Kristen.
- Umat Yahudi harus dibiarkan tetap tinggal di Aleksandria.
- Sandera harus diberikan oleh orang Romawi, yaitu. 150 militer dan 50 warga sipil, untuk pelaksanaan perjanjian yang semestinya.[2]

Ia kemudian kembali ke Alexandria dan melaporkan ketentuan perjanjian yang memalukan ini kepada Theodore dan Constantine, meyakinkan mereka bahwa perjanjian itu perlu dan menyuruh mereka untuk melaporkannya kepada Kaisar Heraclonas, yang meratifikasinya dalam apa yang mungkin merupakan tindakan terakhirnya sebagai Kaisar, karena ia digulingkan pada bulan November. Penduduk setempat tidak diberi tahu tentang hal itu sampai pasukan Arab mendekati Alexandria untuk menerima upeti, dan para jenderal Bizantium memberi tahu orang-orang untuk tidak melawan. Menyadari apa yang telah terjadi, massa yang marah mencoba melempari Cyrus dengan batu, tetapi ia berkata kepada mereka, "Saya membuat perjanjian ini untuk menyelamatkan Anda dan anak-anak Anda" dan menangis di hadapan mereka, yang menenangkan kerusuhan. Angsuran upeti pertama dibayarkan pada tanggal 10 Desember 641, yang menyegel penyerahan Alexandria.
Setelah pengepungan berakhir, Cyrus berunding dengan 'Amr untuk mengizinkan orang Mesir yang berlindung di Alexandria selama perang untuk kembali ke tanah mereka. Amr mengumpulkan jizyah sebanyak 300.000 dinar (sekitar 900 miliar rupiah),[2] Amr lalu mulai membangun ibu kota barunya, Fustat, tepat di luar Babilonia. 'Amr dan gubernur Muslim ini memaksa orang Kristen untuk bekerja untuk mereka, dan menyuruh mereka menggali kanal dari Nil ke Laut Merah.
Cyrus mengalami depresi dan meninggal pada Kamis Putih, 21 Maret 642. Theodore diangkat menjadi gubernur Mesir setelah kematian Cyrus, dan mengatur penarikan pasukan Bizantium dari Alexandria. Pada 17 September 642, Theodore meninggalkan Mesir dan berlayar ke Siprus bersama pasukan Romawi terakhir. Kemudian pada 29 September, gencatan senjata selama 11 bulan berakhir, dan 'Amr berbaris di depan pasukan Arabnya menuju Alexandria, yang menandai berakhirnya Mesir Romawi setelah 671 tahun.[1][2]
Referensi
- ^ a b c Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
- ^ a b c d e f g Hasan, Dr. Hasan Ibrahim (2018). Amr bin Ash: Panglima Pembebas Mesir. Solo: Tinta Medina. ISBN 978-623-7011-22-4
- ^ Butler, Albert J. (1903). The Arab Conquest of Egypt and the Last Thirty Years under Roman Dominion (PDF). Oxford University Press. ISBN 1724498029
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



