Pendidikan di Keresidenan Banten

Pendidikan di Keresidenan Banten adalah penyelenggaraan pendidikan yang dimulai di Keresidenan Banten sejak berlakunya politik etis di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 Masehi.[1][2] Sejak awal abad ke-20 M, lembaga pendidikan berupa sekolah didirikan di wilayah Kesultanan Banten untuk menerima peserta didik dari kalangan orang Belanda maupun pribumi.[2] Di Keresidenan Banten terdapat lembaga pendidikan Islam yaitu pesantren yang pembelajarannya dikelola oleh para ulama setempat.[3]

Penyelenggaraan

Pada akhir abad ke-19 M, Kerajaan Belanda memberlakukan politik etis di wilayah jajahannya termasuk dalam bidang pendidikan. Sejak pemberlakuan politik etis, Pemerintah Hindia Belanda mulai menyelenggarakan pendidikan di Hindia Belanda. Tujuan penyelenggaraan pendidikan di Hindia Belanda adalah meningkatkan mutu sumber daya manusia di kalangan pribumi dan mengurangi jumlah penduduk yang buta huruf. Penyelenggaraan pendidikan di Hindia Belanda diawali dengan pendirian berbagai macam jenis sekolah.[1] Pembangunan sekolah dilakukan terutama pada ibu kota keresidenan, ibu kota afdeling, dan ibu kota onderafdeling yang ada di wilayah Hindia Belanda, termasuk di wilayah Keresidenan Banten.[1][2]

Lembaga pendidikan dan peserta didik

Pada awal abad ke-20 M, lembaga pendidikan berupa sekolah di Keresidenan Banten awalnya didirikan hanya untuk anak-anak dari orang Belanda. Para peserta didik di sekolah-sekolah Belanda merupakan anak dari para pegawai pemerintahan Hindia Belanda maupun para pekerja di pabrik-pabrik milik Belanda yang semuanya adalah orang Belanda. Karena itu, bahasa pembelajaran di sekolah-sekolah Belanda dalam wilayah Keresidenan Banten menggunakan bahasa Belanda. Sementara itu, penduduk pribumi di Keresidenan Banten mulai bersekolah di sekolah rakyat yang didirikan sejak tahun 1907. Selain itu, pribumi d wilayah Keresidenan Banten juga dapat bersekolah di Sekolah Bumiputera yang hanya didirikan di Kota Serang, Kota Cilegon, Pandeglang dan Rangkasbitung.[2]

Selain sekolah rakyat, di wilayah Keresidenan Banten terdapat lembaga pendidikan berbentuk pesantren yang khusus mengadakan pendidikan Islam. Para peserta didik di pesantren umumnya merupakan lulusan dari sekolah rakyat di wilayah Keresidenan Banten yang memilih untuk melanjutkan pendidikan tentang agama Islam. Pendidikan di pesantren-pesantren yang terdapat di wilayah Keresidenan Banten dikelola pembelajarannya oleh para ulama setempat.[3]

Referensi

  1. ^ a b c Idi, Abdullah (September 2019). Safarina (ed.). Politik Etnisitas Hindia-Belanda: Dilema dalam Pengelolaan Keberagaman Etnis di Indonesia (PDF). Jakarta: Prenadamedia Group. hlm. 68. ISBN 978-623-218-252-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b c d Usmaedi. Sujana, Dadan (ed.). Sekolah Pangreh Praja di Banten (OSVIA, 1910-1927). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten & Banten Heritage. hlm. 3–4. ISBN 978-602-6966-01-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b Suhaemi, M. Hamdan (Juni 2020). KH. Syanwani Banten Perjalanan Hidup Ulama Pejuang. Sleman: Penerbit Deepublish. hlm. 5. ISBN 978-623-02-1177-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement