Pencet Sana Pencet Sini

Pencet Sana Pencet Sini
SutradaraArizal
ProduserRaam Soraya
PemeranWarkop DKI (Dono, Kasino, Indro)
Diding Boneng
Malfin Shayna
S. Parya
Sally Marcellina
Taffana Dewi
Pak Tile
Tisna S. Brata
Tjut Djalil
Yongky D.P
Perusahaan
produksi
DistributorSoraya Intercine Films
Tanggal rilis
2 Maret 1995
Durasi80-menit.
NegaraIndonesia
BahasaBahasa Indonesia

Pencet Sana Pencet Sini adalah film drama komedi Indonesia yang dirilis dan diproduksi pada tanggal 2 Maret 1995 dengan disutradarai oleh Arizal dan dibintangi antara lain oleh Warkop DKI, Sally Marcellina, dan Taffana Dewi. Film ini adalah film terakhir Warkop DKI.

Sinopsis

Dono (Wahjoe Sardono), Indro (Indrodjojo Kusumo), dan Kasino (Kasino Hadiwibowo) memiliki keinginan untuk memiliki sebuah mobil, namun keterbatasan finansial membuat keinginan tersebut sulit terwujud. Mereka kemudian memanfaatkan kedatangan paman Dono, Dewo Sastro (Tisna S. Brata), dengan harapan dapat memperoleh mobil darinya. Namun, Dewo Sastro dikenal sangat pelit sehingga permintaan tersebut ditolak.

Tidak kehabisan akal, Dono, Kasino, dan Indro menyusun rencana sandiwara penculikan Dono dengan bantuan teman-teman mereka. Rencana tersebut melibatkan seorang penjahat bernama Mata Satu (S. Parya), yang merupakan kenalan Indro. Mata Satu diminta berpura-pura menculik Dono dan menuntut uang tebusan dari Dewo Sastro dalam jumlah yang cukup untuk membeli mobil. Namun, Mata Satu justru meminta tebusan jauh lebih besar dari kesepakatan awal dan benar-benar menculik Dono, bahkan mengancam akan membunuhnya jika tuntutannya tidak dipenuhi. Dewo Sastro tetap menolak membayar tebusan, sehingga Kasino, Indro, dan para teman wanita mereka berusaha menyelamatkan Dono. Pada akhirnya, Mata Satu berhasil diringkus. Dewo Sastro kemudian memberikan sebuah mobil mewah kepada Dono sebagai hadiah atas keberhasilan tersebut.[1]

Dalam perjalanan merayakan keberhasilan dengan menggunakan mobil Volvo 740 yang dihadiahkan, Dono, Kasino, dan Indro bersama rekan-rekan mereka dihadang oleh dua orang yang menyamar sebagai polisi, yaitu Pak Tile dan Diding Boneng. Belakangan diketahui bahwa kedua orang tersebut merupakan orang dengan gangguan jiwa. Ketiganya kemudian dibawa ke rumah sakit jiwa, sebelum akhirnya berhasil dibebaskan setelah pihak rumah sakit menangkap para penyamar tersebut dan memastikan identitas Trio Warkop DKI yang sebenarnya.

Film ini ditutup dengan nuansa komedi khas Warkop yang menegaskan pesan hiburan ringan, sebagaimana slogan penutupnya, "Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang."

Pemeran

Referensi

  1. ^ Pencet Sana Pencet Sini[pranala nonaktif permanen], diakses pada 13 September 2009

Pranala luar


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement