Pencemaran Beracun Sungai Kim-Kim 2019
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Pencemaran Beracun Sungai Kim-Kim 2019 (Malaysia) | |
| Tanggal | 7 Maret 2019 |
|---|---|
| Lokasi | Sungai Kim-Kim, Pasir Gudang, Johor, Malaysia |
| Koordinat | 1°27′52″N 103°56′21″E / 1.464548°N 103.939289°E |
| Penyebab | Pembuangan 2,43 ton zat kimia dari kapal tanker minyak |
| Cedera | 6.000 orang terdampak; 2.775 korban menerima perawatan segera, 8 orang dirawat di instalasi rawat intensif |
| Tersangka | Dua pemilik pabrik dan satu pekerja berusia sekitar 40 hingga 50 tahun [1] |
Pencemaran Beracun Sungai Kim-Kim 2019 adalah insiden pencemaran air yang terjadi pada 07 Maret 2019 yang disebabkan oleh pembuangan limbah kimia ilegal di Sungai Kim Kim di Pasir Gudang, Johor, Malaysia. Pembuangan ilegal tersebut melepaskan asap beracun, yang mengakibatkan 2.700 jatuh sakit. Kejadian tersebut terdeteksi dini ketika 35 siswa sekolah dilaporkan masuk rumah sakit karena menghirup gas beracun. Sebagian besar korban kemudian adalah siswa sekolah dan atas tragedi ini, 111 sekolah yang terletak di dekat sungai kemudian ditutup.[2]
Latar belakang
Pada 7 Maret 2019, sejumlah siswa dan pekerja kantin dari dua sekolah di sekitar Sungai Kim-Kim mulai jatuh sakit serta mengeluhkan kesulitan bernapas.[3] Total korban pada hari itu mencapai 35 orang dan mengakibatkan dua sekolah yang terletak dekat dengan awal tragedi tersebut ditutup. Jumlah pasien yang dirawat inap di rumah sakit karena paparan gas beracun naik menjadi 76 orang pada keesokan harinya, sementara hingga 9 Maret 2019, terdapat lima laporan polisi terkait insiden tersebut sehingga membuat pihak kepolisian mulai melakukan penyelidikan.[4]
Pada tanggal 11 Maret, gelombang keracunan udara kedua terjadi, menyebabkan 106 hingga 207 korban tambahan dirawat di rumah sakit, yang kemudian melonjak menjadi lebih dari 1.000 orang, dengan delapan di antaranya menjalani perawatan di instalasi rawat intensif. Penyebaran gas beracun semakin parah karena cuaca panas yang dipadukan dengan angin kencang, sehingga semakin banyak orang jatuh sakit.[5] Pada 20 Juni, sekitar tiga bulan setelah polusi pertama kali terdeteksi, sejumlah siswa dari berbagai sekolah di kawasan Pasir Gudang mulai mengeluh mual, pusing, dan muntah, yang pada akhirnya memaksa penutupan sementara sekolah-sekolah di wilayah tersebut. Pihak berwenang kemudian menyatakan bahwa ini merupakan gelombang ketiga keracunan udara akibat pencemaran sungai yang belum sepenuhnya dibersihkan.[6] Pada Agustus 2019, warga Desa Sumur Acheh dekat Sungai Daing dan Sungai Kim-Kim mengeluh air sungai berubah hitam, berminyak, dan berbau busuk akibat polusi kimia. Seorang warga menyebut bahwa dulu sungai tersebut kaya ikan, kepiting, udang, serta menjadi tempat anak-anak berenang, tapi rusak total sejak polusi memburuk pada April.[7]
Investigasi
Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan oleh Departemen Lingkungan Hidup Johor, kejadian tersebut disebabkan oleh pencemaran yang terjadi pada 06 Maret 2019. Terdapat sebuah truk tangki sederhana melintasi jalan tanah di sekitar kawasan industri Pasir Gudang dan secara ilegal membuang 20 hingga 40 ton limbah kimia ke beberapa bagian dari Sungai Kim-Kim.[2]
Pada 25 Maret 2019, Pengadilan Johor Bahru mendakwa seorang sopir truk serta dua direktur perusahaan atas persekongkolan dalam pembuangan limbah terjadwal yang berupa minyak dan lumpur ke Sungai Kim-Kim di Pasir Gudang pada 7 Maret. Tindakan itu kemudian dinyatakan sebagai penyebab utama tragedi keracunan gas beracun yang menimbulkan banyak korban.[1] Namun, terdapat pula pendapat bahwa bencana tersebut lebih disebabkan karena berbagai faktor campuran seperti hasil limbah perumahan, area terbuka dan rekreasi, institusi dan fasilitas umum, industri, serta perusahaan lainnya.[8]
Referensi
- ^ a b Muhammad Nazarudin Latief (25 Maret 2019). "Tiga orang didakwa cemari sungai Kim Kim". Anadolu Ajansı. Diakses tanggal 01 November 2025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b Hether Chen (20 Maret 2019). "Pasir Gudang: How one quiet lorry sparked a toxic waste crisis". BBC News. Diakses tanggal 01 November 2025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Mohd Farhaan Shah; Venesa Devi (08 Maret 2019). "Dozens rushed to hospital due to toxic fumes". The Star. Diakses tanggal 01 November 2025.
- ^ Remar Nordin (9 Maret 2019). "79 health cases recorded in chemical dumping incident, clean-up in two days". The Star. Diakses tanggal 01 November 2025.
- ^ "Public apathy, illegal factories main causes of river pollution". Bernama. Daily Express. 21 Maret 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Agustus 2019. Diakses tanggal 01 November 2025.
- ^ Siti A'isyah Sukaimi (24 Juni 2019). "Authorities confirm: Latest Pasir Gudang pollution caused by Sg Kim Kim toxic waste". New Straits Times. Diakses tanggal 01 November 2025.
- ^ Mohamed Farid Noh (18 Agustus 2019). "Sungai Daing, Sungai Kopok pula berminyak dan berbuih" [Daing River, Kopok River is now oily and foamy] (dalam bahasa Malay). Berita Harian. Diakses tanggal 01 November 2025. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ Bian Shabri Putri Irwanto (09 Oktober 2023). "Tanggap Darurat Bahan Kimia di Sungai Kim-Kim Malaysia". Universitas Airlangga. Diakses tanggal 01 November 2025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


