Penangkapan ikan dengan sianida

Penangkapan ikan dengan sianida, yang dikenal sebagai cyanide fishing, merupakan metode pengumpulan ikan hidup dengan cara menyemprotkan larutan natrium sianida ke habitat laut untuk melumpuhkan sasaran agar mudah ditangkap. Teknik ini digunakan untuk memperoleh ikan hidup yang kemudian dijual sebagai ikan hias atau ikan konsumsi. Penggunaan sianida tersebut tidak hanya memengaruhi ikan yang ditangkap, tetapi juga organisme laut lainnya dan ekosistem terumbu karang di mana praktik ini dilakukan.[1][2][3]

Sejarah

Metode penangkapan ikan dengan sianida pertama kali dilaporkan muncul di wilayah Filipina pada tahun 1960-an sebagai respon terhadap permintaan internasional untuk ikan hias hidup.[4] Seiring waktu, teknik ini meluas ke negara-negara Asia Tenggara lainnya termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, serta wilayah Samudra Hindia seperti Maladewa. Sebagai contoh, laporan menyebut bahwa penggunaan sianida telah berlangsung sejak 1960-an di Filipina dan lebih dari satu juta kilogram sianida telah disemprotkan ke terumbu karang di kawasan tersebut.[5][6]

Tujuan Penangkapan

Metode ini awalnya digunakan untuk memenuhi pasar ikan hias laut, namun kemudian juga berkembang untuk menangkap ikan hidup besar untuk konsumsi restoran.[7] Beberapa spesies yang sering ditangkap melalui metode sianida meliputi ikan kerapu (grouper), wrasse, dan trout karang (coral trout) yang memiliki nilai tinggi di pasar.[8] Laporan menyebut bahwa dalam perdagangan ikan hidup di Asia Tenggara, sebagian besar ikan hidup yang diperdagangkan adalah untuk konsumsi restoran kelas atas.[6]

Nilai Ekonomi

Menurut laporan dari World Resources Institute (WRI), sekitar 20% dari ikan hidup yang diperdagangkan di pasar Filipina pada tahun 1996 ditangkap dengan sianida.[1][2] Laporan lain memperkirakan bahwa volume perdagangan ikan hidup konsumsi di Asia pada pertengahan 1990-an mencapai 20.000 hingga 25.000 ton metrik per tahun, dengan nilai ritel sekitar 1 miliar US dollar. Untuk perdagangan ikan hias, pada pertengahan 1980-an di Filipina lebih dari 80% ikan hias untuk ekspor dikumpulkan menggunakan sianida, di Indonesia pada pertengahan 1990-an diperkirakan sekitar 90% kapal yang membawa ikan hidup memiliki sianida di atas kapal.[9][10]

Dampak

Lingkungan dan ekologis

Penggunaan sianida dalam penangkapan ikan berdampak langsung terhadap fisiologi ikan yang tersentuh racun, serta menyebabkan kerusakan pada karang dan organisme lain yang hidup di terumbu karang. Paparan sianida dapat mengakibatkan kematian polip karang dengan mengganggu hubungan simbiotik antara polip dan alga zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan karang, yang esensial bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan karang.[11]

Selain itu, laporan WRI menunjukkan bahwa wilayah-wilayah terumbu karang yang tampak masih alami atau relatif bebas dari ancaman sedimentasi dan pembangunan pesisir sering menjadi sasaran praktik penangkapan ikan menggunakan sianida. Situasi ini meningkatkan tingkat kerusakan pada ekosistem terumbu karang yang sudah berada dalam kondisi terancam di kawasan Asia Tenggara. Di wilayah tersebut, hanya sekitar 1% terumbu karang yang dikategorikan berada pada risiko rendah, sedangkan sisanya menunjukkan kerentanan tinggi terhadap tekanan lingkungan dan aktivitas manusia.[12]

Rantai Pasok

Ikan yang ditangkap dengan sianida umumnya mengalami tingkat kematian lebih tinggi selama dan setelah penangkapan dibandingkan dengan metode yang lebih ramah lingkungan.[13] Sebuah uji laboratorium menunjukkan bahwa dari ikan ekspor yang diuji, 25% ikan hias dari Filipina menunjukkan bukti paparan sianida dan 44% ikan besar kategori ikan konsumsi hidup yang ditangkap dari terumbu karang (live reef food fish) menunjukkan bukti serupa.[14] Proses penanganan pasca-tangkap dan stres yang dialami ikan induksi sianida menyebabkan masa hidup yang lebih pendek ketika dipelihara di akuarium.[3][10]

Referensi

  1. ^ a b "How Dangerous Is It to Use Cyanide to Catch Fish?". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-01.
  2. ^ a b "Destructive Fishing is Widespread in Southeast Asia | World Resources Institute". www.wri.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-01.
  3. ^ a b "'Holy Grail' Test for Illegal Cyanide-Caught Aquarium Fish May Be Fatally Flawed". Animals (dalam bahasa Inggris). 2025-11-01. Diakses tanggal 2025-11-01.
  4. ^ "EARTHTALK: Cyanide fishing". The Philippine Reporter (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-01.
  5. ^ Sunnexdesk (2012-09-08). "Cyanide fishing: Lethal weapon". SunStar Publishing Inc. (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-01.
  6. ^ a b Pratt, Charles Victor Barber and Vaughan R. (1997-01-08). Sullied Seas (dalam bahasa Inggris). ISBN 978-1-56973-220-5.
  7. ^ "OVER SEAS -- Cleansing Our Seas of a Poison Tide -- April 1999". oneocean.org. Diakses tanggal 2025-11-01.
  8. ^ Environment, Joyce Chepkemoi in (2017-04-25). "The Horrors Of Cyanide Fishing". WorldAtlas (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-01.
  9. ^ "INTERNATIONAL WORKING GROUP DRAFT REPORT". taskforce.coralreef.noaa.gov (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-01.
  10. ^ a b Wabnitz, C., Taylor, M., Green, E., & Razak, T. (2003). From Ocean to Aquarium: The Global Trade in Marine Ornamental Species. UNEP World Conservation Monitoring Centre. Dikses secara daring dari https://wedocs.unep.org/bitstream/handle/20.500.11822/8341/-From%20Ocean%20to%20Aquarium%20_%20The%20Global%20Trade%20in%20Marine%20Ornamental%20Species-20033641.pdf
  11. ^ "Cyanide: an easy but deadly way to catch fish". wwf.panda.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-01.
  12. ^ Burke (WRI), Lauretta; Selig (WRI), Liz; Cambridge, Mark Spalding (UNEP-WCMC; UK) (2015-04-01). Reefs at Risk in Southeast Asia (dalam bahasa Inggris). ISBN 978-1-56973-490-2.
  13. ^ Magazine, Hakai. "Aquarium Fish, Hold the Cyanide". Hakai Magazine (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-01.
  14. ^ Thornhill, D. J. (2012, Desember 12). Ecological Impacts and Practices of the Coral Reef Wildlife Trade. Defenders of Wildlife. Diakses secara daring dari https://www.defenders.org/sites/default/files/publications/ecological-impacts-and-practices-of-the-coral-reef-wildlife-trade.pdf

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement