Pemetaan massa
Pemetaan massa (dalam bahasa Inggris : crowdmapping) merupakan subtipe dari urun daya (crowdsourcing)[1][2] yang melibatkan pengumpulan dan penggabungan masukan dari masyarakat, seperti pesan komunikasi, unggahan media sosial, dan laporan lapangan, dengan data geografis untuk menghasilkan peta digital yang diperbarui secara berkala.[3] Pemetaan ini digunakan untuk memvisualisasikan peristiwa yang sedang berlangsung, seperti konflik bersenjata, krisis kemanusiaan, tindak kejahatan, pemilihan umum, atau bencana alam.[4] Proses pembuatan peta biasanya dilakukan secara kolaboratif melalui jaringan internet, dengan kontribusi dari berbagai individu atau kelompok yang berada di lokasi berbeda.[5]
Pemetaan kerumunan merupakan pendekatan kolaboratif dan partisipatif dalam pembuatan peta yang memanfaatkan kontribusi dari sekelompok besar individu atau crowd (kerumunan).[6] Metode ini melibatkan proses pengumpulan dan penggabungan informasi dari berbagai sumber, dengan memanfaatkan teknologi digital untuk menghasilkan peta yang dinamis. Hasil peta mencerminkan pengetahuan kolektif suatu komunitas yang dapat diperbarui secara berkelanjutan sesuai dengan kondisi lapangan. Dalam praktiknya, partisipan dapat memberikan data spasial seperti lokasi, anotasi, atau informasi relevan lain untuk membentuk peta yang lebih komprehensif dan terkini. Pemetaan kerumunan menjadi salah satu bentuk penerapan sains khalayak yang mendukung transparansi informasi dan perluasan akses terhadap data geografis.[7]
Salah satu contoh pemetaan massa adalah platform Crowdmap yang dirilis oleh Ushahidi pada tahun 2010 , yaitu perangkat lunak sumber terbuka yang memungkinkan siapa pun membuat proyek pemetaan kerumunan secara mandiri dan tanpa biaya. Platform ini menjadi salah satu contoh awal dari sistem pemetaan partisipatif berbasis data masyarakat yang terintegrasi dengan teknologi geospasial.[8][9][10]
Fungsi
Perencanaan Kota
Pemetaan kerumunan digunakan dalam perencanaan perkotaan untuk menyediakan data berbiaya rendah yang dapat diperbarui secara waktu nyata, sekaligus mengatasi keterbatasan metode pengumpulan data tradisional seperti sensus.[11] Dalam bidang perencanaan perkotaan, pemetaan kerumunan dikaji dalam berbagai penelitian terkait penerapannya pada pemecahan masalah, pengajuan gagasan, dan pemetaan kolaboratif.[12] Pendekatan ini bertujuan untuk mendukung pengembangan ruang kota yang inklusif, yaitu ruang yang memberikan nilai setara bagi seluruh pengguna, mudah diakses, serta melibatkan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan tata kelola kota.[13][14]
Referensi
- ^ Aitamurto, Tanja (2016-02-17). "Crowdsourcing as a Knowledge-Search Method in Digital Journalism: Ruptured ideals and blended responsibility". Digital Journalism. 4 (2): 280–297. doi:10.1080/21670811.2015.1034807. ISSN 2167-0811.
- ^ Aitamurto, Tanja (2015-10-28). "Motivation Factors in Crowdsourced Journalism: Social Impact, Social Change, and Peer Learning". International Journal of Communication (dalam bahasa Inggris). 9: 21–21. ISSN 1932-8036.
- ^ "Big Data in Emergency Management: Exploitation Techniques for Social and Mobile Data". SpringerLink (dalam bahasa Inggris). doi:10.1007/978-3-030-48099-8.pdf.
- ^ Kimo (2011-09-04). "Concepts to Know: Crowdmapping". Kimo Quaintance (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-05.
- ^ By John D. Sutter, CNN. "Ushahidi: How to 'crowdmap' a disaster" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-05.
- ^ Dixon, Barnali; Johns, RebeccaA.; Fernandez, Amada (2021-03). "The role of crowdsourced data, participatory decision-making and mapping of flood related events". Applied Geography. 128: 102393. doi:10.1016/j.apgeog.2021.102393. ISSN 0143-6228.
- ^ Datola, Giulia; Rossitti, Marco; Colucci, Elisabetta; Comino, Jessica (2024). Calabrò, Francesco; Madureira, Livia; Morabito, Francesco Carlo; Piñeira Mantiñán, María José (ed.). "A Framework Research: Investigating Different Methods and Solutions to Map Built Heritage at Risk Through Participatory and Crowd Actions". Networks, Markets & People (dalam bahasa Inggris). Cham: Springer Nature Switzerland: 247–256. doi:10.1007/978-3-031-74501-0_26. ISBN 978-3-031-74501-0.
- ^ Jeffery, Simon (2011-04-07). "Ushahidi: crowdmapping collective that exposed Kenyan election killings". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2025-11-05.
- ^ "Ushahidi.com aide les peuples en difficulté" (dalam bahasa Prancis). 2012-03-15. Diakses tanggal 2025-11-05.
- ^ andries.vaisman. "Ushahidi helps bring crowdsourcing technology to 132 countries worldwide". Knight Foundation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-05.
- ^ Griffin, Greg P.; Jiao, Junfeng (2019-01). "The Geography and Equity of Crowdsourced Public Participation for Active Transportation Planning". Transportation Research Record: Journal of the Transportation Research Board. 2673 (1): 460–468. doi:10.1177/0361198118823498. ISSN 0361-1981.
- ^ Schuurman, Dimitri; Baccarne, Bastiaan; De Marez, Lieven (2012). "Smart Ideas for Smart Cities: Investigating Crowdsourcing for Generating and Selecting Ideas for ICT Innovation in a City Context". Journal of theoretical and applied electronic commerce research. 7 (3): 11–12. doi:10.4067/s0718-18762012000300006. ISSN 0718-1876.
- ^ "Commentary: What We Mean By "Inclusive Cities" – The Informal City Dialogues". nextcity.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-05.
- ^ Gervasi, Osvaldo; Murgante, Beniamino; Rocha, Ana Maria A. C.; Garau, Chiara; Scorza, Francesco; Karaca, Yeliz; Torre, Carmelo M. (2023-06-29). Computational Science and Its Applications – ICCSA 2023 Workshops: Athens, Greece, July 3–6, 2023, Proceedings, Part IX (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. hlm. 82. ISBN 978-3-031-37129-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


