Pemberontakan Beipu

Pemberontakan Beipu
TanggalNovember 1907
LokasiHoppo, Shinchiku Chō, Taiwan
Hasil Kemenangan Jepang
Pihak terlibat
Hakka
Saisiyat
 Jepang
Tokoh dan pemimpin
Tsai Ching-lin Kekaisaran Jepang Sakuma Samata
Korban
~100 tewas 57 tewas
"Batu monumen untuk lima Anak Jepang yang Dijagal" (五子碑紀念被屠殺日本幼童)
"Monumen untuk Lima Anak" (五子碑及其石製基座)

Insiden Beipu (Hanzi: 北埔事件), atau Pemberontakan Beipu, pada 1907 adalah contoh pertama pemberontakan lokal bersenjata melawan kekuasaan Jepang di pulau Taiwan. Dalam menanggapi penindasan masyarakat lokal oleh otoritas Jepang, sekelompok pemberontak dari anak kelompok Hakka dari Tionghoa Han dan kelompok pribumi Saisiyat di Hoppo, Shinchiku Chō (kini Beipu, Kabupaten Hsinchu), menyerang para perwira Jepang dan keluarga mereka. Sebagai balasannya, militer dan polisi Jepang membantai lebih dari 100 orang Hakka. Pemberontakan lokal tersebut adalah peristiwa pertama dari jenisnya di Taiwan di bawah kekuasaan Jeapng, dan berujung pada peristiwa lainnya sepanajng bertahun-tahun berikutnya.

Latar belakang

Setelah penandatanganan Perjanjian Shimonoseki pada 1895 antara Kekaisaran Jepang dan Kekaisaran Tiongkok Qing, Taiwan diserahkan kepada Jepang, bersama dengan Kepulauan Penghu.[1] Pemerintahan Jepang melihat Taiwan mengambil langkah-langkah besar menuju modernisasi, kala mereka melihat penunjangan pada infrastruktur, ekonomi dan sistem kesehatan dan pendidikan pulau tersebut.[2] Disamping itu, kebanyakan masyarakat masih mengalami kerja keras, dna terdapat gangguan partisan reguler melawan instalasi Jepang.[3] Serbuan gerilya seringkali mengakibatkan timbal balik Jepang yang bertindak lebih brutal ketimbang serangan awal, seperti ‘pembantaian Yun-lin' tahun 1896, yang mengakibatkan 6.000 orang Taiwan tewas.[4] Meskipun situasi diredam pada masa jabatan Goto Shinpei, gangguan tersebut masih berlanjut pada masa jabatan Sakuma Samata, yang menggantikan Goto pada 1905.[5]

Sebagai bagian dari dorongan untuk modernisasi di bawah kekuasaan Jepang, Beipu mengalami kemakmuran karena pertambangan batubara di dekatnya.[6] Kota Beipu utamanya terdiri dari para anggota anak kelompok Hakka dari Tionghoa Han, sementara orang-orang dari kelompok etnis pribumi Saisiyat juga tinggal di wilayah tersebut.[7] Sebagai penduduk asli Taiwan, alih-alih Tionghoa Han, kelompok tersebut dipandang sebagai orang barbar dan utamanya nampak menghadapi penindasan dari kekuasaan Jepang,[8] khususnya di bawah masa jabatan Sakuma Samata sebagai gubernur-jenderal.[9]

Peristiwa

Dalam menanggapi apa yang dipandang sebagai penindasan Jepang, Tsai Ching-lin (蔡清琳) membentuk kelompok pemberontak pada November 1907. Kelompok tersebut, yang utamanya terdiri dari Hakka dengan dukungan dari suku-suku penduduk lokal Saisiyat, merebut sekumpulan senjata di Kotapraja Beipu pada 14 November. Keesokan harinya, para pemberontak membantai 57 perwira Jepang dan para anggota keluarga mereka. Sebagai balasannya, otoritas Jepang membantai lebih dari 100 orang Hakka sepanjang beberapa hari berikutnya, kebanyakan dari mereka adalah para pemuda dari Neitaping (內大坪), sebuah desa kecil di kawasan tersebut.[10]

Signifikansi

Peristiwa Beipu menjadi peristiwa pertama dari jenisnya melawan kekuasaan Jepang di Taiwan. Meskipun gangguan lain terjadi sejak pengambilalihan pada 1895, ini adalah peristiwa pertama dari serangkaian pemberontakan lokal yang berlangsung dengan cepat, dan menandai fase baru dalam pemberontakan bersenjata Taiwan.[11] Setelah Beipu, pemberontakan serupa lain seperti peristiwa Tapani pada 1915 dan Peristiwa Wushe pada 1930 terjadi, yang berujung pada perubahan dalam kesepakatan Jepang dengan suku-suku penduduk asli Taiwan.[12]

Referensi

  1. ^ Roy, Denny (2003). Taiwan: A Political History. Ithaca: Cornell University Press. hlm. 34. ISBN 9780801488054.
  2. ^ Lam, Peng-Er (January 2004). "Japan-Taiwan Relations: Between Affinity and Reality". Asian Affairs: An American Review. 30 (4): 251. doi:10.3200/AAFS.30.4.249-267. S2CID 154811020.
  3. ^ Lamley, Harry J. (2007). "Taiwan Under Japanese Rule, 1895-1945: The Vicissitudes of Colonialism". Dalam Rubinstein, Murry A. (ed.). Taiwan: A New History (Edisi expanded). New York: M.E. Sharpe. hlm. 202–211. ISBN 9780765614940.
  4. ^ Lamley 2007, hlm. 207
  5. ^ Lamley 2007, hlm. 207–211
  6. ^ Dawson, Phil, "Visiting Taiwan – Experiencing Hakka Culture in Beipu" http://phildawson.org/2010/10/17/experiencing-hakka-culture-in-beipu/ Diarsipkan 8 October 2011 di Wayback Machine., accessed 5 October 2011.
  7. ^ The China Post, “Beipu Offers Glimpse into Hard-fought Hakka way of Life” [1], accessed 4 October 2011.
  8. ^ Ching, L. (1 December 2000). "Savage Construction and Civility Making: The Musha Incident and Aboriginal Representations in Colonial Taiwan". Positions: East Asia Cultures Critique. 8 (3): 800. doi:10.1215/10679847-8-3-795.
  9. ^ Roy 2003, hlm. 39–40
  10. ^ Yang Ching-ting (28 Nov 2007). "Time to recall the Beipu Uprising". Taipei Times. hlm. 8. Diakses tanggal 9 Aug 2016.
  11. ^ Lamley, “Taiwan Under Japanese Rule, 1895–1945: The Vicissitudes of Colonialism", p. 211.
  12. ^ Ching 2000, hlm. 797–799

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement