Pemberontakan Abdul Salam

Pemberontakan Abdul Salam (bahasa Hausa: Tāwāyēn Abd al-Salam) adalah pemberontakan awal abad ke-19 terhadap Kekhalifahan Sokoto yang dipimpin oleh Abdul Salam dari Kware, seorang ulama Hausa Ba-Are dan salah satu murid utama Shehu Usman dan Fodio, pendiri kekhalifahan tersebut. Terjadi antara tahun 1817 dan 1818, tak lama setelah kematian Usman, pemberontakan ini menjadi salah satu tantangan internal paling serius yang dihadapi oleh penggantinya, Muhammad Bello. Meskipun dimulai sebagai perselisihan mengenai pembagian wilayah setelah pembagian otoritas oleh Usman pada tahun 1812, konflik ini mengungkap ketegangan yang lebih luas di dalam kepemimpinan kekhalifahan, termasuk persaingan di antara para Fodiawa, perbedaan etnis antara elit Hausa dan Fulani, serta perbedaan penafsiran mengenai legitimasi dan keadilan agama maupun politik.[1][2][3][4]

Abdul Salam adalah salah satu dari sedikit pemimpin non-Fulani yang ikut dalam jihad yang dipimpin oleh Usman. Ia berperan penting dalam peristiwa-peristiwa sebelum jihad dimulai, terutama dalam serangan Gobir terhadap Gimbana, sebuah pemukiman yang ia dirikan setelah meninggalkan Gobir dalam hijrahnya sendiri. Serangan Gobirawa ke Gimbana dan upaya para pejuang jihad untuk membebaskan para tawanan di sana sering dianggap sebagai pemicu dimulainya jihad Usman pada tahun 1804. Setelah Kekhalifahan Sokoto berdiri, Usman membagi wilayah kekuasaannya pada tahun 1812. Abdul Salam hanya mendapat tujuh desa di daerah Gwandu, jauh lebih sedikit dibandingkan wilayah yang diterima para pemimpin Fulani. Ia merasa tidak puas dan mencoba memperluas kekuasaannya dengan kekuatan senjata. Karena hal ini, ia kemudian dipindahkan ke Kware di bawah pengawasan Muhammad Bello. Peristiwa ini membuat Abdul Salam semakin marah dan menuduh Bello memperlakukan dirinya dan orang-orang Hausa dengan tidak adil.[1][3]

Ketika Usman meninggal pada tahun 1817, penggantinya, Muhammad Bello, menghadapi banyak tantangan terhadap kekuasaannya sebagai Amir al-Mu'minin. Salah satu tantangan paling berbahaya datang dari Abdul Salam. Dari Kware, Abdul Salam mengumpulkan para pengikut, termasuk orang Hausa yang kecewa dan juga para dzimmi (non-Muslim yang tinggal di wilayah Islam). Ia menuduh Bello sebagai penguasa zalim yang melanggar prinsip keadilan yang dulu dijunjung oleh Usman. Dalam catatan Bello berjudul Sard al-Kalam, ia menceritakan pertukaran surat di antara mereka. Abdul Salam mengirim surat berisi peta Kekhalifahan untuk menunjukkan betapa kecilnya wilayah yang ia dapat dibandingkan dengan para pemimpin Fulani. Ia juga menulis bahwa persatuan umat Islam tidak ada artinya jika dibangun di atas ketidakadilan, dan bahwa menurut hukum Islam, tidak wajib menaati penguasa yang tidak adil. Pandangannya ini mendapat dukungan dari banyak orang Hausa yang merasa tersisih dalam pemerintahan yang dikuasai oleh kaum Fulani.[3][4]

Awalnya, Bello mencoba bersikap lembut terhadap Abdul Salam dan berusaha meredakan ketegangan tanpa kekerasan. Namun, setelah pendekatan itu gagal, ia menuduh Abdul Salam murtad karena bersekutu dengan non-Muslim melawan Kekhalifahan. Bello kemudian menyebut pemberontakan tersebut sebagai pemberontakan politik sekaligus penyimpangan agama. Akhirnya, pasukan Bello menyerang Kware, menghancurkan kota itu, dan Abdul Salam tewas dalam pertempuran. Pemberontakan ini juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pemimpin Kekhalifahan. Abdullahi, paman Bello sekaligus wazir (penasihat utama) Usman, sebenarnya setuju bahwa ada masalah dalam arah Kekhalifahan. Ia berpendapat bahwa kepemimpinan seharusnya ditentukan oleh kesalehan, bukan keturunan, dan bahwa membantu orang kafir melawan umat Islam adalah dosa, bukan kekafiran. Namun Bello tidak sependapat. Ia menegaskan bahwa menentang Khalifah berarti murtad, dan bahwa kekerasan dapat dibenarkan untuk menjaga persatuan dan mencegah perpecahan. Catatan Bello dalam Sard al-Kalam tetap menjadi salah satu sumber utama untuk memahami kondisi politik, keagamaan, dan sosial pada masa awal berdirinya Kekhalifahan Sokoto.[1][3][5]

Referensi

  1. ^ a b c Kariya, Kota (2018). "A Revolt in the Early Sokoto Caliphate: Muḥammad Bello's Sard al-kalām". Journal of Asian and African Studies (95): 221–303.
  2. ^ Zehnle, Stephanie (2018). ""Where is My Region?" Geographical Representation and Textuality in Sokoto". Islamic Africa. 9 (1): 10–33. ISSN 2333-262X.
  3. ^ a b c d Naylor, Paul, ed. (2021), "'Lesser of two evils': The Succession of Muhammad Bello", From Rebels to Rulers: Writing Legitimacy in the Early Sokoto State, Religion in Transforming Africa, Boydell & Brewer, hlm. 95–122, ISBN 978-1-80010-234-7, diakses tanggal 2025-10-30
  4. ^ a b Last, Murray (1992). "'Injustice' and Legitimacy in the Early Sokoto Caliphate". People and empires in African history : essays in memory of Michael Crowder. Internet Archive. London: Longman. ISBN 978-0-582-08997-6.
  5. ^ Kariya, Kota (2018). "Muwālāt and Apostasy in the Early Sokoto Caliphate". Islamic Africa. 9 (2): 179–208. ISSN 2333-262X.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement