Pembantaian Bengawan Solo 1825

Pembantaian Bengawan Solo 1825
Bagian dari Perang Diponegoro
LokasiBengawan Solo, Ngawi
TanggalSeptember 23, 1825; 200 tahun lalu (1825-09-23)
SasaranOrang Tionghoa
Jenis serangan
Pembantaian
Tewas100+
PelakuPasukan yang dipimpin oleh Raden Ayu Yudokusumo
MotifSentimen anti-Tionghoa

Pembantaian Bengawan Solo 1825 atau Pembantaian Ngawi adalah sebuah pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa yang terjadi di Bengawan Solo, Ngawi pada 23 September 1825.[1] Pembantaian tersebut didalangi oleh Raden Ayu Yudokusumo.[2] Sekitar seratus orang Tionghoa tewas dalam pembantaian tersebut[3] dan terdiri dari para bandar beras, pedagang kecil, kuli, tukang, dan lain-lain.[4]

Latar belakang

Pemerintah Hindia Belanda membangun ekonomi kolonial yang membuka peluang bagi warga keturunan Tionghoa untuk menjadi bagian dari sistem ekonomi tersebut, di antaranya sebagai perantara pemerintah atau kesultanan, termasuk sebagai perantara pemberdayaan lahan-lahan pertanian kepada warga setempat, melalui sewa-menyewa atau bagi hasil atas lahan yang dimiliki oleh kesultanan atau pemerintah Hindia Belanda. Mereka juga dijadikan sebagai pemungut pajak di jalan-jalan utama, jembatan, pelabuhan, dermaga, pasar dan tempat-tempat lainnya.[5]

Namun, hubungan sosial yang harmonis tersebut mulai rusak karena perilaku sejumlah oknum warga Tionghoa yang bertindak sewenang-wenang kepada warga pribumi maupun kepada sesama warga Tionghoa sendiri, karena mendapatkan perlindungan hukum dari Sultan atau pemerintah Belanda. Tidak sedikit dari mereka yang membayar lebih kepada para Sultan atau pemerintah Belanda, guna memperoleh jabatan yang dianggap 'basah' tersebut.[6] Sistem fiskal yang dibentuk oleh Belanda, memungkinkan sebagian orang Tionghoa memeras rakyat, hingga memicu tindak kekerasan dan pembunuhan terhadap orang-orang Tionghoa yang menjaga gerbang cukai.[7] Dalam beberapa kasus di daerah, termasuk di Ngawi, para bandar pajak tersebut membentuk pasukan pengawal khusus dan bertindak selayaknya pejabat.[8]

Pembantaian

Kebencian atas diskriminasi sosial tersebut memuncak pada bulan-bulan awal dalam peristiwa Perang Jawa dengan serangan pasukan kavaleri yang dipimpin oleh Raden Ayu Yudokusumo, menyerang pemukiman warga Tionghoa di tepi Sungai Sala (kini Bengawan Solo) pada 23 September 1825. Tidak pandang bulu, serdadu Jawa yang menjadi bagian dari pasukan tersebut, menyerang siapa saja termasuk wanita dan anak-anak.[8] Serangan ini terus meluas tidak hanya di wilayah Ngawi, tetapi hingga Jawa Tengah di sepanjang aliran Sungai Sala. Bagi mereka yang selamat dari pembataian, warga Tionghoa terpaksa melarikan diri hingga ke pesisir utara yang dianggap relatif lebih aman atau ke benteng-benteng yang dikuasai oleh Belanda, termasuk evakuasi terhadap warga Tionghoa di Bagelen Timur.[9]

Kesudahan

Pembantaian tersebut menimbulkan kekecewaan dan prasangka orang-orang Tionghoa terhadap orang Jawa. Hal ini juga membuat Pangeran Diponegoro bersikap sama,[10] meskipun pada dasarnya, Diponegoro tidak memiliki kebencian pribadi dengan orang-orang Tionghoa selain orang-orang Belanda, tetapi hal ini berubah sejak kekalahannya dalam Pertempuran Gawok, hingga ia melarang para komandannya untuk menjalin hubungan dekat dengan orang-orang Tionghoa.[7]

Referensi

Catatan kaki
  1. ^ Setiono 2008, hlm. 173.
  2. ^ Lombard 1996.
  3. ^ Lombard 1996, hlm. 359.
  4. ^ Nurhadiantomo 2004, hlm. 152.
  5. ^ Setiono 2008, hlm. 175-176.
  6. ^ Setiono 2008, hlm. 176.
  7. ^ a b Ardanareswari, Indira (25 Januari 2020). "Pangeran Diponegoro dan Sentimen Anti-Tionghoa dalam Perang Jawa". Tirto.id. Diakses tanggal 17 Juli 2025.
  8. ^ a b N. Raditya, Iswara (31 Maret 2018). "Kisah Kelam Pembantaian di Tepi Sungai Bengawan Solo". Tirto.id. Diakses tanggal 17 Juli 2025.
  9. ^ Carey 1994, hlm. 1-2.
  10. ^ Setiono 2008, hlm. 179.
Daftar pustaka

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement