Pelinggih meru

Pelinggih meru adalah bangunan utama di tempat ibadah umat Hindu Bali. Bangunan ini berbentuk menara dengan atap tumpang bertingkat dari ijuk (serat pohon aren) yang memiliki tiga sampai sebelas tingkatan. Pelinggih meru memiliki makna yang penting bagi masyarakat Hindu Bali karena menjadi perlambang Gunung Meru yang dipercaya sebagai tempat suci dan tempat bersemayamnya para dewa. Selain itu, bangunan ini juga bisa digunakan untuk menyimbolkan orang atau tokoh yang dianggap suci atau roh para leluhur.[1]
Dalam arsitektur Hindu India, pelinggih meru dianggap sepadan dengan shikhara (India Utara) atau vimana (India Selatan). Kebanyakan candi Hindu di Jawa dibangun mengikuti gaya Dravida sehingga banyak menggunakan elemen tersebut sebagai bagian utamanya, meski dengan bentuk yang sedikit berbeda. Contoh candi yang menggunakan elemen Dravida adalah Candi Prambanan, Candi Asu Sengi, Candi Umbul, Candi Gedong Songo, dan Candi Klero.
Deskripsi
Pelinggih meru dibangun di atas dasar batu setinggi satu meter. Di atasnya terdapat ruangan kayu yang diatapi dengan atap serat yang ukurannya semakin mengecil ke atas. Serat yang digunakan biasanya berasal dari ijuk atau serat aren hitam.[2]
Atap ijuk inilah yang menjadi ciri khas pelinggih meru. Atap pelinggih meru selalu berjumlah ganjil dan dipersembahkan untuk dewa yang dipuja di kuil tersebut. Jumlah atap meru bervariasi dari 3 tingkat hingga yang paling tinggi 11 tingkat.
Filosofi
Sebagai perlambang Gunung Meru, pelinggih meru dipercaya sebagai tempat singgah sementara para dewa selama upacara tertentu. Dalam Lontar Andha Bhuana, meru digambarkan sebagai penggabungan unsur ibu (me, meme) dan bapak (ru, guru). Penggabungan ini menjadikan meru sebagai sumber kekuatan yang menjadi cikal bakal segala sesuatu yang ada di bumi.[3]
“Matang nyan meru mateges, me, ngaran meme, ngaran ibu, ngaran pradana tattwa, muah ru, ngaran guru, ngaran bapa, ngaran purusa tattwa, panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak. Meru ngaran pratiwibha andhabhuana tumpangnya pawakan patalaning bhuana agung alit”. Sehingga, meru berasal dari kata meme yang berarti ibu (pradana tattwa) dan guru yang berarti bapak (purusa tattwa). Penggabungannya berarti cikal bakal leluhur. Meru juga lambang alam semesta yang tingkatan (atap)nya merupakan simbol lapisan alam bhuana agung dan bhuana alit.[3]

Pelinggih meru yang bertingkat tiga biasanya dipersembahkan untuk arwah leluhur yang dituakan dan diagungkan. Pelinggih meru di Pura Taman Ayun melambangkan raja-raja Kerajaan Mengwi,[4] sementara pelinggih meru di Pura Luhur Uluwatu dipersembahkan untuk Dang Hyang Nirata, seorang pendeta abad ke-12 yang akhirnya juga didewakan sebagai Betara Sakti Wawu Rauh.[5]
Pelinggih meru yang bertingkat lima dibangun untuk dipersembahkan kepada Bhatara Mahajaya.
Pelinggih meru bertingkat sebelas biasanya dipersembahkan untuk dewa-dewa tertinggi, seperti tiga pelinggih meru di Pura Meru, Lombok, yang dipersembahkan untuk Trimurti, dan pelinggih meru di Pura Ulun Danu Bratan yang dipersembahkan untuk Siwa dan Parwati.
Fungsi lain

Selain digunakan sebagai bangunan di pura, pelinggih meru juga digunakan sebagai menara kremasi jenazah dalam upacara ngaben. Pelinggih meru sendiri melambangkan surga yang akan dituju arwah almarhum. Tingginya bervariasi dari 10 hingga 20 meter. Semakin tinggi perlinggih meru yang digunakan, semakin tinggi status sosial keluarga almarhum.[6]

Pelinggih meru juga memengaruhi perkembangan arsitektur Islam. Masuknya Islam ke Jawa pada abad ke-15 dan ke-16 juga mengadopsi nilai-nilai filosofis bangunan pelinggih meru. Banyak masjid yang dibangun pada abad-abad tersebut memiliki atap tumpang, seperti Masjid Agung Demak yang memiliki atap tumpang tiga yang melambangkan Islam, Iman, dan Ihsan.[7]
Referensi
- ^ "Pelinggih Meru, Bangunan Suci di Bali Simbol Persemayaman Bhatara Siwa | Kintamani.id" (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2019-12-31. Diakses tanggal 2025-05-15.
- ^ Nas, Peter; Nas, Peter, ed. (2002). The Indonesian town revisited. Southeast Asian dynamics. Berlin: Lit [u.a.] ISBN 978-981-230-184-0.
- ^ a b Doktrinaya, I. Komang Gede. "Meru sebagai Simbol Gunung, Andha Bhuana, Meme dan Bapa - Bali Express". Meru sebagai Simbol Gunung, Andha Bhuana, Meme dan Bapa - Bali Express. Diakses tanggal 2025-05-15.
- ^ "Pura Taman Ayun, Warisan Kerajaan Mengwi di Bali". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2025-05-16.
- ^ "Patung Dang Hyang Nirartha di Pura Uluwatu: Simbol Spiritual dan Keindahan Kultural Bali". Budaya Bali. 2024-02-29. Diakses tanggal 2025-05-16.
- ^ "Balinese Cremation (Ngaben)". Bali.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-05-15.
- ^ Ifrochah, Ayu; Dewi, Ummi Roro Kusuma; Khairi, Miftakhul (3 Desember 2024). "Saka Guru dan Atap Tumpang Tiga : Keunikan Arsitektur Masjid Agung Demak". Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu seni, Media dan Desain. 2 (1): 7–12. doi:10.62383.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


