Paul Natorp
| Nama dalam bahasa asli | (de) Paul Gerhard Natorp |
|---|---|
| Biografi | |
| Kelahiran | 14 Januari 1854 Düsseldorf |
| Kematian | 17 Agustus 1924 Marburg |
| Tempat pemakaman | Main Cemetery of Marburg (en) |
| Data pribadi | |
| Pendidikan | University of Strasbourg (en) Universitas Strasbourg Universitas Philipp Marburg |
| Kegiatan | |
| Spesialisasi | Filsafat dan historiografi |
| Pekerjaan | filsuf, dosen, pedagogue (en) |
| Bekerja di | Universitas Philipp Marburg |
| Aliran | Marburg School (en) |
| Murid dari | Ernst Laas (mul) |
| Murid | Hans-Georg Gadamer |
| Karya kreatif | |
| Murid doktoral | Karl Schmidt, Nicolai Hartmann (mul) |
| Keluarga | |
| Pasangan nikah | Helene Natorp (mul) |
| Saudara | Gottfried Andreas Natorp (en) |
Paul Natrop (Paul Gerhard Natorp) (24 Januari 1854 – 17 Agustus 1924) adalah seorang pendidik dan filsuf dari Jerman.[1] Dia adalah seorang neo-Kantian yang bersekolah di Marburg.[1] Di sana dia menerapkan pandangan pada tafsir Plato dan metode keilmuwan.[1] Pada tahun 1910, dia menulis karya berjudul The Logical Basis of the Excact Sciences.[1] Dalam karyanya itu dia mempertimbangkan logika dan epistemologi yang dapat menjadi kebebasan psikologi.[1] Hukum pemikiran bukanlah hukum alam, bukan juga teologi.[1] Natorp berpikir bahwa bahwa hakikat benda yang dikemukakan Kant merupakan konsep yang terbatas, sebuah kenyataan ideal yang tidak pernah dicapai.[1] Dia berbicara dari objek-objek sebagai pengetahuan yang tetap.[1] Nilai etikanya adalah warisan Kant dan Plato dan dengan penekanan hubungan sosial.[1] Etika-etika, dunia pendidikan, dan filsafat sosial adalah tahap dari pendidikan sosial atau teori tentang tatanan dari kehendak manusia.[1] Pendidikan seharusnya mengajarkan bagaimana seseorang dapat berbuat kebaikan dengan diawali dari kehendak yang dilatih.[2] Salah satu kata yang diambil dari Kant adalah Apriori, yaitu sesuatu yang sudah ada dalam pikiran sebelum bertemu pengalaman.[2] Jadi, pikiran bisa dididik agar dapat memikirkan yang baik, sehingga ketika bertemu dengan realitas, maka tetap memikirkan kebaikan.[2] Sebagaimana Kant, Natorp juga memandang bahwa agama bersandar pada ketiadaan perasaan objek, karakter yang tidak dapat dijelaskan dari perubahan kepda perasaan keabadian.[1] Bagi Natorp, inti dari agama adalah ide kemanusiaan, berdasar pada kesadaran moral secara umum.[1] Di sini nyata warisan Kant yang mengatakan bahwa Allah melampaui penelitian manusia, Dia hanya didapat dalam kesadaran moral.[2]
Referensi
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


