Pari Khan Khanum

Pari Khan Khanum
پریخان خانم
Lukisan seorang putri yang sedang duduk, kemungkinan besar Pari Khan Khanum, sekitar abad ke-16.[1]
KelahiranAgustus 1548
Ahar, Iran
Kematian12 Februari 1578 (umur 29)
Qazvin, Iran
Telah bertunanganBadi-al Zaman Mirza Safavi
DinastiSafawi
AyahTahmasp I
IbuSultan-Agha Khanum

Pari Khan Khanum (bahasa Persia: پریخان خانم; Agustus 1548–12 Februari 1578) adalah seorang putri dari Dinasti Safawi, putri dari syah kedua Safawi, Tahmasp I, dan selirnya yang berasal dari suku Sirkasia, Sultan-Agha Khanum. Ia adalah anak kesayangan ayahnya dan diizinkan untuk ikut serta dalam kegiatan istana, hingga perlahan menjadi sosok berpengaruh yang menarik perhatian para pemimpin suku Qizilbash.

Pari Khan memainkan peran penting dalam krisis suksesi setelah kematian ayahnya pada tahun 1576. Ia menggagalkan upaya saudaranya, Haydar Mirza Safavi, dan para pendukungnya untuk merebut tahta, dan justru mengangkat saudaranya yang lain, Ismail Mirza, sebagai Ismail II. Namun, alih-alih berterima kasih, Ismail justru membatasi kekuasaannya dan menempatkannya dalam tahanan rumah. Pari Khan mungkin merupakan dalang di balik pembunuhan Ismail pada tahun 1577. Ia lalu mendukung pengangkatan saudaranya yang lebih tua, Mohammad Khodabanda, yang hampir buta. Pari Khan berharap dapat memerintah sementara Mohammad menjadi simbol, tetapi istrinya, Khayr al-Nisa Begum, muncul sebagai saingan dan mengatur agar Pari Khan dicekik hingga mati pada usia sekitar tiga puluh tahun.

Dipandang oleh sebagian orang sebagai perempuan paling berkuasa dalam sejarah Safawi, Pari Khan mampu mendominasi untuk waktu singkat di istana Safawi yang tidak efektif dalam masyarakat yang memberlakukan pembatasan ketat terhadap perempuan bangsawan. Ia dipuji oleh sezamannya karena kecerdasan dan kemampuannya, meskipun dalam catatan sejarah kemudian ia digambarkan sebagai tokoh jahat yang membunuh dua saudaranya dan berambisi merebut tahta. Ia menjadi pelindung para penyair, termasuk Mohtasham Kashani yang menulis lima pujian untuknya. Penulis sezamannya juga mendedikasikan karya untuknya, seperti karya Abdi Beg Shirazi, Takmelat al-akhbar, dan ia dibandingkan dengan Fatimah, putri Nabi Muhammad.

Kehidupan awal

Peta yang menunjukkan wilayah kekuasaan Kekaisaran Safawi dari Kandahar di tenggara hingga Tbilisi di barat laut
Peta Iran Safawi dan negara-negara tetangganya.

Pari Khan Khanum lahir di dekat Ahar pada Agustus 1548.[2] Ayahnya adalah Tahmasp I, syah kedua dari Dinasti Safawi. Ibunya, Sultan-Agha Khanum, adalah saudari dari Shamkhal Sultan, bangsawan Sirkasia dari Daghestan Safawi.[3] Pari Khan juga memiliki saudara kandung bernama Suleiman Mirza.[2]

Catatan sejarah sezamannya menggambarkan Pari Khan sebagai sosok yang cerdas, pandai, dan intuitif, yang membuat ayahnya tertarik padanya.[4] Ia menemukan dua panutan dalam diri dua bibi dari pihak ayah, Pari Khan Khanum I dan Mahinbanu Sultan, yang memiliki pengaruh politik; Pari Khan ingin meniru dan melampaui mereka.[5]

Ia menunjukkan minat besar pada hukum Islam, fikih, dan puisi, dan unggul dalam ketiganya. Menurut sejarawan Safawi Afushta'i Natanzi, para sejarawan sezaman menganggapnya “berbeda dari perempuan lainnya.”[4] Tahmasp mengagumi minat Pari terhadap politik Kekaisaran Safawi dan menjadikannya anak perempuan kesayangannya.[6][7] Saat berusia 10 tahun, ia dijodohkan dengan Pangeran Badi-al Zaman Mirza, putra dari Bahram Mirza, adik Tahmasp.[2] Namun, karena sangat menyayanginya, Tahmasp tidak mengizinkan Pari Khan meninggalkan ibu kota Qazvin untuk tinggal di Sistan, tempat tinggal dan wilayah kekuasaan Badi-al Zaman.[2] Pertunangan tersebut tidak pernah berujung pada pernikahan.[4]

Kasih sayang Tahmasp kepada Pari dan ketergantungannya pada nasihatnya bahkan melebihi kepada putra-putranya.[7] Akibatnya, para pemimpin Qizilbash, suku Turkoman yang mendominasi militer Safawi, sangat menginginkan dukungannya.[2]

Karier

Krisis suksesi Tahmasp

Painting of Tahmasp at an old age, seated on a carpet
Tahmasp I, Shah Iran, dalam usia tua. Sekitar 1575, Cleveland Museum of Art

Disamping penyidikan lanjutan oleh para abdi, Tahmasp tak pernah memilih salah satu putranya menjadi penerusnya, dan meskipun ada kemungkinan putra sulung meneruskan ayahnya (sebagaimana Tahmasp sendiri lakukan dari Ismail I), putra sulung shah, Mohammad Khodabanda, nyaris buta dan kemudian didiskualifikasi dari kekuasaan.[8] Suku-suku Qizilbash dan istana terpecah dalam dua faksi atas pangeran kesukaan mereka: Haydar Mirza didukung oleh suku Ustajlu, dua pangeran Safawiyah,[a] dan orang-orang Georgia dari istana (karena cikal bakal Georgianya dari pihak ibu); sementara Ismail Mirza didukung oleh setiap suku Turkoman lainnya dari Qizilbash (seperti Rumlu dan Afshar), Sirkasia, dan Pari Khan sendiri.[10][11] Ismail adalah putra kedua Tahmasp, tetapi ia ditahan karena sejumlah alasan—seperti perjantanan—di Istana Qahqaheh sejak 1557.[12] Kala di penjara, Ismail terlibat dalam penggelapan uang Ustajlu dan memiliki hubungan dengan istri panglima Ustajlu.[12][13] Akibatnya, para pemimpin Ustajlu mendapati sekutu terbaik di Haydar.[13] Haydar adalah putra kelima Tahmasp, yang menjadi kesayangannya, dan bahkan diberikan dengan kekuasaan administrasi pada masa kepergian Tahmasp.[2]

Sirkasia dan Georgia sama-sama memiliki pengaruh politik atas Tahmasp dan sehingga menjadi pesaing satu sama lain.[2] Perhatian terdepan Qizilbash adalah cikal bakal pihak ibu Haydar, yang akan secara potensial mengembangkan pengaruh mereka di istana lewat keterlibatan orang-orang Georgia yang memegang pangkat militer.[13] Dukungan Pari Khan untuk Ismail dipicu oleh keinginan untuk menghimpun kekuasaan Turkic-Sirkasia di istana.[14] Kemungkina motivasi lainnya atas dukungannya meliputi reputasi Ismail sebelum penahanan selaku pangeran yang berani nan dikasihi, atau bahwa ia berpikir dengan mendukungnya ia dapat menghimpun jabatan dan pengaruhnya.[15] Ibu Pari, Sultan-Agha Khanum atas permintaan putrinya mempergunjingkan Haydar Mirza ke Tahmasp dan menyamarkannya sebagai pengkhianat sesambil menunjukkan faksi Ismail sebagai pihak yang benar dan setia.[16]

Pada 18 Oktober 1574, Tahmasp sakit berat dan tak pulih selam dua bulan.[2] Sejarawan Safawiyah Iskandar Beg Munshi menulis bahwa Pari Khan memberikan perawatan ayahnya dan menemani di sampingnya.[7] Penyakit sha memicu ancaman kekerasan di kalangan faksi, sehingga pendukung Haydar selalu menjaganya.[17] Pada saat yang sama, mereka bersekongkol dengan castellan Qahqaheh untuk membunuh Ismail. Pari Khan mengetahui rencana tersebut dan memberitahukan Tahmasp, yang mengerahkan sekelompok musketir Afshar kepada Qahqaheh untuk memantau Ismail.[2]

Tahmasp wafat pada 14 Mei 1576, dengan ibu Haydar dan Pari Khan di samping kasurnya.[17] Haydar langsung mendeklarasikan dirinya menjadi shah baru. Pada malam kematian Tahmasp, para penjaga istana (secara trafisional terdiri dari suku-suku Qizilbash berbeda) yang berasal dari faksi pro-Ismail: Rumlu, Afshar, Qajar, Bayat dan Varsak, secara khusus menahan Haydar di dalam istana tanpa dukungan para pengikutnya.[2][18] Haydar Mirza membujuk Pari Khan sebagai cara untuk menyelamatkan dirinya. Pari Khan memberikannya dukungan dengan mencium kakinya, kemudian ia bersumpah pada al-Qur'an bahwa ia dapat memberikannya dukungan pamannya, Shamkhal Sultan, dan saudaranya, Suleiman Mirza, jika Haydar memperkenankannya untuk meninggalkan istana.[2] Kala ia keluar dari istana, ia memberikan kunci-kunci istana kepada pamannya dan para pendukung Ismail, yang menyerbu istana dan membunuh Haydar.[b] Setelah itu, atas permintaan Pari Khan, seorang utusan dikerahkan ke Qahqaheh untuk membebaskan Ismail dari penahanan dan mengirimkannya ke ibukota.[18]

Di bawah Ismail II

Shah Ismail II, folio dari Kholassat ot-Tavarikh oleh Ahmad Monshi Ghomi

Sampai Ismail datang ke Qazvin, Pari Khan menjadikan dirinya sebagai pemimpin de facto Iran.[2] Ia memerintahkan Makhdum Sharifi Shirazi, seorang penceramah Sunni terkenal, untuk membacakan kotbah (ceramah umum) atas nama Ismail pada salat Jumat tanggal 23 May 1576 di hadapan seluruh pemimpin Qizilbash terkemuka, sehingga melanggengkan kenaikan Ismail.[2] Ia mendirikan dewan pribadi staf Sirkasia dan menunjuk kaligrafer Khwaja Majid al-Din Ibrahimi Shirazi untuk mengurusi dewannya sebagai waliraja pribadinya.[20][c] Setiap pagi, Qizilbash mengunjunginya untuk perhatian dan petisi mereka dan pendirian Pari Khan diperlakukan sebagai dewan kerajaan sebenarnya.[22][2]

Pada 4 Juni 1576, Ismail datang ke Qazvin, namun karena ketidakcocokan tanggal (menurut para astrolog), ia singgah di rumah Hossein-Qoli Kholafa, pemimpin suku Rumlu, alih-alih datang ke istana.[2] Pada 1 September 1576, ia dimahkotai menjadi shah di istana Chehel Sotun sebagai Ismail II.[12] Pari Khan menerima rasa bangga dari saudaranya,[23] tetapi Ismail terusik oleh keterlibatan Qizilbash padanya. Menurut Iskandar Beg, ia menghampiri para bangsawan dan berujar pada mereka: "Tidakkah kau tau teman-temanku, bahwa campur tangan dalam persoalan negara oleh wanita menodai kehormatan raja?"[22] Ia melarang para pemimpin Qizilbash dari menengok Pari Khan, mencopot sejumlah penjaga dan hadirinnya, menyita aset-asetnya dan tak menemanimua kala ia memberikannya perhatian.[2] Untuk menambah pelucutan reputasinya, Ismail menyebarkan rumor soal penyimpangan seksualnya.[24] Ini nampak dari surat oleh Pari Khan ke Ismail bahwa Ismail juga berencana untuk membunuh Pari Khan.[12][d] Akibatnya, Pari Khan diisolasi penuh dan ditiadakan dari kronik-kronik sepanjang masa kekuasaan Ismail.[26]

Ismail berkuasa selama dua tahun dan masa jabatan pendek tersebut disebut sebagai masa kekuasaan teror.[27] Dua bulan setelah pelantikannya, ia mulai menyingkirkan seluruh kerabat laki-lakinya, termasuk Badi-al Zaman Mirza, tunangan Pari Khan dan Suleiman Mirza, saudara kandung Pari Khan.[12] Suleiman Mirza dibunuh karena perilaku agresifnya yang dipicu dari tindakan dingin Ismail terhadap Pari Khan.[26] Satu-satunya penyintas dari pembersihan tersebut adalah Mohammad Khodabanda yang buta dan tiga putranya yang masih muda.[12]

Masa kekuasaan Ismail berakhir dengan kematian mendadaknya pada 25 November 1577. Tabib istana menduga racun sebagai sebab kematian tersebut.[2] Iskandar Beg Munshi awalnya menyebut Pari Khan sebagai dalang utama dalam kematian Ismail, dan gagasan tersebut diulangi oleh para pembuat kronik Safawiyah lain seperti Sharafkhan Bidlisi, Hasan Beg Rumlu dan Sayyid Hassan Hussaini Astarabadi.[28] Sementara itu, Kholassat ot-Tavarikh karya Ahmad Monshi Ghomi tak mengaitkan Pari Khan dengan pembunuhan tersebut. Dalam historiografi modern, teori tersebut masih tak menyepakatinya.[29] Akibat kematian Ismail, Pari Khan sekali lagi menjadi sosok kuat dalam istana.[2]

Mohammad Khodabanda dan kematian

Menurut Natanzi, setelah kematian Ismail, Pari Khan diminta untuk meneruskan saudaranya, namun ia menolak tawaran tersebut.[28] Qizilbash hanya memperdebatkan dua kandidat yang memungkinkan: Mohammad Khodabanda dan Shuja al-Din, putra Ismail yang masih bayi. Shuja al-Din ditolak karena usianya masih muda dan Qizilbash memilih Mohammad Khodabanda sebagai shah baru. Mereka kemudian memberitahukan pilihan mereka kepada Pari Khan.[2] Pembuat kronik sezaman, Hasan Beg Rumlu, mencatat bahwa Pari Khan secara terbuka menentang suksesi Mohammad dan berniat untuk mencegahnya untuk datang ke Qazvin.[29] Di sisi lain, menurut Iskandar Beg, Pari Khan menganggap Mohammad sebagai kandidat terbaik yang memungkinkan, karena kebutaannya akan memperkenankannya untuk mengendalikan pemerintahn kekaisaran. Ia dan Qizilbash datang untuk perjanjian bahwa Mohammad hanya akan menjadi kepala figur sementara ia dan para perwakilannya mengurusi kerajaan.[2]

Kemudian, Pari Khan memulai masa kekuasaan de facto keduanya selama dua bulan antara 25 November 1477 sampai 12 Februari 1478.[30][2] Ia membebaskan para tahanan yang ditahan oleh Ismail dan menyediakan perlindungan pada banyak pria dan wanita terkenal. Contohnya, ia membebaskan Makhdum Sharifi Shirazi dari penjara dan menolongnya untuk kabur ke Kekaisaran Utsmaniyah.[30][29] Ia memerintahkan para pejabatnya untuk singgah di Qazvin dan menunggu kedatangan Mohammad, tetapi Mirza Salman Jaberi, mantan waliraja agung Ismail II, yang memiliki beberapa tanggung jawab dalam pertikaian Ismail dengan Pari Khan, kabur di Shiraz tempat Mohammad Khodabanda singgah.[30] Ia memperingatkan shah baru dan istrinya, Khayr al-Nisa Begum, akan pengaruh Pari Khan, menyebabkan mereka secara terbuka menentangnya.[30] Mohammad mengirim beberapa pasukan untuk menjaga perbendaharaan negara di Qazvin yang disebabkan pertikaian antara pendukung Pari Khan dan pasukannya.[30] Shamkhal Sultan kemudian meningkatkan jumlah pengawal di kediaman Pari Khan, yang makin menyebabkan ketegangan antara pasangan kerajaan tersebut dan Pari Khan.[31] Sementara itu, sebagian besar pejabat pergi dari Qazvin ke Shiraz untuk bergabung dengan pihak shah.[30]

Kedatangan Mohammad dan Khayr al-Nisa pada 12 Februari 1578 mengakhiri hegemoni Pari Khan atas pemerintahan.[2] Ia menyambut pasangan kerajaan tersebut sambil duduk di tandu emas dengan empat sampai lima ratus pengawal dan staf di sampingnya.[2] Khayr al-Nisa, mengetahui bahwa Pari Khan melepaskan kekuasaannya, mulai merencanakan pembunuhannya.[2] Mohammad Khodabanda naik takhta dengan kehadiran seluruh putri kerajaan dan birokrat, termasuk Pari Khan.[32] Diam-diam, ia dan istrinya telah menugaskan Khalil Khan Afshar, lala (pembimbing) masa kecil Pari Khan, untuk pembunuhan tersebut.[33] Setelah perayaan berakhir, Pari Khan kembali ke persinggahannya dengan rombongannya kala perjalanannya diblok oleh Khalil Khan. Setelah beberapa pertikaian, ia secara damai menyerahkan diri dan memperkenankan Khalil Khan untuk membawanya ke rumahnya, tempat ia dicekik sampai mati.[32][e] Shamkhal Sultan dan putra Ismail, Shuja al-Din juga dibunuh pada hari yang sama.[35] Pada masa kematiannya, Pari Khan diperkirakan memiliki kekayaan sejumlah 10.000 sampai 15.000 toman, empat sampai lima ratus pelayan, dan memiliki sebuah rumah di luar kawasan harem di Qazvin.[36]

Syair

Pari Khan adalah pelindung penyair dan juga menulis syair sendiri.[7] Dalam Takmelat al-akhbar karya Abdi Beg Shirazi—yang karya itu sendiri didedikasikan kepada Pari Khan[37]—terdapat sejumlah puisi yang diatribusikan kepadanya dengan takhallus (nama pena) Haghighi (kebenaran).[38] Namun, menurut Iranologis Dick Davis, hanya satu syair yang terbukti ditulis olehnya.[39]

Tahmasp I menganggap syair sebagai antitesis dari kesetiaannya dan sehingga menolak untuk memperkenankan para penyair di istananya.[40] Pari Khan mendukung para penyair berbakat pada masa sulit tersebut kala mereka tak terlalu dihormati.[29] Pemanfaat paling menonjolnya adalah Mohtasham Kashani, seorang penyair Kashan; Pari Khan menganugerahinya dengan gelar malek al-sho'ara (poet-laureate).[29] Ia memerintahkan agar seluruh penyair dari Kashan harus mula-mula mengajukan karya-karya mereka ke Mohatasham untuk pengujian sebelum mengirimkannya ke istana.[41] Dalam menanggapi peristiwa kritis tersebut dalam kariernya, Mohtasham menuliskan sebuah panegirik kepadanya.[42] Secara keseluruhan, diwan (kumpulan syair) buatannya meliputi lima eulogi untuk Pari Khan, yang berjumlah lebih banyak ketimbang syair-syair yang didedikasikan oleh Mohtasham kepada anggota kerajaan lainnya, bahkan Tahmasp sendiri.[7] Dalam surat menyuratnya dengan para penyair, Pari Khan menanyai para penyair akan tanggapan mereka terhadap bujukan spesifiknya. Contohnya, ia sempat membujuk Mohtasham untuk menulis balasan kepada 80 baris ghazal (ode) dari Jami (wafat pada 1492), salah satu penyair kesukaannya.[43][41] Meskipun tanggapan Mohtasham terhadap proyek sastra ini tak ditemukan dalam diwan-nya, 60 baris dari ghazal dengan skema meter dan rema mirip dengan Jami diidentifikasikan oleh Iranologis Paul E. Losensky, mengkonfirmasikan bahwa Mohtasham dapat memenuhi permintaan Pari Khan.[44]

Warisan

Pari Khan Khanum dianggap oleh beberapa sejarawan modern sebagai wanita paling berkuasa pada masanya.[32][45] Ia dapat mengumpulkan rombongan kerajaan tanpa memandang gendernya dalam masyarakat yang memberlakukan batasan lebih jauh pada wanita kelas tinggi ketimbang kelas menengah dan rendah.[46] Menurut orang-orang sezamannya, ia dikenal sebagai wanita cerdik dan lihai; Iskandar Beg menjuluki kematiannya sebagai sebuah "kemartiran yang berani" dan Abdi Beg Shirazi memberikannya gelar-gelar seperti "putri kerajaan dunia dan penduduknya" dan "Fatimah pada masanya".[47][48] Para sejarawan pada masa berikunya lebih menggambarkannya sebagai sosok jahat, mengecamnya atas pembunuhan dua saudaranya dan menganggapnya merampas takhta.[49] Menurut sejarawan modern Shohreh Gholsorkhi, keratuan bukanlah tujuan Pari Khan.[49] Ia lebih percaya bahwa Pari Khan lebih layak untuk menangani urusan negara ketimbang para pangeran laki-laki dan sehingga menjadi pemimpin tak langsung dari istana Safawiyah yang usang dan tak karuan.[49][34]

Dengan penggulingannya, Khayr al-Nisa Begum timbul sebagai wanita berkuasa lain dari era Safawiyah sebelum ia juga dibunuh setelah masa kekuasaan selama delapan belas bulan.[34] Para sejarawan awal abad ke-20 seperti Hans Robert Roemer [de] dan Walther Hinz [de] menggambarkan Khayr al-Nisa dan Pari Khan sebagai pelaku utama dari unsur predator istana Safawiyah pada 1570-an dan 1580-an.[50] Keberadaan dua wanita tersebut mengindikasikan pengaruh perempuan kecil lain dalam masyarakat,[51] yang menandakan bahwa perpolitikan Pari Khan tak hanya tak lazim, tetapi dapat diterima.[52] Namun, wanita yang berpengaruh secara politis nampak lenyap setelah tahun-tahun awal dinasti Safawiyah, menandakan bahwa wanita di istana menjadi lebih terisolasi dalam sejarah Safawiyah berikutnya.[53]

Catatan

  1. ^ Ibrahim Mirza, yang merupakan sepupunya, dan Mustafa Mirza, yang merupakan adiknya.[9]
  2. ^ Menurut sumber-sumber sezaman, Haydar menyamarkan dirinya dengan busana wanita dan bersembunyi di dalam harem, tetapi Pari Khan mengenalnya dan memerintahkan pembunuhannya.[19][2]
  3. ^ Khwaja berasal dari keluarga rohaniwan yang biasanya mengabdi pada keluarga ningrat Safawiyah.[21]
  4. ^ Surat tersebut ditulisoleh Pari Khan sebagai tanggapan kepada tuduhan Ismail. Ia juga secara terbuka mengkritik kekuasaannya dan menecam pembersihan sistemiknya terhadap seluruh kerabat laki-lakinya.[25]
  5. ^ Buku harian Don Juan dari Persia, seorang sosok Iran terkenal di Spanyol pada abad ke-17, menyatakan bahwa Pari Khan dipenggal dan kepalanya ditempatkan di atas tombak yang ditampilkan secara terbuka di gerbang Qazvin. Catatan tersebut berseberanagn dengan masyarakat Safawiyah pada masa itu dan nampak lebih bersifat fantasi yang dipengaruhi oleh tradisi barat.[34]

Referensi

  1. ^ Soudavar 2000, hlm. 60, 68.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y Pārsādust 2009.
  3. ^ Szuppe 2003, hlm. 147.
  4. ^ a b c Gholsorkhi 1995, hlm. 146.
  5. ^ Szuppe 2003, hlm. 157, 168.
  6. ^ Birjandifar 2005, hlm. 51.
  7. ^ a b c d e Gholsorkhi 1995, hlm. 147.
  8. ^ Roemer 2008, hlm. 247.
  9. ^ Birjandifar 2005, hlm. 56.
  10. ^ Gholsorkhi 1995, hlm. 147–148.
  11. ^ Birjandifar 2005, hlm. 57–58.
  12. ^ a b c d e f Ghereghlou 2016.
  13. ^ a b c Birjandifar 2005, hlm. 57.
  14. ^ Birjandifar 2005, hlm. 59.
  15. ^ Gholsorkhi 1995, hlm. 149–150.
  16. ^ Birjandifar 2005, hlm. 60.
  17. ^ a b Gholsorkhi 1995, hlm. 148.
  18. ^ a b Gholsorkhi 1995, hlm. 149.
  19. ^ Ahmadi 2021, hlm. 315.
  20. ^ Szuppe 2003, hlm. 153–154.
  21. ^ Blair 2006, hlm. 428.
  22. ^ a b Gholsorkhi 1995, hlm. 150.
  23. ^ Birjandifar 2005, hlm. 64.
  24. ^ Birjandifar 2005, hlm. 63–64.
  25. ^ Birjandifar 2005, hlm. 68.
  26. ^ a b Gholsorkhi 1995, hlm. 152.
  27. ^ Gholsorkhi 1995, hlm. 151.
  28. ^ a b Gholsorkhi 1995, hlm. 153.
  29. ^ a b c d e Ahmadi 2021, hlm. 316.
  30. ^ a b c d e f Gholsorkhi 1995, hlm. 154.
  31. ^ Birjandifar 2005, hlm. 74.
  32. ^ a b c Gholsorkhi 1995, hlm. 155.
  33. ^ Birjandifar 2005, hlm. 75.
  34. ^ a b c Ahmadi 2021, hlm. 317.
  35. ^ Birjandifar 2005, hlm. 76.
  36. ^ Szuppe 2003, hlm. 152.
  37. ^ Dabīrsīāqī & Fragner 2020.
  38. ^ Moshir Salimi 1957, hlm. 171.
  39. ^ Davis 2023, hlm. xxxvii.
  40. ^ Sharma 2017, hlm. 21.
  41. ^ a b Losensky 2004.
  42. ^ Losensky 2019, hlm. 410.
  43. ^ Losensky 2018, hlm. 573.
  44. ^ Losensky 2018, hlm. 573, 578.
  45. ^ Amoretti & Matthee 2013.
  46. ^ Ahmadi 2021, hlm. 319, 317.
  47. ^ Gholsorkhi 1995, hlm. 155–156.
  48. ^ Birjandifar 2005, hlm. 52, 76.
  49. ^ a b c Gholsorkhi 1995, hlm. 156.
  50. ^ Mitchell 2009, hlm. 158.
  51. ^ Ahmadi 2021, hlm. 318.
  52. ^ Birjandifar 2005, hlm. 99.
  53. ^ Ahmadi 2021, hlm. 318, 322.

Sumber

  • Ahmadi, Nozhat (2021). "The Status of Women in Safavid Society". Dalam Matthee, Rudi (ed.). The Safavid World. New York: Taylor & Francis. hlm. 310–324. ISBN 9781000392876. OCLC 1274244049.
  • Amoretti, Biancamaria Scarcia; Matthee, Rudi (2013). "Ṣafavid Dynasty". Dalam DeLong Bas, Natana J. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Islam and Women. Oxford: Oxford University Press. ISBN 9780199764471. OCLC 864000380.
  • Birjandifar, Nazak (2005). Royal Women and Politics in Safavid Iran (Master of Arts thesis). McGill University. OCLC 727917163.
  • Blair, Sheila (2006). Islamic Calligraphy. Edinburgh: Edinburgh University Press. ISBN 9780748612123. OCLC 56651142.
  • Dabīrsīāqī, M.; Fragner, B. (2020). "'Abdī Šīrāzī". Dalam Yarshater, Ehsan (ed.). Encyclopædia Iranica, Online Edition. Encyclopædia Iranica Foundation. Diakses tanggal 14 February 2024.
  • Davis, Dick (2023). The Mirror of My Heart: A Thousand Years of Persian Poetry by Women. Washington D.C.: Mage Publishers. ISBN 9781949445053. OCLC 1107875493.
  • Ghereghlou, Kioumars (2016). "Esmāʿil II". Dalam Yarshater, Ehsan (ed.). Encyclopædia Iranica, Online Edition. Encyclopædia Iranica Foundation. Diakses tanggal 14 February 2024.
  • Gholsorkhi, Shohreh (1995). "Pari Khan Khanum: A Masterful Safavid Princess". Iranian Studies. 28 (3/4). Colchester: Taylor & Francis Group: 143–156. doi:10.1080/00210869508701833. ISBN 0-85773-181-5. ISSN 0021-0862. JSTOR 4310940.
  • Mitchell, Colin P. (2009). The Practice of Politics in Safavid Iran: Power, Religion and Rhetoric. New York: I.B.Tauris. ISBN 978-0857715883.
  • Losensky, Paul (2019). "Selections from the Poetry of Muhtasham Kashani". Dalam Khafipour, Hani (ed.). The Empires of the Near East and India. New York: Columbia University Press. hlm. 406–427. ISBN 9780231547840. OCLC 1049576710.
  • Losensky, Paul (2018). ""Utterly Fluent, but Seldom Fresh": Jāmī's Reception among the Safavids". Dalam d'Hubert, Thibaut; Papas, Alexander (ed.). Jāmī in Regional Contexts: The Reception of ʿAbd al-Raḥmān Jāmī’s Works in the Islamicate World, ca. 9th/15th-14th/20th Century. Leiden: Brill. hlm. 568–601. ISBN 9789004386600. OCLC 1076788310.
  • Losensky, Paul (2004). "Moḥtašam Kāšāni". Dalam Yarshater, Ehsan (ed.). Encyclopædia Iranica, Online Edition. Encyclopædia Iranica Foundation.
  • Moshir Salimi, Ali Akbar (1957). زنان سخنور [Zanān-i Sukhanvar] (dalam bahasa persian). Tehran: Matbu'ati Ali Akbar Alami. OCLC 1033924945. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)Ikon gembok hijau terbuka
  • Pārsādust, Manučehr (2009). "Parikhān Kānom". Dalam Yarshater, Ehsan (ed.). Encyclopædia Iranica, Online Edition. Encyclopædia Iranica Foundation.
  • Roemer, H. R. (2008). "The Safavid Period". The Cambridge History of Iran, Volume 6: The Timurid and Safavid Periods. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 189–350. ISBN 9781139054980.
  • Soudavar, Abolala (2000). "The Age of Muhammadi". Muqarnas. 17. Leiden: Brill: 53–72. doi:10.2307/1523290. ISBN 9004116699. ISSN 2211-8993. JSTOR 1523290. OCLC 59515859.
  • Sharma, Sunil (2017). Mughal Arcadia - Persian Literature in an Indian Court. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. ISBN 9780674975859.
  • Szuppe, Maria (2003). "Status, Knowledge, and Oolitics : Women in Sixteenth-Century Safavid Iran". Dalam Nashat, Guity (ed.). Women in Iran from the Rise of Islam to 1800. Urbana: University of Illinois Press. hlm. 140–170. ISBN 9780252071218. OCLC 50960739.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement