Pantai berbatu

Pantai berbatu atau pantai berbatu adalah jenis ekosistem pesisir, yang memiliki substrat keras yang terdiri dari batuan induk, seperti batuan beku, metamorf, atau sedimen yang keras, atau bongkah-bongkah batuan besar (seperti granit, lava, atau batugamping) yang tersebar di sekitar pantai. Pantai berbatu adalah salah satu lingkungan pesisir dengan kepadatan makroorganisme dan keragaman spesies tertinggi. Ini berbeda dengan pantai berpasir atau berlumpur, di mana substratnya berubah-ubah dan lunak.[1]

Karakteristik

Karena beberapa faktor fisik, lingkungan pantai berbatu dianggap produktif dan subur. Substrat keras menawarkan tempat penempelan ideal bagi berbagai jenis biota laut, terutama invertebrata dan alga. Selain itu, wilayah ini biasanya memiliki air yang jernih dan sering mengalami frekuensi gelombang dan arus yang tinggi. Secara umum, zonasi vertikal adalah pola distribusi organisme di mana spesies yang berbeda hidup dalam pita horizontal yang berbeda dan terdefinisi dengan baik dari garis air tertinggi. Ini terutama terlihat di lingkungan intertidal (daerah pasang surut) seperti pantai berbatu atau tebing laut. Gradien faktor lingkungan yang sangat cepat berubah, seperti tingkat keterpaparan udara (desikasi), variasi suhu, salinitas, dan intensitas gelombang, menyebabkan pembagian ini. Untuk bertahan hidup di lingkungan yang berbeda, organisme di setiap zona telah mengembangkan adaptasi fisiologis dan perilaku yang berbeda. Misalnya, di daerah tertinggi (supralittoral) spesies harus sangat toleran terhadap kekeringan, sedangkan di daerah terendah (sublittoral), persaingan dari spesies bawah air menjadi faktor utama yang membedakan daerah tersebut. Dalam ekologi, fenomena zonasi vertikal ini adalah contoh klasik tentang bagaimana faktor fisik membatasi dan mengatur struktur komunitas biologis. Untuk bertahan hidup di pantai berbatu, hewan menggunakan berbagai cara yang luar biasa untuk mengakomodasi biota. Desikasi (kekeringan), paparan sinar matahari, dan hantaman gelombang yang kuat saat air pasang adalah kondisi utama yang harus dihadapi. Banyak hewan, seperti siput laut (littorinids) dan teritip (barnacles), dapat menghindari kekeringan dengan menutup cangkangnya rapat-rapat dengan operkulum atau menyimpan air di rongga mantel. Sementara itu, organisme telah mengembangkan mekanisme penempelan yang kuat untuk menghadapi energi gelombang yang besar. Misalnya, kerang dan remis menggunakan benang bisus yang lentur dan kokoh untuk menempel pada substrat, bulu babi dan bintang laut menggunakan kaki tabung yang dilengkapi dengan pengisap, dan alga memiliki pelekat yang sangat kuat. Selain itu, banyak biota mencari perlindungan dengan hidup dalam kelompok kecil atau berlindung di celah batu atau kolam pasang, yang menawarkan perlindungan dari predator, gelombang, dan cuaca ekstrem. Adaptasi lengkap ini memungkinkan pantai berbatu menjadi salah satu ekosistem pesisir dengan kepadatan dan keragaman makroorganisme yang sangat tinggi, meskipun lingkungan fisiknya dianggap keras.[2][3]


Referensi

  1. ^ Miller, Richard S.; Odum, E. P. (1954). "Fundamentals of Ecology". Oikos. 5 (1): 134. doi:10.2307/3564656. ISSN 0030-1299.
  2. ^ Baumgartner, Ted A. (2008-01-14). "Reading Statistics and Research (5th ed.)". Measurement in Physical Education and Exercise Science. 12 (1): 52–54. doi:10.1080/10913670701715307. ISSN 1091-367X.
  3. ^ Astjario, Prijantono; Setiady, Deny (2016-02-16). "KARAKTERISTIK PANTAI DI KAWASAN PESISIR TIMUR PULAU NATUNA BESAR, KABUPATEN NATUNA, PROPINSI RIAU". JURNAL GEOLOGI KELAUTAN. 8 (1): 47. doi:10.32693/jgk.8.1.2010.185. ISSN 1693-4415.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement