Pahlawan yang enggan

Katnis Everdeen, sebenarnya di awal cerita Hunger Games tidak memberi kesan bahwa ia adalah seorang pahlawan. Ia hanya gadis biasa yang kebetulan menggantikan posisi adiknya, dan menjadi peserta paling diremehkan. Tindakannya di awal cerita, bahkan lebih kepada aksi menyelamatkan kepentingan dirinya sendiri, ketimbang memang dimaksudkan untuk menyelamatkan nasib umat manusia dari penindasan

Pahlawan yang enggan atau lebih dikenal dalam istilah Bahasa Inggrisnya, reluctant hero, adalah sebuah arketipe kepahlawanan yang umumnya ditemukan dalam karya fiksi, sebagai turunan dari arketipe pahlawan dalam bahasan arketipe dalam psikologi Jungian. Pahlawan jenis ini biasanya digambarkan sebagai orang biasa, tanpa keistimewaan, yang terjebak dalam situasi luar biasa yang menuntutnya untuk melakukan tindakan heroik, atau sebagai seseorang yang memiliki kemampuan khusus namun memiliki keinginan untuk menghindari penggunaan kemampuan tersebut demi kepentingan pribadi yang tanpa pamrih.[1]

Dalam kedua kasus tersebut, pahlawan yang enggan tidak mencari petualangan atau kesempatan untuk berbuat baik sejak awal, dan malah memperlihatkan sifat mementingkan diri sendiri yang tampak pada awalnya sering kali membuat mereka masuk ke dalam kategori antihero. Hanya saja, perbedaan pahlawan yang enggan dengan seorang antihero adalah bahwa alur cerita pahlawan yang enggan pada akhirnya membawa mereka menjadi pahlawan yang sesungguhnya.

Dalam banyak cerita, seorang pahlawan yang enggan, akan memiliki periode meragukan diri sendiri setelah ia mulai memperlihatkan kecenderungannya untuk jadi pahlawan. Ini bisa muncul karena ia mendapat konsekuensi negatif atas tindakan kepahlawanannya atau saat ia kembali ke posisi amannya, yang membuat pembaca bertanya-tanya, apakah ia akan kembali kepada karakter seorang pahlawan jika dalam kondisi yang sangat dibutuhkan.[2]

Contoh paling umum dan dikenal dari arketipe ini adalah Yunus, yang awalnya meragukan kemampuannya sendiri saat terpilih sebagai nabi. Ia menolak ilham itu, melarikan diri dari tanggung jawabnya, untuk kemudian menyadari dan menerima takdirnya setelah ditelan oleh paus[3].

Definisi

Beberapa penulis memberi definisi yang bisa digunakan untuk menciptakan karakter dengan arketipe pahlawan yang enggan, antara lain:

"Seorang pahlawan yang enggan adalah manusia biasa yang tidak sempurna dengan beberapa kekurangan atau masa lalu yang bermasalah, dan ia ditarik dengan enggan ke dalam cerita, atau ke dalam tindakan heroik. Selama cerita berlangsung, ia mampu menghadapi tantangan tersebut, terkadang bahkan mengalahkan musuh yang kuat, atau membalas sebuah kesalahan. Namun ia mempertanyakan apakah ia memang pantas dalam urusan kepahlawanan ini. Keraguan, kegelisahan, dan kesalahannya memberikan lapisan ketegangan yang memuaskan dalam sebuah cerita".[4]

​Atau dalam hal membangun cerita dalam permainan video:

Aspek luar biasa dari pahlawan yang enggan adalah bahwa ia tidak harus mematuhi stereotipe apa pun, seperti menjadi sangat kuat atau seorang ahli kung-fu yang terlatih. Mereka bisa saja orang biasa di jalanan; bahkan, sering kali pemikiran mereka yang sederhana dan membumi itulah yang menyelamatkan situasi. Sifat biasa ini merupakan faktor penting yang memungkinkan penonton untuk memahami dan membangun ikatan dengan sang pahlawan.[5]

Contoh

Beberapa karya besar memperlihatkan arketipe pahlawan yang enggan, seperti:

  • Son Gohan dalam cerita Dragon Ball. Sekalipun punya darah manusia saiya, ia awalnya lebih memilih berkuliah sebagai manusia biasa.
  • Sir Balian dari Ibelin dalam film Kingdom of Heaven. Ia lebih memilih jadi tukang besi biasa dan ujungnya terpaksa mencari pengampunan dengan berpartisipasi dalam perang salib setelah membunuh pendeta karena emosi.
  • John McClane, seorang polisi biasa yang kasar dalam cerita film Die Hard. Ia mengamuk dan merusak rencana teroris setelah perayaan malam natalnya terganggu.

Referensi

  1. ^ "How to Write A Reluctant Hero That Stands Out". Writersparkacademy.
  2. ^ "6 Types of Heroes You Need in Your Story". NY Book Editors.
  3. ^ "You Think I'm What? (A Tribute To the Reluctant Hero)".
  4. ^ Jessica Morrell, Bullies, Bastards And Bitches: How To Write The Bad Guys Of Fiction (2008), p. 62, ISBN 1582974845.
  5. ^ Leo Hartas, The Art of Game Characters (2005), p. 82, ISBN 0060724315.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement