Pabrik Gula Pecangaan
pada awal abad ke XVII Jepara telah dikenal sebagai penghasil gula bersama Banten, Jayakarta, dan Kerawang.
Bahkan kemudian Jepara pada tahun 1710 tercatat pembuatan gula di Jepara telah sejajar dengan Batavia, dan Cirebon, walaupun proses produksinya belum menggunakan mesin pada linimasa 1836 dimulai penanaman temu secara intensif di wilayah Jepara, yang kemudian menjadi embrio pabrik gula Pecangaan.
Ini masa tanam paksa setelah Belanda bangkrut gara-gara perang Jawa tahun 1825-1830. Namun jauh sebelum itu, pada tahun 1700, Jepara telah dikenal sebagai daerah penghasil tebu.Baru kemudian didirikan pabrik gula Pecangaan.[1]
Satu hal yang menarik pendirian pabrik ini juga berbarengan dan berurutan dengan penataan kawasan, ada administratuur huis, zieken huis (sekarang puskesmas), dan hunian lainnya yang menandakan adanya struktur yang rapi dan tertata layaknya kawasan industri sekarang ini.
Yang menarik adalah pemasangan cerobong pabrik dari bulan Mei 1927-September 1927. Ada beberapa temuan bahwa cerobong asap ini dipasang perpanel karena ada bukti panel – panel cerobong yang tersusun sampai atas dengan tinggi sekitar 60 m serta pengerjaan yang sangat singkat untuk ukuran pada zaman itu,
Pabrik Pecangaan milik E. Vos dengan penanaman seluas 400 bahu dan Pabrik Mayong De Hoop milik I Haig dan Clifford seluas 550 bahu. [2]
Referensi
- ^ "Kebesaran Industri Gula Jepara yang Terlupakan, Siswa SMAN 1 Tahunan Kunjungi Situs Pabrik Gula Pecangaan". SuaraBaru.id. 2025-09-20. Diakses tanggal 2026-04-16.
- ^ "Ingin Menjadi Pelajar Cinta Cagar Budaya, 390 Siswa SMAN 1 Tahunan Telusuri Warisan Sejarah Jepara". SuaraBaru.id. 2025-09-28. Diakses tanggal 2026-04-16.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


