PLTA Mentarang Induk
| PLTA Mentarang Induk | |
|---|---|
| Negara | Indonesia |
| Lokasi | Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara |
| Koordinat | 3°36′N 116°12′E / 3.6°N 116.2°E |
| Kegunaan | Pembangkit listrik |
| Status | UC |
| Mulai dibangun | 2023 |
| Biaya konstruksi | US$2,6–3,2 miliar (perkiraan) |
| Pemilik | PT Kayan Hydropower Nusantara |
PLTA Mentarang Induk adalah proyek pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 1.375 MW yang sedang dikembangkan di Sungai Mentarang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Proyek ini dikelola oleh PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN), perusahaan patungan yang dimiliki oleh PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (50%), Sarawak Energy (25%), dan PT Kayan Patria Pratama (25%).[1]
PLTA ini dirancang untuk memasok listrik energi terbarukan bagi kawasan industri Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI) Tanah Kuning, yang menjadi pusat pengembangan industri hilirisasi hijau seperti nikel, aluminium, dan material baterai.
Latar belakang
Wilayah Kalimantan Utara dikenal memiliki potensi hidro lebih dari 9 GW, terutama di daerah aliran Sungai Kayan dan Sungai Mentarang.[2] Pemerintah Indonesia menetapkan KIPI sebagai Proyek Strategis Nasional, sehingga kebutuhan pasokan listrik rendah karbon menjadi prioritas, salah satunya melalui pembangunan PLTA Mentarang Induk.
Deskripsi proyek
Dengan kapasitas terpasang 1.375 MW, PLTA ini menggunakan desain bendungan dan sistem run-of-river yang dikendalikan oleh waduk. Komponen utama proyek mencakup:
- Bendungan utama dan terowongan pengelak
- Rumah pembangkit
- Saluran transmisi 275–500 kV ke KIPI
- Jalan akses dan infrastruktur pendukung
Produksi listrik tahunan diperkirakan mencapai 8–9 TWh per tahun.[2]
Pengembang dan kepemilikan
Per tahun 2025, komposisi pemegang saham PT Kayan Hydropower Nusantara adalah:
- 50% – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
- 25% – Sarawak Energy Berhad
- 25% – PT Kayan Patria Pratama
Tahap awal proyek pernah melibatkan Sarang Energy Group sebelum struktur kepemilikan berubah.[3]
Konstruksi
Acara peletakan batu pertama (groundbreaking) berlangsung pada 1 Maret 2023.[3] Pekerjaan awal seperti pembangunan jalan akses dan persiapan lokasi dimulai pada 2023–2024.[4]
Pengembang menargetkan financial close pada tahun 2026, setelah itu pembangunan EPC skala penuh akan dipercepat.[5] Operasi komersial direncanakan sekitar 2029–2030.
Tujuan dan integrasi industri
PLTA Mentarang Induk merupakan pemasok energi utama bagi KIPI Tanah Kuning, yang direncanakan akan menjadi pusat industri:
- Pengolahan nikel (HPAL, matte, NPI, dan ferronikel)
- Smelter aluminium
- Produksi komponen baterai kendaraan listrik
- Pengembangan hidrogen dan amonia hijau
Pasokan energi terbarukan ini mendukung ambisi Indonesia untuk memproduksi "logam hijau" untuk pasar ekspor.
Dampak lingkungan
Proyek ini tunduk pada persyaratan AMDAL. Pengelola melakukan upaya mitigasi berupa pengelolaan DAS, pemantauan biodiversitas, pengendalian sedimen, dan pelibatan masyarakat sekitar di Kabupaten Malinau.
Lihat pula
- Kalimantan Industrial Park Indonesia
- Adaro Energy
- Sarawak Energy
- Energi hidro di Indonesia
- Sungai Kayan
Referensi
- ^ "Adaro (ADRO) Kuasai 50% Saham Kayan Hydropower". IndoPremier. Diakses tanggal 2024-11-15.
- ^ a b "Mentarang hydroelectric plant". Global Energy Monitor. Diakses tanggal 2024-11-15.
- ^ a b "Sarawak moves closer to regional powerhouse aspiration through hydropower venture in Indonesia". Sarawak Energy. 2023-03-01. Diakses tanggal 2024-11-15.
- ^ "Kayan Hydropower akan kebut proyek PLTA Mentarang". Dunia Energi. 2025-03-08. Diakses tanggal 2025-01-12.
- ^ "Kayan Hydropower targets Q1 2026 financial close for major hydropower project". Petromindo. Diakses tanggal 2025-01-12.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


