PL-17

PL-17

PL-17 pada J-16
Jenis Rudal udara-ke-udara jarak jauh (BVRAAM)
Negara asal  Tiongkok
Sejarah pemakaian
Masa penggunaan 2022 – sekarang
Digunakan oleh Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF)
Sejarah produksi
Perancang Luoyang Electro-Optics Technology Development Centre (EOTDC)
Tahun ± 2010-an
Produsen Aviation Industry Corporation of China (AVIC)
Spesifikasi
Panjang ± 6 m
Diameter ± 30 cm

Hulu ledak Hulu ledak fragmentasi

Jenis Mesin Motor roket bahan bakar padat
Daya jelajah Diperkirakan > 400 km (250 mi)
Kecepatan > Mach 4
Sistem
pemandu
Pemandu inersia + satelit (fase awal),
Radar AESA aktif (fase akhir)
Alat
peluncur
J-16, Su-30MKK, Su-35

PL-17 (Nama pelaporan NATO: CH-AA-12 Auger[1]) atau PL-20 adalah rudal udara-ke-udara di luar jangkauan visual (BVRAAM) yang dikembangkan oleh Republik Rakyat Tiongkok untuk Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF). Rudal ini diklaim memiliki jangkauan lebih dari 400 km (250 mi) dan dirancang khusus untuk menargetkan aset udara bernilai tinggi (HVAA) seperti pesawat tanker dan pesawat peringatan dini dan kendali (AEW&C).[2][3][4]

Sejarah

Pengembangan PL-17 dimulai sekitar satu dekade sebelum artikel ini ditulis, dengan uji coba pertama pada pesawat J-16 pada tahun 2016.[5] Kemunculan rudal ini beberapa kali terdeteksi di ruang publik, salah satunya ketika sebuah rudal putih berukuran panjang terlihat melengkapi jet tempur J-16.

Pada Oktober 2022, media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa PL-17 telah resmi memasuki layanan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat.[5]

Desain

PL-17 dikembangkan oleh Luoyang Electro-Optics Technology Development Centre (EOTDC), bagian dari Aviation Industry Corporation of China (AVIC).[5]

Dimensi

Rudal ini menonjol karena ukurannya yang besar, dengan panjang mencapai 6 meter dan diameter sekitar 30 cm. Sebagai perbandingan, PL-15 yang merupakan pendahulunya memiliki panjang 4 meter dan diameter 20,3 cm.[5]

Propulsi

PL-17 menggunakan motor roket berbahan bakar padat (solid-fuel rocket motor), berbeda dengan PL-15 yang menggunakan sistem dual-pulse. Ukuran motor yang besar memungkinkan rudal ini mencapai jangkauan ekstrem. Kecepatan maksimalnya diperkirakan mencapai Mach 4 atau lebih.[5]

Sistem Pemandu

Untuk mencapai target pada jarak hingga 400 km, PL-17 menggunakan pemandu inersia dan satelit pada fase awal penerbangan. Pada fase akhir (terminal) saat mendekati target, rudal ini mengaktifkan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) mandiri yang diklaim sulit diganggu oleh peperangan elektronik (electronic warfare).[5]

Rudal ini kemungkinan menggunakan jalur terbang lofting, yaitu menanjak ke stratosfer di mana hambatan udara rendah, sebelum menukik tajam ke arah target untuk memaksimalkan jangkauan.[5]

Penggunaan Taktis

Melihat jangkauannya yang sangat jauh, PL-17 dirancang untuk tugas menghancurkan target-target penting di udara seperti pesawat AEW&C (Airborne Early Warning and Control) maupun pesawat tanker. Kedua jenis target tersebut memiliki peran krusial: pesawat AEW&C berfungsi sebagai koordinator pertempuran di udara, sementara pesawat tanker menyediakan kemampuan jelajah panjang bagi jet tempur.[5]

Pada jarak jangkau terjauhnya, kemampuan manuver rudal berkurang dibandingkan saat baru diluncurkan. Oleh karena itu, rudal ini paling cocok untuk menghancurkan pesawat berukuran besar yang tidak lincah seperti pesawat AEW&C, pesawat tanker, atau drone intai yang terbang pelan.[5]

Platform Peluncur

Karena ukurannya yang panjang, PL-17 tidak dapat dibawa di dalam ruang senjata internal (internal weapon bay) jet siluman seperti J-20. Rudal ini lebih sering terlihat melengkapi jet tempur kelas berat seperti J-16, serta Su-30MKK dan Su-35 dalam inventori PLAAF.[5]

Dalam skenario pertempuran, J-20 dapat berperan membantu menyuplai data target, sementara J-16 bertindak sebagai pembawa rudal.[5]

Perbandingan dengan Rudal Lain

Jangkauan PL-17 yang diperkirakan mencapai 400 km jauh melampaui rudal AIM-120D AMRAAM dari Amerika Serikat yang memiliki jangkauan 180 km maupun AIM-260 JATM yang sedang dikembangkan dengan jangkauan maksimal 250 km.[5]

Kemunculan PL-17 disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang mendorong Amerika Serikat untuk mempercepat pengembangan AIM-260 JATM dan amunisi jarak jauh lainnya.[5]

Peran dalam Strategi A2/AD

PL-17 dikembangkan sebagai bagian dari strategi Anti-Access/Area Denial (A2/AD) Tiongkok. Strategi ini bertujuan menjaga agar kekuatan udara asing tetap berada di luar Garis Rantai Pulau Pertama (First Island Chain), yang dalam konsep geopolitik dan militer Tiongkok digunakan untuk menggambarkan garis pertahanan alami di sepanjang pesisir timur daratan Asia.[5]

Lihat Juga

Referensi

  1. ^ Barrie, Douglas (29 July 2024). "Phoenix successor redux: the USN's range riposte to China's PL-17?". International Institute for Strategic Studies.
  2. ^ Barrie, Douglas (20 January 2024). "Air-to-air missiles push the performance, payload envelope". International Institute for Strategic Studies.
  3. ^ Barrie, Douglas (8 October 2021). "China fires longer-range AAM at export market". International Institute for Strategic Studies.
  4. ^ Williams, Zachary (21 November 2022). "Takeaways From China's Zhuhai Air Show 2022". The Diplomat.
  5. ^ a b c d e f g h i j k l m n "Maut dari jarak 400 km, PL-17 "tombak baru" di udara dari Negeri Tirai Bambu". Airspace Review. 31 January 2026.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement