Operasi Trisula
| Operasi Trisula | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Pembantaian di Indonesia 1965–1966 | |||||||
Monumen Trisula pada tahun 2010 | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
| |||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
|
| ||||||
| Kekuatan | |||||||
|
5.000 pasukan Dukungan udara: 2 A-26 3 P-51 1 C-130 3 T-6 4 Mil Mi-4 | Tidak diketahui | ||||||
| Korban | |||||||
|
18 tentara tewas 2 polisi terluka | |||||||
Operasi Trisula merupakan operasi yang dilaksanakan oleh Tentara Nasional Indonesia dalam rangka menumpas sisa-sisa Gerakan 30 September yang melarikan diri di daerah Blitar Selatan,operasi ini adalah lanjutan dari Operasi Merapi dan Operasi Kikis.[1]
Geografis
Daerah operasi trisula memiliki kontur wilayah yang cenderung tandus serta berbukit bukit serta memiliki banyak sekali goa. Jalur akses menuju Blitar Selatan sangat sulit untuk dilalui kendaraan lapis baja milik TNI ketika menuju daerah tersebut mereka menghadapi medan pegunungan yang sulit serta adanya hutan yang begitu luas,daerah ini memiliki tebing yang menyimpan gua. Gua ini dimanfaatkan dengan baik oleh para gerilyawan PKI. Pendaratan juga agak susah untuk dilakukan di sekitaran pesisir, untuk mendarat di daerah tersebut biasanya harus melewati teluk popoh dan teluk sine.[2]
Aktivitas transportasi juga sangat terbatas hanya berada di Blitar Utara, sebelah selatan Sungai Brantas adalah jalan raya utama yang menghubungkan Blitar,Tulungagung, dan Malang. Tempat yang dilalui oleh arus transportasi ini merupakan pusat komunikasi Blitar Selatan dengan daerah luar, hanya ada dua jalur kendaraan yang bisa dilalui ke Blitar Selatan dan itupun dalam kondisi yang buruk yaitu jalan dari Kademangan ke Plandirejo dan jalan dari Lodoyo ke Serang.[2]
Latar belakang
Setelah kegagalan operasi G30s pada tahun 1965, anggota PKI yang tersisa menjadi buronan oleh pasukan TNI. Pada tahun 1968 anggota PKI yang tersisa melarikan diri menuju Blitar selatan. Daerah Blitar Selatan dinilai sangat strategis sebagai tempat persembunyian dan berkumpulnya gembong-gembong PKI, karena daerah tersebut berupa perbukitan dan goa yang sulit untuk dijangkau oleh pasukan darat. Untuk melaksanakan operasi tersebut Panglima Komando Daerah Militer VIII/Brawijaya membentuk Komando Satuan Tugas Operasi yang bernama Satgas Trisula pada tanggal 25 Mei 1968 dengan daerah operasi Blitar Selatan, Malang Selatan dan Tulungagung dengan tujuan untuk menumpas sisa-sisa pemberontakan G30S/PKI.[3]
Para simpatisan PKI juga melakukan aksi teror, penyergapan, dan penjarahan. Selain melakukan aksi di Blitar Selatan mereka juga melakukan aksi di daerah Surakarta dan Klaten, ada catatan yang meringkus aksi yang dilakukan PKI antara lain:[4][5]
| Tanggal | Serangan | Jenis serangan | Kerugian |
|---|---|---|---|
| 20 Februari 1968 | Gerombolan PKI menyergap C.O Kandangan | Penyergapan | 2 pucuk senjata dirampas |
| 1 Maret 1968 | Gerombolan PKI menyergap PUSKOPAD Kaligentong dan berhasil membunuh 2 tentara | Penyergapan | 3 pucuk senjata Sten, 9 pucuk senjata Karabin M1, dan 1 pucuk pistol |
| 14 April 1968 | Gerombolan PKI menyergap gedung Kopasgat tetapi penyergapan itu berhasil dihadang | Penyergapan dan Penyerbuan | Beberapa bangunan rusak |
Pada tanggal 15 April 1968, tim intel Yonif 511/Dibyatara Yudha menangkap Letkol Inf Pratomo, mantan Dandim 0601/Pandegelang periode 1964-–1965 di daerah Bakung, Kabupaten Blitar. Dari keterangannya, diperoleh informasi-informasi mengenai "ruba" (ruang bawah tanah) di Blitar Selatan dan bentuk-bentuk organisasi PKI maupun komposisi personalia.[6]
Dari beberapa hasil yang diperoleh tim intelejen, informasi tersebut sangat berharga bagi peningkatan evaluasi maupun perkiraan intel untuk kepentingan operasi selanjutnya. Sebagai tindak lanjut dari langkah pertama ABRI, hasil perumusan Kodam VIII/Brawijaya atas evaluasi pelaksanaan PRINOP 01/02/1968 dituangkan dalam konsep operasi menjadi PRINOP 02/05/1968 Danrem 081/Dhirotsaha Jaya, yang intinya sebagai berikut:[7]
- Sasaran khusus penghancuran proyek basis PKI Blitar Selatan.
- Menggunakan dua Kompi Intai BRIGIF LINUD untuk operasi penjajagan sebagai tahap pertama di daerah segitiga SMN (Suruhwadang - Maron - Ngeni) yang merupakan desa-desa proyek mutlak PKI.
- Menggunakan satuan-satuan tempur Infanteri, Yonif 511/Dibyatara Yudha, Yonif 521/Dadaha Yudha dan bantuan hansip/wanra Blitar Selatan dan Tulungagung sebagai pasukan penutup.
- Mengembalikan/mengamankan kewibawaan pemerintah dengan cara menempatkan care taker pamong desa ABRI di Blitar Selatan.
- Pos komando operasi bertempat di Kademangan.
Pelaksanaan
Pada hakikatnya daerah Operasi Trisula meliputi seluruh wilayah Jawa Timur yaitu wilayah Kodam VIII/Brawijaya, akan tetapi rencana tersebut berubah dan hanya dipusatkan di Blitar Selatan. Melalui operasi intelejen yang dilaksanakan jauh hari sebelum Operasi Trisula, dapat diketahui bahwa Blitar Selatan merupakan sebuah compro pusat pemulihan PKI. Para tokoh-tokoh komunis yang menjadi target penangkapan ABRI di Jakarta, menjadikan Blitar Selatan sebagai wilayah basispembangunan kembali PKI di seluruh Indonesia. Pelaksanaan Operasi Trisula didahului oleh pergeseran pasukan ke sektor-sektor yang telah ditentukan, seluruh daerah operasi ditutup mulai tanggal 5 Juni 1968. Batas-batas penutupan dimulai dari tiga arah:[8]
- Sebelah Barat: Campur Darat, Tulungagung Selatan.
- Sebelah Utara: sepanjang jalan raya Tulungagung tepi Sungai Brantas hingga Kalipare, Blitar Selatan.
- Sebelah Timur: Kalipare lurus ke Selatan melalui Sumbermanjing Kulon sampai garis pantai Samudera Hindia.
Tenaga bantuan dalam penutupan daerah operasi melibatkan Hansip, Wanra beserta rakyat yang melakukan ronda kampung. Maksud penutupan adalah agar tokoh-tokoh sisa G.30.S/PKI tidak lolos dari wilayah basis. Selain itu, penutupan juga diharapkan agar wilayah Selatan terisolir dan tidak memungkinkan adanya bantuan-bantuan dari luar untuk PKI yang berada di Blitar Selatan. Garis penutupan ini juga berfungsi sebagai Garis Straggler bagi satuan-satuan operasionil. Daerah operasi ditutup rapat siang dan malam dan hanya ada beberapa koridor akses dibuat, tetapi tetap dalam pengawasan ketat para petugas.
Pada tanggal 26 Mei 1968, Mayor Inf Soekotjo selaku Komandan Yonif 531/Para dan Mayor Inf Djasripan sebagai Perwira Seksi I Brigif Linud 18/Trisula mengadakan penyelidikan dan pengintaian untuk memperoleh informasi terbaru dari wilayah operasi. Hasil penyelidikan diserahkan kepada Komandan Satgas Trisula pada tanggal 28 Mei 1968 untuk dibahas dan sebagai petunjuk dalam mengambil tindakan operasional dilapangan.
Dengan terbentuknya susunan satuan tugas dan rencana operasi, maka seluruh komponen untuk menggelar Operasi Trisula telah selesai. Kodam VIII/Brawijaya sebagai pelaksana memiliki wewenang penuh untuk mengkoordinasi seluruh kesatuan-kesatuan infanteri reguler dalam melaksanakan tugas pokok operasi. Oleh karena itu dalam rangka persiapan penumpasan sisa-sisa gerombolan PKI di Blitar Selatan, batalyon-batalyon yang di bentuk sebagai SATGAS Trisula adalah batalyon dibawah garis struktural Kodam VIII/Brawijaya Jawa Timur. Unsur bantuan tempur lain yang tergabung dalam batalyon pelaksana berasal dari kesatuan Kostrad dan Corps Intel.
Operasi
Pada tanggal 1 Juni 1968 pasukan Indonesia yang berjumlah 5,000 prajurit dan dibantu oleh milisi yang berjumlah 3,000 orang resmi diturunkan untuk menggelar operasi Trisula yang berdasar pada taktik kontra insurgensi. [9]Pada tanggal 27-30 Juni 1968 pasukan Indonesia melancarkan operasi gempuran yang diberi kode Operasi Bambu runcing yang berhasil menangkap 12 gerilyawan PKI.[10]
Dalam fase pertama operasi ini, pasukan Indonesia berhasil menawan setidaknya 4,000 simpatisan PKI dan warga sipil yang diduga berafiliasi dengan PKI, tak hanya itu mereka juga menawan detasemen PKI yang berada disana untuk mengincar para pasukan Indonesia. [11]
Untuk mendukung pergerakan pasukan darat maka Angkatan Udara juga membantu dan memberikan sebuah perlawanan yang sangat kuat, degan menurunkan 2 pesawat pengebom A-26 Invader,3 pesawat tempur P-51 Mustang,3 pesawat pengintai T-6 Texan(AT-14 Harvard),dan beberapa pesawat C-130 Hercules serta Kompi PGT.[12]
Operasi penghancuran pun dilaksanakan oleh para pesawat pembom A-26,pesawat ini melepaskan roket dan bom ke arah gua milik gerilyawan PKI untuk membombardir posisi gerilyawan. Pengeboman ini berhasil merusak tebing dan membunuh para gerilyawan disana.[13]
Operasi gabungan ini tentu sangat kuat bahkan dapat memaksa para gerilyawan untuk menyerah tetapi ada pula gerilyawan yang masih melakukan aksi disana, beberapa hari setelah bergerak ke selatan TNI dapat membongkar markas Blitar Selatan para pasukan TNI sempat menghadapi baku tembak yang singkat tetapi mereka pada akhirnya dapat mengalahkan gerilyawan PKI itu dengan mudah.[7]
Referensi
- ^ 40 tahun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia: Masa pembangunan dan pemantapan ABRI (1965-1985). Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI. 1985.
- ^ a b Kuntoro, Supriaji (2014-10-03). "Peranan Batalyon Infanteri 511/Dibyatara Yudha Blitar Dalam Operasi Trisula di Blitar Selatan". Universitas Negeri Surabaya. 2: 611.
- ^ Media, Kompas Cyber (2022-01-05). "Operasi Trisula, Penumpasan Sisa-sisa PKI di Blitar Selatan". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2023-10-01.
- ^ Kuntoro 2014, hlm. 617-618.
- ^ Jasin, M. (1998). Saya tidak pernah minta ampun kepada Soeharto: sebuah memoar. Pustaka Sinar Harapan. hlm. 84. ISBN 978-979-416-581-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Djamaluddin, Dasman (2008). Jenderal TNI anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar. Grasindo. ISBN 978-979-025-310-0.
- ^ a b Brawijaya, Indonesia Angkatan Darat Semdam VIII (1969). Operasi Trisula Kodam VIII Brawidjaja. Jajasan Taman Tjandrawilwatikta.
- ^ Kuntoro 2014, hlm. 617.
- ^ Jusuf, Windu. "Operasi Trisula Digelar TNI untuk Bangkitkan Sentimen Anti-Komunis". tirto.id. Diakses tanggal 2025-10-05.
- ^ Leksana, Grace Tjandra (2025-10-01). Memory Culture of the Anti-Leftist Violence in Indonesia: Embedded Remembering (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-040-79490-6.
- ^ Brawijaya, Indonesia Angkatan Darat Semdam VIII (1969). Operasi Trisula Kodam VIII Brawidjaja. Jajasan Taman Tjandrawilwatikta.
- ^ Ratna (2004). Sejarah TNI Angkatan Udara: 1960-1969. Subdisjarah Diswatpersau. hlm. 132. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Ratna 2004, hlm. 133-134.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


