Nyimas Pakungwati

Nyi Pakungwati, Nyimas Pakungwati atau Nyimas Ratu Pakungwati adalah istri dari Syekh Syarif Hidayatullah atau yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Nyimas Pakungwati merupakan putri dari Pengeran Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana) dengan Nyimas Endang Geulis.[1] Sebelum penobatan Sunan Gunung Jati sebagai penguasa Cirebon, beliau terlebih dahulu mempersunting Nyimas Pakungwati pada 1478 M.[2] Nyimas Pakungwati diangkat sebagai permaisuri yang keturunannya kelak diharapkan menjadi penerus Cirebon, namun beliau tidak melahirkan anak, sehingga Sunan Gunung Jati mengangkat penerus dari istri yang lain.[3]

Sebagai penguasa Cirebon, Pangeran Walangsungsang membangun Iistana di daerah Lemahwungkuk yang diberi nama Keraton Dalem Agung Pakungwati atau istana Pakungwati yang diambil dari nama putri Pangeran Cakrabuana. [1] Nyimas Pakungwati diketahui sebagai putri Pangeran Walangsungsang yang paling disayang, selain karena cantik, beliau juga dikisahkan sangat penurut, sebab itulah dikemudian hari Pangeran Walangsungsang menamai Keraton Kesultanan Cirebon dengan namanya.[4] Pakungwati sendiri memiliki arti udang perempuan (udang wadon).[3]

Pernikahan dengan Sunan Gunung Jati

Setelah beberapa lama menjadi penguasa Cirebon, Pangeran Walangsungsang kedatangan keponakannya Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), ia merupakan anak adiknya Nyimas Rara Santang yang menikah dengan penguasa Mesir. Selama beberapa waktu tinggal di Cirebon, Syarif Hidayatullah menunjukan prilaku yang baik serta dianggap mampu oleh Pangeran Walangsungsang untuk mensyiarkan agama Islam di Cirebon dan menggantikan kedudukannya sebagai penguasa Cirebon. Sunan Gunung Jati kemudian dijodohkan dengan Nyimas Pakungwati oleh Pangeran Walangsungsang sebelum akhirnya diangkat menjadi Penguasa Cirebon menggantikan kedudukannya.[4]

Wafatnya Nyimas Pakungwati

Dalam legenda yang dituturkan secara turun temurun, wafatnya Nyi Mas Pakungwati yang kala itu berkaitan dengan serangan Menjangan Wulung (sejenis sihir atau guna-guna). Menjangan Wulung tersebut diletakan di kubah/memolo Masjid Agung Cirebon. Efeknya membuat orang menjadi kepanasan sehingga tidak betah berlama-alam beribadah di dalam masjid.

Mengahadapi musibah tersebut, Sunan Gunung Jati mendapatkan petunjuk bahwa Menjangan Wulung dapat diusir dan dibunuh dengan cara melakukan Zikir semalam suntuk di Masjid, tetapi nantinya akan ada korban dari orang-orang yang dicintai Sunan Gunung Jati. Demi menentramkan Cirebon dari ganguan Menjangan Wulung, Sunan Gunung Jati kemudian mengumpulkan seluruh keluarga serta para pejabat Istana untuk melakukan dzikir di dalam masjid agung yang dilakukan selepas Isya hingga Subuh. Bersamaan dengan hancurnya Menjangan Wulung, Nyimas Pakungwati wafat di dalam masjid dalam keadaan bersujud.[4]

Referensi

  1. ^ a b Hermana (2011). "TOPONIMI DI KABUPATEN CIREBON". Patanjala. 3 (3): 424–441.
  2. ^ Hernawan, Wawan; Kusdiana, Ading (2020). BIOGRAFI SUNAN GUNUNG DJATI: Sang Penata Agama di Tanah Sunda (PDF). Bandung: LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung. ISBN 978-623-93720-1-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b Suteja (2024). CIREBONOLOGI (PDF). Sumber: Poiesis Meta. ISBN 978-623-88914-1-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ a b c "Nyi Mas Pakungwati Cirebon". 2019-10-08. Diakses tanggal 2026-03-04.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement