Muhammad bin al-Qa'im
| Muhammad bin al-Qa'im محمد ابن القائم | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pewaris sah Kekhalifahan Abbasiyah | |||||||||
| Masa jabatan | 1039–40 – 1056 | ||||||||
| Kelahiran | 1039–40[1] Bagdad, Kekhalifahan Abbasiyah | ||||||||
| Kematian | 1056[1][2] Bagdad, Kekhalifahan Abbasiyah | ||||||||
| Pemakaman | Bagdad | ||||||||
| Pasangan | Urjuwuan | ||||||||
| Keturunan | Al-Muqtadi | ||||||||
| |||||||||
| Dinasti | Abbasiyah | ||||||||
| Ayah | Al-Qa'im | ||||||||
| Agama | Islam | ||||||||
Muhammad bin al-Qa'im (bahasa Arab: محمد ابن القائم), juga dikenal sebagai Muhammad Dzakirat adalah seorang pangeran Abbasiyah, putra khalifah Abbasiyah al-Qa'im. Ia ditunjuk sebagai pewaris takhta oleh ayahnya pada pertengahan abad ke-11 M tetapi meninggal sebelum ayahnya.
Biografi
Muhammad adalah putra khalifah Abbasiyah al-Qa'im yang memerintah dari tahun 1031 hingga 1075 dan cucu khalifah al-Qadir. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abu Ja'far al-Qa'im bin Ahmad al-Qadir. Ia dikenal di Bagdad sebagai Muhammad Dzakirat.
Pada tahun 1030, kakeknya, al-Qadir menunjuk putranya Abu Ja'far al-Qa'im sebagai ahli warisnya, sebuah keputusan yang diambil sepenuhnya tanpa campur tangan dari para emir Buwaihi.[3][4] Selama paruh pertama pemerintahan al-Qa'im yang panjang, hampir tidak ada hari yang berlalu di ibu kota tanpa kekacauan. Sering kali kota itu ditinggalkan tanpa seorang penguasa; emir Buwaihi sering dipaksa meninggalkan ibu kota. Sementara pengaruh Seljuk tumbuh, Dawud Chaghri Beg menikahkan putrinya, Khadijah Arslan Khatun,[5] dengan al-Qa'im pada tahun 1056.[6]
Ayahnya, al-Qa'im menominasikannya sebagai pewaris takhta pada pertengahan abad ke-11, namun ia meninggal pada masa pemerintahan ayahnya dan ayahnya kemudian menominasikan putranya, Abdallāh (bakal al-Muqtadi) sebagai pewaris tahta berikutnya. Pada tahun 1075 al-Muqtadi menggantikan kakeknya, ketika al-Qa'im meninggal pada usia 73-74 tahun. Al-Muqtadi lahir dari pasangan Muhammad Dzakirat, putra khalifah al-Qa'im, dan seorang gadis budak Armenia bernama Urjuwuan.[7]
Referensi
- ^ a b Massignon, L.; Mason, H. (2019). The Passion of Al-Hallaj, Mystic and Martyr of Islam, Volume 2: The Survival of Al-Hallaj. Bollingen Series. Princeton University Press. hlm. 142. ISBN 978-0-691-65721-9.
- ^ Richards, D.S. (2014). The Annals of the Saljuq Turks: Selections from al-Kamil fi'l-Ta'rikh of Ibn al-Athir. Routledge Studies in the History of Iran and Turkey. Taylor & Francis. hlm. 187. ISBN 978-1-317-83255-3.
- ^ Sourdel 1978, hlm. 379.
- ^ Busse 2004, hlm. 72.
- ^ Bosworth, C. E. (1968). "The Political and Dynastic History of the Iranian World". Dalam Boyle, J. A. (ed.). The Cambridge History of Iran. Vol. 5. Cambridge University Press. hlm. 48.
- ^ Bosworth, C. E. (1970). "Dailamīs in Central Iran: The Kākūyids of Jibāl and Yazd". Iran. 8 (1): 73–95 [p. 86]. doi:10.2307/4299634. JSTOR 4299634. Diarsipkan dari asli tanggal 31 Mei 2022.
- ^ Bennison, Amira K. (2009) The Great Caliphs: The Golden Age of the 'Abbasid Empire. Princeton: Yale University Press, p. 47. ISBN 0300167989
Sumber
- Busse, Heribert (2004) [1969]. Chalif und Grosskönig - Die Buyiden im Irak (945-1055) [Caliph and Great King - The Buyids in Iraq (945-1055)] (dalam bahasa German). Würzburg: Ergon Verlag. ISBN 3-89913-005-7. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- Sourdel, D. (1978). "al-Ḳādir Bi'llāh". Dalam van Donzel, E.; Lewis, B.; Pellat, Ch. & Bosworth, C. E. (ed.). Encyclopaedia of Islam. Volume IV: Iran–Kha (Edisi 2). Leiden: E. J. Brill. hlm. 378–379. OCLC 758278456.
- Bosworth, C. E. (1968). "The Political and Dynastic History of the Iranian World (A.D. 1000–1217)". Dalam Boyle, John Andrew (ed.). The Cambridge History of Iran, Volume 5: The Saljuq and Mongol Periods. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 1–202. ISBN 0-521-06936-X.
- This text is adapted from William Muir's public domain, The Caliphate: Its Rise, Decline, and Fall.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


