Mitos pemerkosaan
Mitos pemerkosaan adalah keyakinan yang penuh prasangka, berstereotipe, dan keliru mengenai kekerasan seksual, pelaku pemerkosaan, serta para korbannya. Mitos-mitos ini sering kali berfungsi sebagai pembenaran atas agresi seksual, memicu permusuhan terhadap korban, serta menimbulkan bias dalam proses tuntutan pidana.[1][2][3]
Penelitian ekstensif telah dilakukan mengenai berbagai tipe, tingkat penerimaan, serta dampak dari mitos pemerkosaan.[4] Mitos pemerkosaan secara signifikan memengaruhi perspektif juri, lembaga investigasi, hakim, pelaku, maupun korban.[5] Pandangan yang menyesatkan tentang pemerkosaan bermuara pada tindakan penyalahan korban, stigmatisasi, peraguan atas kejujuran korban, dan problematika lainnya. Penentuan bersalahnya terdakwa serta penjatuhan vonis atas kejahatan seksual juga turut dipengaruhi oleh keyakinan-keyakinan tersebut.[6]
Perkembangan konsep
Mitos pemerkosaan berakar dari berbagai stereotipe budaya, seperti peran gender tradisional, penerimaan terhadap kekerasan interpersonal, serta kesalahpahaman atas hakikat kekerasan seksual.[1] Matthew Hale, seorang pakar hukum Inggris pada abad ke-17, mengemukakan bahwa pemerkosaan merupakan "sebuah tuduhan yang mudah dibuat namun sulit dibuktikan, dan lebih sulit lagi untuk dibela oleh pihak yang tertuduh, meskipun [sic] ia sangat tidak bersalah".[7] Pemikiran historisnya secara implisit melanggengkan banyak mitos pemerkosaan yang dijumpai saat ini dan terus diproduksi ulang dalam berbagai persidangan kasus pemerkosaan.[8]
Mitos pemerkosaan pertama kali menjadi topik penelitian pada dekade 1970-an, ketika sejumlah studi dan buku mulai mengeksplorasi konsep tersebut.[9][10][11] Sebagai contoh, pada tahun 1974, penulis feminis Susan Brownmiller mengecam "mitos laki-laki tentang pemerkosaan" yang "sengaja mengaburkan hakikat sejati dari pemerkosaan" dalam bukunya yang berjudul Against Our Will: Men, Women and Rape.[9] Di tahun yang sama, kriminolog Julia dan Herman Schwendinger meneliti berbagai miskonsepsi umum tentang pemerkosaan, termasuk gagasan bahwa pemerkosaan itu mustahil terjadi—yakni anggapan bahwa setiap perempuan yang benar-benar berupaya pasti dapat mencegah pemerkosaan—ide bahwa korban pemerkosaan "memancingnya", serta anggapan bahwa laki-laki memerkosa karena "gairah yang tak terkendali." Mereka mengistilahkan miskonsepsi ini sebagai "mitos seksis" yang "memengaruhi perlakuan terhadap korban perempuan."[11] Baik karya Brownmiller maupun studi Schwendinger menunjukkan bahwa mitos pemerkosaan melanggengkan kekerasan laki-laki terhadap perempuan dengan cara menimpakan kesalahan pada korban, memberikan pembenaran bagi pelaku, serta meremehkan atau menjustifikasi tindakan pemerkosaan tersebut.[12]
Pada tahun 1980, Martha Burt memublikasikan studi besar pertama mengenai penerimaan mitos pemerkosaan.[12] Burt mendefinisikan mitos pemerkosaan sebagai "keyakinan yang penuh prasangka, berstereotipe, dan keliru mengenai pemerkosaan, korban pemerkosaan, dan pelaku pemerkosaan" yang menciptakan "iklim yang memusuhi para korban."[1] Definisi Burt ini telah digunakan secara luas di berbagai literatur.[13]
Pada tahun 1994, Kimberly A. Lonsway dan Louise F. Fitzgerald mendefinisikan mitos pemerkosaan sebagai "sikap dan keyakinan yang umumnya keliru namun diyakini secara luas dan terus-menerus, yang berfungsi untuk menyangkal dan membenarkan agresi seksual laki-laki terhadap perempuan."[14]
Beberapa akademisi, seperti Gerd Bohner dan Heike Gerger, berpendapat bahwa deskriptor seperti "keliru" dan "diyakini secara luas" tidak seharusnya dimasukkan ke dalam definisi formal mitos pemerkosaan. Hal ini dikarenakan mitos sering kali dikonstruksi sedemikian rupa sehingga mustahil untuk difalsifikasi (seperti contoh, "banyak perempuan secara rahasia berhasrat untuk diperkosa," di mana hasrat "rahasia" tidak dapat dibuktikan kesalahannya) dan sejauh mana mitos pemerkosaan "diyakini secara luas" atau diterima dapat bervariasi dari waktu ke waktu.[13] Bohner menawarkan definisi alternatif mitos pemerkosaan sebagai "keyakinan deskriptif atau preskriptif tentang pemerkosaan (yaitu, mengenai penyebab, konteks, konsekuensi, pelaku, korban, dan interaksi mereka) yang berfungsi untuk menyangkal, meremehkan, atau membenarkan kekerasan seksual terhadap perempuan."[15][13]
Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan akademisi mengenai definisi saksama dari konsep mitos pemerkosaan, serta fakta bahwa mitos ini dapat bervariasi di berbagai budaya dan masyarakat, terdapat konsensus umum bahwa ada empat tipe dasar mitos pemerkosaan: mitos yang menyalahkan korban atas pemerkosaan yang dialaminya, mitos yang mengekspresikan keraguan atau ketidakpercayaan terhadap laporan korban, mitos yang membebaskan pelaku dari tanggung jawab, dan mitos yang mengesankan bahwa hanya tipe korban tertentu yang dapat diperkosa.[13][16]
Lonsway, Fitzgerald, dan Diana L. Payne menulis pada tahun 1999 bahwa istilah "mitos pemerkosaan" tidak berarti skenario tertentu tidak pernah terjadi, dan "jelas bahwa setiap kasus individual mungkin saja sesuai dengan karakteristik yang dijelaskan dalam mitologi laki-laki secara kultural," mengingat "tidak dapat dipungkiri terdapat persentase perempuan tertentu" yang membuat laporan palsu, serta terdapat "karakteristik situasional atau personal tertentu yang membedakan perempuan yang pernah diperkosa dengan yang tidak." Namun, mereka berargumen bahwa mitos pemerkosaan pada hakikatnya "umumnya keliru" dan berfungsi untuk menyangkal serta membenarkan viktimisasi terhadap perempuan.[12]
Diskursus heteronormatif
Heteronormativitas beserta diskursus yang menyertainya menjadi fondasi yang melanggengkan berbagai mitos pemerkosaan. Konstruksi mengenai laki-laki sebagai subjek seksual dan perempuan sebagai objek pasif berfungsi mendeligitimasi tuduhan kekerasan seksual yang bertentangan dengan norma heteroseksual, seperti dalam kasus di mana perempuan menjadi pelaku dan laki-laki menjadi korban. Melalui "diskursus dorongan seksual laki-laki," muncul anggapan bahwa laki-laki senantiasa siap dan berhasrat untuk melakukan hubungan seksual, sementara perempuan bertugas "mengaktifkan ketertarikan mereka,"[17] hal mana dapat membatalkan validitas pengalaman yang tidak sejalan dengan diskursus ini. Secara serupa, "diskursus memiliki/menjaga" (have/hold discourse) mengonstruksikan perempuan sebagai sosok aseksual, di mana kesenangan heteroseksual dianggap sebagai prioritas sekunder di bawah tujuan utama dalam menjalin hubungan dan membina keluarga.[18]
Mitos pemerkosaan yang umum
Mitos pemerkosaan yang melibatkan korban perempuan
Mitos pemerkosaan yang umum melibatkan korban perempuan antara lain:
- Bahwa perempuan lazim atau rutin berbohong mengenai pemerkosaan.[19][20][21][13][22][12][23][24]
- Bahwa pakaian yang dikenakan korban dapat memicu kekerasan seksual, atau bahwa pemerkosaan adalah kesalahan korban jika mereka mengenakan pakaian terbuka.[19][13][22][25][26][1][27][23]
- Bahwa korban memikul tanggung jawab atas suatu serangan jika mereka berada dalam keadaan mabuk saat peristiwa terjadi.[19][28][29][30]
- Bahwa sebagian besar pemerkosaan dilakukan oleh orang asing.[20][21][25][31] (Pada kenyataannya, sebagian besar pemerkosaan dilakukan oleh teman, keluarga, atau individu lain yang dikenal oleh korban.)[32][5][33][24]
- Bahwa hanya perempuan muda yang dianggap menarik secara seksual yang dapat menjadi korban pemerkosaan.[34]
- Bahwa ketika seorang pria membayar biaya makan malam atau kencan, perempuan diharapkan membalasnya dengan hubungan seksual.[19][20][22]
- Bahwa perempuan yang diperkosa sering kali layak mendapatkannya – terutama jika mereka memasuki rumah atau mobil seorang pria, atau bahwa tindakan tersebut mengindikasikan adanya persetujuan untuk berhubungan seks.[20][1][23]
- Bahwa suatu tindakan tidak dianggap sebagai pemerkosaan kecuali jika korban melawan secara fisik, atau kecuali jika korban dipaksa secara fisik hingga terluka.[35][20][25][27] (Pada kenyataannya, banyak pemerkosaan tidak melibatkan paksaan fisik, seperti dalam kasus di mana korban dalam keadaan tidak berdaya/tidak sadarkan diri, atau ketika relasi kuasa yang tidak setara memaksa korban untuk tunduk.)[36][37][38][35]
- Bahwa seorang perempuan seharusnya mampu menghindari pemerkosaan dengan cara "melawan" pemerkosa, dan bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk melakukan hal tersebut.[5][1]
- Bahwa beberapa perempuan diam-diam ingin diperkosa.[21][25][23][24][39]
- Bahwa korban menikmati pemerkosaan tersebut jika mereka mengalami orgasme atau terangsang.[40]
- Bahwa mustahil untuk memerkosa istri atau pasangan intim sendiri.[21][25][23]
- Bahwa pemerkosaan hanyalah seks yang tidak diinginkan, bukan kejahatan kekerasan.[21]
- Bahwa perempuan "memancing" pemerkosaan – misalnya dengan menggoda, berpakaian provokatif, mengonsumsi alkohol, atau berperilaku permisif secara seksual[1] – atau bahwa hanya "jenis" perempuan tertentu (yaitu "perempuan nakal") yang diperkosa.[13][1][12][41][23][24]
- Bahwa perempuan sering berkata tidak padahal yang sebenarnya dimaksud adalah ya, sebagai cara untuk menggoda pria.[42]
- Bahwa pria tidak mampu mengendalikan diri begitu mereka terangsang secara seksual, bahwa perempuan bertanggung jawab atas pemerkosaan jika mereka membiarkan situasi berjalan terlalu jauh,[20][25][27] atau bahwa persetujuan untuk berciuman, bercumbu, dan sebagainya merupakan persetujuan untuk berhubungan seksual.[43]
- Bahwa perempuan lazim membuat tuduhan palsu mengenai pemerkosaan karena dendam, untuk mengatasi rasa bersalah setelah pertemuan seksual yang mereka sesali, untuk menutupi kehamilan yang tidak diinginkan, atau sekadar mencari perhatian.[25][27]
- Bahwa sebagian besar pemerkosa adalah psikotik atau penderita gangguan jiwa.[44][23][24]
- Bahwa persetujuan untuk satu pertemuan seksual berarti persetujuan untuk pertemuan lainnya (yakni, bahwa tidak dianggap pemerkosaan jika korban dan pelaku sebelumnya pernah melakukan hubungan seks suka sama suka).[43]
- Bahwa korban "sejati" akan segera melaporkan pemerkosaan. (Pada kenyataannya, korban sering kali tidak segera melapor karena tekanan sosial, kemungkinan serangan balik, serta trauma seperti gangguan stres pascatrauma terkait pemerkosaan, yang juga dikenal sebagai Sindrom trauma pemerkosaan. Korban pemerkosaan mungkin juga merasakan perasaan bersalah dan malu yang menghalangi mereka untuk melaporkan kejahatan tersebut, atau melakukannya dengan segera.)[45][46][3][47][48][49]
Mitos pemerkosaan yang melibatkan korban laki-laki
Meskipun diperkirakan setidaknya satu dari tiga korban pemerkosaan dalam situasi konflik adalah laki-laki,[50] penelitian mengenai persepsi mitos pemerkosaan terhadap korban laki-laki masih relatif terbatas.[51] Beberapa mitos yang telah diidentifikasi meliputi:
- Bahwa "laki-laki tidak mungkin diperkosa oleh perempuan".[50][52]
- Bahwa "pemerkosaan terhadap laki-laki utamanya terjadi di dalam penjara".[53]
- Bahwa "diperkosa oleh penyerang laki-laki identik dengan hilangnya maskulinitas".[51]
- Bahwa "jika seorang laki-laki mengalami ereksi atau ejakulasi saat diperkosa, berarti ia menikmati tindakan tersebut".[40]
- Bahwa "laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual oleh sesama laki-laki pastilah seorang homoseksual".[51]
- Bahwa "laki-laki tidak mampu berfungsi secara seksual kecuali jika mereka terangsang secara seksual".[51]
- Bahwa "laki-laki tidak dapat dipaksa untuk melakukan hubungan seksual di luar kehendak mereka".[51]
- Bahwa "laki-laki kurang terdampak oleh kekerasan seksual dibandingkan dengan perempuan".[51]
- Bahwa "laki-laki senantiasa berada dalam kondisi siap untuk menerima kesempatan seksual apa pun".[51]
- Bahwa "seorang laki-laki diharapkan mampu mempertahankan dirinya dari serangan kekerasan seksual".[51]
- Bahwa "laki-laki mengalami trauma yang sangat minim saat diperkosa oleh perempuan".[54]
Hal ini juga mencakup keyakinan-keyakinan berikut:[55][51][39]
- "Penyangkalan": Bahwa pemerkosaan terhadap laki-laki tidak pernah ada.
- "Penyalahan": Bahwa pemerkosaan terhadap laki-laki merupakan kesalahan korban itu sendiri.
- "Trauma": Bahwa laki-laki mengalami trauma yang lebih ringan akibat pemerkosaan.
Dua kategori terakhir menunjukkan tingkat penerimaan mitos yang lebih tinggi dalam kasus di mana pelakunya adalah seorang perempuan.[55][51] Selain itu, korban laki-laki lebih sering dibebani kesalahan atas pemerkosaan yang mereka alami dibandingkan dengan korban perempuan.[56]
Mitos pemerkosaan dalam pernikahan
Jennifer Koshan menyatakan bahwa banyak mitos mengenai pemerkosaan dalam hubungan suami-istri lahir dari sikap dan hukum Inggris pada masa kolonial, yang menjadi dasar pembenaran pemberian kekebalan hukum bagi suami yang dituduh melakukan pemerkosaan terhadap istrinya.[57] Mitos-mitos tersebut meliputi:
- Perempuan dalam hubungan intim berada dalam kondisi persetujuan yang kekal,[58] atau yang disebut sebagai "teori persetujuan tersirat".[59]
- Istri tidak dapat diperkosa karena mereka telah menyatu dengan "pribadi sang suami", atau dikenal sebagai "teori coverture".[59]
- Istri menjadi properti milik suaminya, sehingga dapat diperkosa tanpa adanya sanksi hukuman.[59]
- Perempuan yang setuju untuk melakukan hubungan seks dengan pasangannya setelah pernah diperkosa tidak dapat mengeklaim bahwa dirinya telah diperkosa sebelumnya.[58]
- Diperkosa oleh suami sendiri dianggap "lebih ringan dampaknya daripada diperkosa oleh orang asing".[60]
- Tuduhan pemerkosaan dalam pernikahan hanyalah bentuk "balas dendam perempuan melalui narasi pemerkosaan",[61] dan bahwa perempuan "cenderung melakukan fabrikasi".[62]
Mitos pemerkosaan rasial

Para akademisi berpendapat bahwa rasisme tetap menjadi komponen krusial dalam diskursus kekerasan seksual di Amerika Serikat.[63] Alcoff dan Gray menyatakan bahwa korban berkulit putih yang melaporkan pemerkosaan oleh pelaku non-kulit putih cenderung lebih dipercaya dibandingkan korban non-kulit putih yang melaporkan pelaku berkulit putih.[64]
Rasialisasi korban dan pelaku
Selama masa kolonisasi Amerika Utara, para pemukim Inggris merasa heran dengan fakta bahwa laki-laki penduduk asli Amerika tidak menunjukkan ketertarikan seksual terhadap perempuan kulit putih.[65] Charles Thomson mencatat bahwa meskipun penduduk asli Amerika diketahui pernah membunuh dan melakukan pengulitan kepala terhadap perempuan kulit putih secara brutal, tidak ditemukan satu pun contoh kasus mereka memerkosa perempuan kulit putih.[65] Hal ini memicu kepercayaan luas bahwa laki-laki penduduk asli Amerika menganggap perempuan kulit putih tidak memiliki daya tarik fisik, sehingga kecil kemungkinan mereka akan melakukan pemerkosaan terhadap perempuan kulit putih.[65] Gagasan ini mendapat dukungan dari para akademisi modern, termasuk James Axtell.[65] Di sisi lain, hubungan antar-ras antara laki-laki kulit putih dan perempuan penduduk asli Amerika sangat umum terjadi di wilayah perbatasan, begitu pula dengan praktik pemerkosaan terhadap perempuan penduduk asli Amerika.[65]
Berakar dari praktik perbudakan dan akses para pemilik budak kulit putih terhadap perempuan kulit hitam, mitos pemerkosaan "Jezebel" menggambarkan perempuan kulit hitam sebagai sosok yang "tidak mungkin diperkosa" (unrapable),[66] dikarenakan adanya keyakinan bahwa mereka "permiusif secara seksual" dan penggoda, sehingga dianggap tidak akan menolak persetujuan atau justru memikat laki-laki kulit putih untuk berhubungan seks dengan mereka.[67][8] Mitos pemerkosaan rasial terhadap warga Afrika-Amerika menjadi faktor utama selama masa titik terendah relasi ras Amerika, di mana tuduhan terhadap laki-laki kulit hitam secara rutin memicu tindakan penghakiman massa (lynching) dan kerusuhan ras.[8]
Sherene Razack berargumen bahwa perempuan pribumi di Kanada sering kali dipandang secara hiperseksual, sehingga dianggap sebagai sosok yang "tidak mungkin diperkosa".[68]
Permasalahan yang timbul akibat mitos pemerkosaan
Prevalensi mitos pemerkosaan merupakan alasan utama terjadinya tindakan penyalahan korban dan stigmatisasi.[2][3] Mitos-mitos ini dapat menyebabkan korban menyalahkan diri mereka sendiri atas pemerkosaan yang dialami atau memilih untuk tidak melaporkan serangan tersebut. Selain itu, mitos ini juga membentuk respons hakim dan juri, yang memberikan dampak negatif bagi keadilan korban.[23] Beberapa studi menunjukkan bahwa petugas kepolisian sering kali bersikap skeptis terhadap keterangan korban dan banyak di antara mereka yang masih memercayai mitos pemerkosaan yang umum.[21][69][70] Sebuah survei di Skotlandia menemukan bahwa banyak polisi percaya bahwa tuduhan palsu sering terjadi, sehingga mereka cenderung tidak memercayai korban.[71] Di Inggris secara lebih luas, 19% pelapor menyatakan bahwa petugas Departemen Investigasi Kriminal memberikan pernyataan seperti "pernyataan Anda seperti dongeng" dan "Anda hanya mengada-ada."[71] Selain itu, banyak orang yang memercayai satu saja mitos pemerkosaan biasanya juga memercayai mitos pemerkosaan terhadap perempuan maupun laki-laki dalam kadar yang setara.[56] Namun demikian, laki-laki cenderung lebih sering membenarkan mitos pemerkosaan dibandingkan perempuan.[39]
Karena tingkat penerimaan mitos pemerkosaan yang dilaporkan lebih tinggi di kalangan laki-laki, serta adanya perbedaan persepsi dan sudut pandang berbasis gender lainnya, analisis oleh Patricia Yancey Martin, John R. Reynolds, dan Shelley Keith menunjukkan bahwa "lembaga peradilan yang hanya diisi oleh laki-laki akan memberikan hasil yang berbeda dibandingkan dengan lembaga yang memiliki proporsi laki-laki dan perempuan yang lebih setara."[27][72] Studi oleh Emily Finch dan Vanessa Munro terhadap juri simulasi menemukan bahwa mereka sangat dipengaruhi oleh mitos mengenai pelapor yang dalam keadaan mabuk, seperti anggapan bahwa "setiap orang yang sadar" pasti akan "menunjukkan perlawanan" terhadap pemerkosaan.[73] Komentar ini diperkuat oleh tulisan Mallios dan Meisner yang menyatakan bahwa penerimaan mitos pemerkosaan sangat problematis dalam pengaturan yudisial. Mereka menegaskan bahwa proses voir dire dapat digunakan untuk meredam bias juri yang terkait dengan praduga mengenai pemerkosaan.[74] Hakim, jaksa, dan pengacara yang kurang teredukasi mengenai mitos pemerkosaan dapat menimbulkan bias dalam persidangan. Pada tahun 1982, Hakim Bertrand Richards dari Inggris secara kontroversial mengklaim bahwa "Adalah puncak kecerobohan bagi gadis mana pun untuk melakukan hitch-hike pada malam hari. Itu sudah jelas... Dalam arti yang sebenarnya, dia memancing hal itu terjadi."[75] Pada tahun 2015, David Osborne, seorang advokat senior di Inggris, menerbitkan blog berjudul "She was gagging for it", di mana ia mengklaim bahwa laki-laki harus dibebaskan jika korban pemerkosaan terlalu mabuk untuk memberikan persetujuan.[76]
Masalah ini semakin diperburuk oleh fakta bahwa lembaga investigasi, berbagai partisipan dalam sistem hukum, serta titik kontak pertama bagi korban pemerkosaan—misalnya dokter terdekat—lebih besar kemungkinannya berjenis kelamin laki-laki. Buku tahun 2015 berjudul Asking for It karya Kate Harding membahas mitos pemerkosaan yang umum serta perbedaan antara pemerkosaan terhadap laki-laki dan perempuan. Menurut Harding, satu dari lima perempuan dan satu dari tujuh puluh satu laki-laki di Amerika Serikat akan mengalami pemerkosaan. Ia menulis, "Perempuan tidak lebih penting daripada korban potensial lainnya, tetapi kamilah target utama dari pesan dan mitos yang melanggengkan budaya pemerkosaan. Siapa pun bisa diperkosa, tetapi laki-laki tidak dikondisikan untuk hidup dalam ketakutan akan hal itu, juga tidak terus-menerus diperingatkan bahwa pakaian, pilihan perjalanan, konsumsi alkohol, dan ekspresi seksualitas mereka kemungkinan besar akan mengundang kekerasan terhadap mereka."[77]: 19
Dalam Asking for It, Harding menulis bahwa mengenai pemerkosaan, "kita cenderung tidak menganggapnya sebagai kejahatan serius kecuali jika secara bersamaan terdapat bukti kejahatan lainnya".[77]: 11 Penulis tersebut juga mengutip psikolog David Lisak yang menyatakan, "Pada akhirnya, hanya segelintir pemerkosa yang benar-benar menjalani hukuman penjara atas pemerkosaan, sebuah hasil yang mengejutkan mengingat kita memandang pemerkosaan sebagai kerabat dekat pembunuhan dalam taksonomi kejahatan kekerasan".[77]: 11 ```
Mitos kembar
Mitos kembar (twin myths) merujuk pada gagasan bahwa riwayat seksual masa lalu seorang korban membuat kesaksian mereka kurang dapat dipercaya, dan/atau membuat mereka dianggap lebih mungkin untuk memberikan persetujuan seksual. Hukum Kanada mengizinkan penyertaan riwayat seksual masa lalu dalam persidangan, namun penasihat hukum harus mengajukan permohonan berdasarkan pasal 276, dan sebuah persidangan khusus akan digelar untuk memastikan bahwa bukti tersebut tidak disalahgunakan dalam konteks mitos kembar.[78]
Penerimaan mitos pemerkosaan
Skala pengukuran
Pada tahun 1980, Martha R. Burt memperkenalkan Skala Penerimaan Mitos Pemerkosaan (Rape Myth Acceptance Scale atau RMAS).[1][79] Skala ini merupakan metode pertama untuk mengukur tingkat keyakinan seseorang terhadap mitos pemerkosaan dan menjadi instrumen yang paling banyak digunakan secara global.[12] Dengan metode Burt, penerimaan mitos pemerkosaan diukur melalui 19 pertanyaan kepada subjek. Sepuluh pertanyaan pertama berisi pernyataan yang mengesankan bahwa korban bertanggung jawab atas pemerkosaan yang dialaminya; subjek kemudian diminta menilai kebenaran pernyataan tersebut menggunakan skala tujuh poin, dari "sangat setuju" hingga "sangat tidak setuju." Pernyataan ke-11 menguji kebalikan dari gagasan ini, yaitu apakah benar setiap perempuan dapat menjadi korban pemerkosaan. Pertanyaan sisanya meminta subjek menebak proporsi laporan pemerkosaan palsu serta menilai apakah mereka cenderung memercayai korban berdasarkan karakteristik personal (misalnya gender, ras atau etnis, usia, atau hubungan korban dengan subjek).[79]
Studi awal Burt menyimpulkan bahwa banyak warga Amerika Serikat yang memercayai mitos pemerkosaan. Lebih dari separuh individu dalam survei aslinya setuju bahwa "seorang perempuan yang mendatangi rumah atau apartemen laki-laki" pada kencan pertama "menyiratkan kesediaannya untuk berhubungan seks," dan bahwa pada mayoritas kasus pemerkosaan, "korban bersifat permisif atau memiliki reputasi buruk." Lebih dari separuh responden Burt juga memperkirakan bahwa 50% atau lebih laporan pemerkosaan dibuat "hanya karena perempuan tersebut mencoba membalas dendam pada laki-laki" atau "mencoba menutupi kehamilan yang tidak diinginkan."[1]
Ukuran lain yang digunakan adalah 45 butir pertanyaan dalam Skala Penerimaan Mitos Pemerkosaan Illinois (IRMA), yang dikembangkan oleh Diana L. Payne, Kimberly A. Lonsway, dan Louise F. Fitzgerald pada tahun 1999.[12] Mereka menyimpulkan bahwa "penerimaan mitos pemerkosaan paling tepat dikonseptualisasikan sebagai kombinasi dari komponen umum dan tujuh komponen mitos yang berbeda: Dia yang memancingnya; Itu bukan benar-benar pemerkosaan; Dia tidak sengaja; Dia sebenarnya menginginkannya; Dia berbohong; Pemerkosaan adalah kejadian sepele; serta Pemerkosaan adalah kejadian menyimpang".[12]
Para pengembang IRMA menganalisis tanggapan terhadap kumpulan 95 pernyataan tentang pemerkosaan untuk menyusun skala tersebut.[12]
Berdasarkan IRMA, Skala Penerimaan Mitos Pemerkosaan Tiongkok (CRMA) dikembangkan sebagai skala spesifik budaya untuk mengukur penerimaan mitos tersebut dalam masyarakat Tiongkok. Skala ini beroperasi di bawah definisi pemerkosaan yang telah diadaptasi secara budaya; khususnya di Tiongkok, definisi hukum pemerkosaan tidak mencakup pemerkosaan dalam hubungan suami-istri dan tidak berlaku bagi korban laki-laki. Selain itu, definisi tersebut mengecualikan "jenis perilaku seksual koersif lainnya, seperti bentuk seks penetratif lain yang mencakup seks oral, seks anal, serta penetrasi vagina atau anus dengan bagian tubuh lain seperti jari atau objek lainnya." CRMA mempertahankan 25 dari 45 butir skala IRMA dan menghasilkan struktur lima faktor. Komponen mitos tersebut adalah: korban ingin diperkosa; tuduhan pemerkosaan sering kali palsu; pemerkosaan harus melibatkan kekerasan; korban bertanggung jawab atas pemerkosaan yang dialaminya; dan motivasi untuk memerkosa dapat dimaklumi.[80]
Pengaruh media terhadap penerimaan mitos pemerkosaan
Sebuah survei daring tahun 2013 terhadap mahasiswa baru di sebuah universitas di barat laut Amerika Serikat menunjukkan bahwa perempuan yang mengonsumsi tayangan olahraga arus utama lebih cenderung menerima mitos pemerkosaan. Sementara itu, baik bagi laki-laki maupun perempuan, paparan terhadap tayangan olahraga menurunkan kemungkinan mereka untuk berniat mengintervensi saat menyaksikan terjadinya kekerasan seksual.[81] Survei lain yang dilakukan secara daring pada panel riset tahun 2011 menemukan bahwa menonton telenovela atau opera sabun berhubungan dengan tingkat penerimaan mitos pemerkosaan yang lebih tinggi, sedangkan hal sebaliknya ditemukan pada kegemaran menonton tayangan bertema kriminal.[82]
Pengaruh budaya kemurnian terhadap penerimaan mitos pemerkosaan
Budaya kemurnian (purity culture) merupakan suatu bentuk idealisasi terhadap keperawanan perempuan yang sepenuhnya mengabaikan edukasi mengenai persetujuan seksual, disebabkan oleh doktrin yang semata-mata mengajarkan perempuan untuk menghindari dan menolak segala bentuk pendekatan serta interaksi seksual. Enam tema utama dalam budaya kemurnian meliputi: penekanan pada keperawanan, larangan terhadap kasih sayang fisik, tuntutan untuk menjaga kesahajaan (modesty), penjagaan gerbang seksual (sexual gatekeeping), penyangkalan terhadap otonomi tubuh perempuan, serta ketiadaan edukasi mengenai persetujuan seksual.[83] Dalam budaya kemurnian, hubungan seks pranikah dan seks dalam pernikahan dibedakan secara konkret; namun secara bersamaan, perbedaan antara seks suka sama suka dan kekerasan seksual justru tidak dikemukakan.[83] Sebuah studi tahun 2021 yang dilakukan oleh para peneliti Universitas Biola di tenggara California, Amerika Serikat, berupaya menguji hubungan antara kepatuhan pada budaya kemurnian dengan penerimaan mitos pemerkosaan (RMA) serta peningkatan kemungkinan salah identifikasi terhadap pemerkosaan. Hasil studi yang melibatkan 90 pria dan wanita Kristen ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap standar budaya kemurnian berkorelasi dengan peningkatan penerimaan serta dukungan terhadap mitos pemerkosaan, di samping tingginya kecenderungan untuk salah melabeli pemerkosaan oleh kenalan maupun pemerkosaan dalam pernikahan sebagai seks suka sama suka.[83]
Lebih jauh lagi, signifikansi yang diberikan pada kemurnian perempuan di tingkat budaya dapat menjadi indikator bagi RMA dan penguatan tendensi pemerkosaan melalui asosiasi positif dengan penerimaan mitos pemerkosaan. Sebuah analisis dari lima studi pada tahun 2022 mengenai hubungan antara pengagungan budaya terhadap kemurnian dan penerimaan mitos pemerkosaan melaporkan bahwa penekanan pada kemurnian perempuan dapat memperkuat tendensi pemerkosaan melalui promosi penerimaan mitos tersebut.[84] Data yang dilaporkan juga mendukung hipotesis bahwa intensitas keyakinan RMA yang diukur dengan Skala Penerimaan Mitos Pemerkosaan Illinois (IRMA) berkaitan erat dengan kekuatan keyakinan akan kemurnian yang diukur dengan Skala Keyakinan Kemurnian Perempuan (FPBS).[84]
Lihat pula
- Kehamilan akibat pemerkosaan
- Budaya pemerkosaan
- Kelumpuhan pemerkosaan
- Slut-shaming
- Objektifikasi seksual
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j Burt, Martha R. (February 1980). "Cultural myths and supports for rape". Journal of Personality and Social Psychology. 38 (2): 217–230. doi:10.1037/0022-3514.38.2.217. PMID 7373511 – via PsycNET.
- ^ a b "Rape Myths and Facts". Well.WVU.edu. Universitas West Virginia. 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 20 April 2017. Diakses tanggal 7 November 2017.
- ^ a b c Hockett, Jericho; Smith, Sara; Klausing, Cathleen; Saucier, Donald (2016). "Rape Myth Consistency and Gender Differences in Perceiving Rape Victims: A Meta-analysis". Violence Against Women. 22 (2): 139–167. doi:10.1177/1077801215607359. PMID 26446194. S2CID 45786878.
- ^ Lonsway, K. A.; Fitzgerald, L. F. (1994). "Rape Myths: In Review". Psychology of Women Quarterly. 18 (2): 133–164. doi:10.1111/j.1471-6402.1994.tb00448.x. S2CID 144252325.
- ^ a b c Temkin, Jennifer (2010). "'And Always Keep A-hold of Nurse, for Fear of Finding Something Worse': Challenging Rape Myths in the Courtroom" (PDF). New Criminal Law Review. 13 (4): 710. doi:10.1525/nclr.2010.13.4.710.
- ^ Satish, Mrinal (2017). Discretion, Discrimination and the Rule of Law (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 107, 112. ISBN 9781107135628.
- ^ Flood, Dawn Rae (2012). Rape in Chicago: Race, Myth and the Courts. Urbana: University of Illinois Press. hlm. 1–10.
- ^ a b c Flood. Rape in Chicago. hlm. 2.
- ^ a b Susan Brownmiller (1975). Against Our Will: Men, Women, and Rape. Fawcett Columbine. ISBN 978-0-449-90820-4.
- ^ Feild, HS (1978). "Attitudes toward rape: A Comparative Analysis of Police, Rapists, Crisis Counselors, and Citizens". Journal of Personality and Social Psychology. 36 (2): 166–179. doi:10.1037/0022-3514.36.2.156.
- ^ a b Schwendinger, Julia R.; Schwendinger, Herman (1974). "Rape Myths: In Legal, Theoretical, and Everyday Practice". Crime and Social Justice. 1: 18–26.
- ^ a b c d e f g h i Payne, Diana L.; Lonsway, Kimberly A.; Fitzgerald, Louise F. (March 1999). "Rape Myth Acceptance: Exploration of Its Structure and Its Measurement Using the Illinois Rape Myth Acceptance Scale". Journal of Research in Personality. 33 (1): 27–68. doi:10.1006/jrpe.1998.2238. S2CID 53496333.
- ^ a b c d e f g Bohner, Gerd; Eyssel, Friederike; Pina, Afroditi; Viki, Tendayi; Siebler, Frank (2013). Horvath, Miranda A.H.; Brown, Jennifer M. (ed.). Rape: Challenging Contemporary Thinking. Willan (Routledge). hlm. 17–45. ISBN 978-1134026463.
- ^ Kimberly A. Lonsway, Louise F. Fitzgerald, "Rape Myths: In Review" Psychology of Women Quarterly 18 (2), Juni 1994: 133-164.
- ^ Gerd Bohner, Vergewaltigungsmythen (Mitos Pemerkosaan) Verlag Empirische Pädagogik, 1998.
- ^ Grubb, Amy & Turner, Emily. (2012). "Attribution of blame in rape cases: A review of the impact of rape myth acceptance, gender role conformity and substance use on victim blaming" Aggression and Violent Behavior 17 (5) 443-452.
- "Mitos pemerkosaan bervariasi di antara masyarakat dan budaya. Namun, mereka secara konsisten mengikuti pola di mana mereka menyalahkan korban, menyatakan ketidakpercayaan pada klaim pemerkosaan, membebaskan pelaku, dan mengacu pada gagasan bahwa hanya tipe perempuan tertentu yang diperkosa."
- ^ Gavey, Nicola (2019). Just sex? The cultural scaffolding of rape (Edisi Second). Abingdon, Oxon: Routledge. hlm. 99.
- ^ Gavey. Just sex. hlm. 100.
- ^ a b c d Encyclopedia of Mental Health. Elsevier Science. 26 August 2015. hlm. 3. ISBN 978-0-12-397753-3.
- "Mitos pemerkosaan yang umum dapat mencakup: perempuan sering berbohong tentang pemerkosaan, pakaian korban dapat memicu kekerasan seksual, pemerkosaan adalah kesalahan korban jika ia sedang mabuk, dan ketika seorang pria membayar biaya kencan, perempuan diharapkan membalasnya dengan hubungan seksual."
- ^ a b c d e f Paula K. Lundberg-Love; Shelly L. Marmion (2006). "Intimate" Violence Against Women: When Spouses, Partners, Or Lovers Attack. Greenwood Publishing Group. hlm. 59–. ISBN 978-0-275-98967-5.
- ^ a b c d e f Holly Johnson; Bonnie S. Fisher; Veronique Jaquier (5 December 2014). Critical Issues on Violence Against Women: International Perspectives and Promising Strategies. Routledge. hlm. 96–. ISBN 978-1-135-00603-7.
- "Beberapa mitos pemerkosaan meliputi: bahwa perempuan berfantasi tentang diperkosa; bahwa perempuan rutin berbohong tentang pemerkosaan; bahwa pria tidak dapat memerkosa pasangan intim mereka; bahwa pemerkosaan hanyalah seks yang tidak diinginkan dan bukan kejahatan kekerasan; serta bahwa korban biasanya diserang oleh orang asing."
- ^ a b c Rebecca M. Hayes1, Katherine Lorenz2, Kristin A. Bell, "Victim Blaming Others: Rape Myth Acceptance and the Just World Belief," Feminist Criminology 8 (3), April 2013: 202-220.
- "Mitos pemerkosaan yang umum mencakup: kesalahpahaman bahwa pakaian korban memicu serangan, bahwa perempuan sering berbohong tentang pemerkosaan, bahwa pemerkosaan adalah kesalahan korban jika mereka mabuk pada saat serangan, dan; ketika seorang pria membayar biaya kencan, perempuan diharapkan membalasnya dengan hubungan seksual.
- ^ a b c d e f g h Karen Rich (2014). Interviewing Rape Victims: Practice and Policy Issues in an International Context. Palgrave MacMillan. ISBN 9781137353221.
- "Mitos Pemerkosaan mencakup, namun tidak terbatas pada, setiap pernyataan atau keyakinan berikut: Pemerkosaan itu jarang terjadi, Pemerkosaan tidak berbahaya, Kebanyakan korban berbohong tentang pemerkosaan, Beberapa korban layak diperkosa, Perempuan memicu pria memerkosa mereka dengan mengenakan pakaian provokatif, Pemerkosaan adalah kejahatan karena gairah, Pemerkosa adalah penderita retardasi mental/gangguan jiwa berat... Hanya jenis perempuan tertentu yang diperkosa, Seorang pria tidak bisa 'memerkosa' istrinya, Beberapa perempuan diam-diam ingin diperkosa."
- ^ a b c d e Reddington, Frances P.; Kreisel, Betsy Wright (2009). Sexual Assault: The Victims, the Perpetrators, and the Criminal Justice System. Carolina Academic Press. ISBN 9781594605772.
- ^ a b c d e f g Stephanie Scott-Snyder (6 January 2017). Introduction to Forensic Psychology: Essentials for Law Enforcement. CRC Press. hlm. 103–. ISBN 978-1-315-29853-5.
- ^ Moor, Avigail (2010). She Dresses to Attract, He Perceives Seduction: A Gender Gap in Attribution of Intent to Women’s Revealing Style of Dress and its Relation to Blaming the Victims of Sexual Violence. Journal of International Women's Studies, 11(4), 115-127.
- ^ a b c d e Yancey Martin, Patricia; Reynolds, John R.; Keith, Shelley (2002). "Gender Bias and Feminist Consciousness among Judges and Attorneys: A Standpoint Theory Analysis". Signs: Journal of Women in Culture and Society. 27 (3): 665–701. doi:10.1086/337941. S2CID 146349196.
- ^ Hayes, R. M., Lorenz, K., & Bell, K. A. (2013). Victim blaming others: Rape myth acceptance and the just world belief. Feminist Criminology, 1557085113484788.
- ^ Munro, Vanessa; Finch, Emily. "Juror Stereotypes and Blame Attribution in Rape Cases Involving Intoxicants". British Journal of Criminology. 25 (1): 25–38.
- ^ R v. Malone, 447 2 Cr. App. R. (1998).
- ^ Ben-David, S. & Schneider, O. Sex Roles (2005) 53: 385. https://doi.org/10.1007/s11199-005-6761-4
- ^ "Crime in India 2015 Compendium" (PDF). NCRB.NIC.in. National Crime Records Bureau, India. Diakses tanggal March 11, 2017.
- ^ Ellison, Louis (2008). "Reacting to Rape: Exploring Mock Jurors' Assessments of Complainant Credibility". The British Journal of Criminology. 49 (2): 202. doi:10.1093/bjc/azn077.
- ^ George, Julie (6 November 1981). "Myths contribute to rapes". University of Waterloo Imprint. University of Waterloo Imprint. hlm. 11. Diakses tanggal 2 December 2021.
- ^ a b Kennedy, K. M. (2012). "The relationship of victim injury to the progression of sexual crimes through the criminal justice system" (PDF). Journal of Forensic and Legal Medicine. 19 (6): 309–311. doi:10.1016/j.jflm.2012.04.033. hdl:10379/12225. PMID 22847045.
- ^ Chauhan, Soumya Singh (14 February 2015). "Section 375: Analysis of Provisions Relating to Rape". Academike. Lawctopus. Diakses tanggal 3 November 2017.
- ^ Rao Harnarain Singh, Sheoji Singh, et al. v. The State, AIR 1958 P H 123; 1958 CriLJ 563. (Punjab-Haryana High Court, India 12 August 1957).
- ^ Viki, G. Tendayi; Abrams, Dominic; Masser, Barbara (2004). "Evaluating Stranger and Acquaintance Rape: The Role of Benevolent Sexism in Perpetrator Blame and Recommended Sentence Length". Law and Human Behavior. 28 (3): 295–303. doi:10.1023/B:LAHU.0000029140.72880.69. PMID 15264448. S2CID 1976702.
- ^ a b c Edwards, Katie M.; Turchik, Jessica A.; Dardis, Christina M.; Reynolds, Nicole; Gidycz, Christine A. (December 2011). "Rape Myths: History, Individual and Institutional-Level Presence, and Implications for Change". Sex Roles. 65 (11–12): 761–773. doi:10.1007/s11199-011-9943-2. ISSN 0360-0025. S2CID 35208508.
- ^ a b Akano, Kazeem. "Can Arousal Occur During Rape? A Medical Perspective". AVON HMO. Diarsipkan dari versi asli pada December 12, 2020. Diakses tanggal 19 April 2022.
- ^ McMahon, Sarah; Farmer, G. Lawrence (June 2011). "An Updated Measure for Assessing Subtle Rape Myths". Social Work Research. 35 (2): 71–81. doi:10.1093/swr/35.2.71.
- ^ Kelly, Liz; Temkin, Jennifer; Griffiths, Sue (20 June 2006). "Section 41: An Evaluation of New Legislation Limiting Sexual History Evidence in Rape Trials". United Kingdom. CiteSeerX 10.1.1.628.3925.
- ^ a b Cocker, Ann (2005). "PTSD Symptoms Among Men and Women Survivors of Intimate Partner Violence: The Role of Risk and Protective Factors". Violence & Victims. 20 (6): 625. doi:10.1891/0886-6708.20.6.625. S2CID 35672482.
- ^ Anderson, Irina; Swainson, Victoria (17 April 2001). "Perceived Motivation for Rape: Gender Differences in Beliefs About Female and Male Rape" (PDF). Current Research in Social Psychology. 6 (8). Universitas Iowa. Diakses tanggal 11 January 2023.
- ^ Neil Kibble (2009). "Case Comments: R v. Doody [2009]". Criminal Law Review. 2009: 590–597.
- ^ Chennels, Rebecca. "Sentencing: The 'real rape' myth". Agenda: Empowering Women for Gender Equity. 82: 23.
- ^ Bhalla, Nita. "Analysis: How India's police and judiciary fail rape victims". In.Reuters.com. Reuters. Diarsipkan dari asli tanggal September 23, 2017. Diakses tanggal 3 November 2017.
- ^ Fisher, Bonnie S.; Cullen, Francis T.; Turner, Michael G. (December 2000). "The Sexual Victimization of College Women" (PDF). Washington DC: Institut Keadilan Nasional / Biro Statistik Keadilan. Diakses tanggal 7 November 2017 – via NCJRS.gov (Layanan Referensi Peradilan Pidana Nasional).
- ^ "Why don't women report rape? Because most get no justice when they do". Global News. Diakses tanggal 3 November 2017.
- ^ a b Lawrence, Meg. "Men cannot be raped : the systematic silencing of male victims of sexual violence in conflict". Global Campus Open Knowledge Repository. Diakses tanggal 20 August 2022.
- ^ a b c d e f g h i j Chapleau, Kristine M.; Oswald, Debra L.; Russell, Brenda L. (2008). "Male Rape Myths: The Role of Gender, Violence, and Sexism". Journal of Interpersonal Violence. 23 (5): 600–615. doi:10.1177/0886260507313529. PMID 18259049. S2CID 1323216.
- ^ Weare, Siobhan (2018). "'Oh you're a guy, how could you be raped by a woman, that makes no sense': towards a case for legally recognising and labelling 'forced-to-penetrate' cases as rape". International Journal of Law in Context. 14: 110–131. doi:10.1017/S1744552317000179. Diakses tanggal 20 August 2022.
- ^ King, Laura L.; Hanrahan, Kathleen J. (2015-05-04). "University student beliefs about sexual violence in prison: rape myth acceptance, punitiveness, and empathy". Journal of Sexual Aggression (dalam bahasa Inggris). 21 (2): 179–193. doi:10.1080/13552600.2013.820851. ISSN 1355-2600. S2CID 27420425.
- ^ Hammond, Laura; Loannou, Maria; Fewster, Martha (June 1, 2017). "Perception of male rape and sexual assault in a male sample from the United Kingdom: Barriers to reporting and the impacts of victimization" (PDF). Journal of Investigative Psychology and Offender Profiling. 14 (2): 133–149. doi:10.1002/jip.1462.
- ^ a b Struckman-Johnson, C.; Struckman-Johnson, D. (1992). "Acceptance of male rape myths among college men and women". Sex Roles. 27 (3–4): 85–100. doi:10.1007/bf00290011. S2CID 145504806.
- ^ a b Turchik, Jessica A.; Edwards, Katie M. (April 2012). "Myths about male rape: A literature review". Psychology of Men & Masculinity. 13 (2): 211–226. doi:10.1037/a0023207. ISSN 1939-151X.
- ^ Koshan, Jennifer (2017). Randall, Melanie; Koshan, Jennifer; Nyaundi, Patricia (ed.). The Criminalisation of Marital Rape and Law Reform in Canada: A Modest Feminist Success Story in Combatting Marital Rape Myths in The Right to Say No: Marital Rape and Law Reform in Canada, Ghana, Kenya and Malawi. Portland, Oregon: Hart Publishing. hlm. 144.
- ^ a b Koshan, Jennifer; Randall, Melanie; Sheehy, Elizabeth (2017). "Marital rape myths have no place in Canadian law". The Globe and Mail.
- ^ a b c Koshan. The Criminalisation of Marital Rape. hlm. 145.
- ^ Koshan, Jennifer (2010). The Legal Treatment of Marital Rape and Women's Equality: An Analysis of the Canadian Experience (PDF). Toronto: The Equality Effect. hlm. 50.
- ^ Busby, Karen (2012). "Every Breath You Take: Erotic Asphyxiation, Vengeful Wives, and Other Enduring Myths in Spousal Sexual Assault Prosecutions". Canadian Journal of Women and the Law. 24 (2): 328–358. doi:10.3138/cjwl.24.2.328.
- ^ Koshan. The Legal Treatment. hlm. 57.
- ^ Arkles, Gabriel (2015). "Regulating Prison Sexual Violence". Northeastern University Law Journal. 7 (1): 71–130.
- ^ Alcoff, Linda; Gray, Laura (Winter 1993). "Survivor Discourse: Transgression or Recuperation?". Signs. 18 (2): 260–290. doi:10.1086/494793. S2CID 143579750.
- ^ a b c d e Block, Sharon (2006). Rape and Sexual Power in Early America (dalam bahasa Inggris). UNC Press Books. hlm. 82, 227. ISBN 978-0-8078-3045-1.
- ^ Flood. Rape in Chicago. hlm. 12.
- ^ Flood. Rape in Chicago. hlm. 77.
- ^ Razack, Sherene (2000). "Gendered Racial Violence and Spatialized Justice: The Murder Pamela George". Canadian Journal of Law and Society. 15 (2): 91–130. doi:10.1017/S0829320100006384. S2CID 147401595.
- ^ Jordan, Jan (February 2004). "Beyond Belief? Police, Rape, and Women's Credibility". Criminology and Criminal Justice. 4 (1): 29–59. doi:10.1177/1466802504042222. S2CID 20411270.
- ^ Page, Amy Dellinger (2008). "Gateway to Reform? Policy Implications of Police Officers' Attitudes Toward Rape". American Journal of Criminal Justice. 33 (1): 44–58. doi:10.1007/s12103-007-9024-9. S2CID 189909299.
- ^ a b Edwards, Susan; Chambers, Gerry; Millar, Ann (1984). "Investigating Sexual Assault". Journal of Law and Society. 11 (2): 259. doi:10.2307/1410043. ISSN 0263-323X. JSTOR 1410043. S2CID 146892041.
- ^ Reeves, Martha (2016). Women in Business: Theory and Cases (Edisi 2nd). Routledge. hlm. 70. ISBN 9781317363316. Diakses tanggal 7 November 2017 – via Google Books.
- ^ Finch E, Munro VE. Juror stereotypes and blame attribution in rape cases involving intoxicant, Br J Criminol, 2005, vol. 45 (pg. 25-38)
- ^ Mallios, Christopher; Meisner, Toolsi (July 2010). "Educating Juries in Sexual Assault Cases" (PDF). Strategies: The Prosecutors' Newsletter on Violence Against Women. Diakses tanggal 6 July 2021.
- ^ Grewal, Kiran Kaur (2016). Racialised Gang Rape and the Reinforcement of Dominant Order: Discourses of Gender, Race and Nation (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 23. ISBN 9781317140719.
- ^ Osborne, David (February 1, 2015). "She Was Gagging for It". The Barrister Bard (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari asli tanggal 2021-06-02. Diakses tanggal 2021-05-30.
- ^ a b c Harding, Kate (2015). Asking for It. Philadelphia: Da Capo Press. ISBN 978-0-7382-1702-4.
- ^ Rawson, Kate (2019). "The Supreme Court, Sexual Assault and "Twin Myths"". Queen's Certificate in Law Blog.
- ^ a b Beere, Carole A. (1990). Sex and Gender Issues: A Handbook of Tests and Measures. Greenwood Publishing Group. hlm. 400. ISBN 9780313274626 – via Internet Archive.
- ^ Xue, J; Fang, G; Huang, H; Cui, N; Rhodes, KV; Gelles, R (2019). "Rape myths and the cross-cultural adaptation of the Illinois Rape Myth Acceptance Scale in China". Journal of Interpersonal Violence. 34 (7): 1428–1460. doi:10.1177/0886260516651315. PMID 27271981. S2CID 28391226.
- ^ Hust, Stacey J. T.; Lei, Ming; Ren, Chunbo; Chang, Hua; McNab, Anna L.; Marett, Emily G.; Fitts Willoughby, Jessica (1 November 2013). "The Effects of Sports Media Exposure on College Students' Rape Myth Beliefs and Intentions to Intervene in a Sexual Assault". Mass Communication and Society. 16 (6): 762–786. doi:10.1080/15205436.2013.816737. ISSN 1520-5436. S2CID 143979902.
- ^ Kahlor, LeeAnn; Eastin, Matthew S. (2011). "Television's Role in the Culture of Violence Toward Women: A Study of Television Viewing and the Cultivation of Rape Myth Acceptance in the United States". Journal of Broadcasting & Electronic Media. 55 (2): 215–231. doi:10.1080/08838151.2011.566085. S2CID 145393515.
- ^ a b c Owens, Bretlyn C.; Hall, M. Elizabeth Lewis; Anderson, Tamara L. (December 2021). "The Relationship between Purity Culture and Rape Myth Acceptance". Journal of Psychology and Theology (dalam bahasa Inggris). 49 (4): 405–418. doi:10.1177/0091647120974992. ISSN 0091-6471. S2CID 229400268.
- ^ a b Klement, Kathryn R.; Sagarin, Brad J.; Skowronski, John J. (2022-07-06). "The One Ring Model: Rape Culture Beliefs are Linked to Purity Culture Beliefs". Sexuality & Culture. 26 (6): 2070–2106. doi:10.1007/s12119-022-09986-2. ISSN 1095-5143. S2CID 250369644.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


