Matahari dalam budaya

Penggambaran Matahari dengan sinarnya dan dengan sesosok wajah, sebuah tradisi ikonografi Barat yang mulai umum pada Zaman Modern Awal (langit-langit Golden Cross Tavern, Linlithgow, sekitar tahun 1700)

Matahari, sebagai sumber energi dan cahaya bagi kehidupan di Bumi, telah menjadi objek sentral dalam budaya dan agama sejak zaman prasejarah. Ritual pemujaan matahari telah memunculkan banyak dewa matahari dalam berbagai tradisi teistik di seluruh dunia, dan simbolisme matahari dapat ditemukan di mana-mana. Terlepas dari kaitannya secara langsung dengan cahaya dan kehangatan, Matahari juga memegang peranan penting dalam penunjuk waktu sebagai indikator utama dari sebuah hari dan tahun.[1]

Sejarah awal

Kereta matahari Trundholm (Zaman Perunggu Nordik, sekitar 1350 SM, Museum Nasional Denmark).
Lukisan tahun 1872 karya Claude Monet yang berjudul Impression, Sunrise kemudian menginspirasi penamaan gerakan seni Impresionisme.

Terdapat beberapa artefak yang telah ditemukan yang menggambarkan Matahari dari masa seawal milenium ke-14 hingga ke-26 SM.[2] Pemahaman paling awal mengenai Matahari adalah sebagai sebuah piringan di langit, yang kehadirannya di atas cakrawala menciptakan siang hari dan ketidakhadirannya menyebabkan malam hari. Pada Zaman Perunggu, pemahaman ini mengalami modifikasi dengan adanya anggapan bahwa Matahari dibawa melintasi langit menggunakan sebuah perahu atau kereta perang, lalu dibawa kembali ke tempat matahari terbit pada malam harinya setelah melintasi dunia bawah.

Banyak monumen kuno yang dibangun dengan memperhatikan pergantian tahun surya; sebagai contoh, megalitikum batu secara akurat menandai titik balik matahari musim panas atau musim dingin (beberapa megalitikum yang paling terkemuka berada di Nabta Playa, Mesir; Mnajdra, Malta; dan di Stonehenge, Inggris); Newgrange, sebuah gundukan prasejarah buatan manusia di Irlandia, dirancang untuk mendeteksi titik balik matahari musim dingin; piramida El Castillo di Chichén Itzá, Meksiko, dirancang sedemikian rupa untuk menampilkan bayangan berbentuk ular yang seakan memanjat piramida tersebut pada saat hari ekuinoks vernal dan ekuinoks musim gugur.

Penduduk asli Australia, Aborigin, dan Penduduk Kepulauan Selat Torres adalah manusia pertama yang tercatat memikirkan tentang langit. Selama 40.000 tahun mereka telah mewariskan, melalui legenda, lagu, dan tarian, tentang bagaimana para astronom awal menafsirkan Matahari dan bintang-bintang. "Pandangan mereka mengenai kosmos didasarkan pada konsep Dreaming (Alam Mimpi) mereka -- masa lalu yang sangat jauh ketika para Roh Leluhur menciptakan dunia."[3]

Aspek keagamaan

Ornamen Emas Matahari dan Burung Abadi karya penduduk Shu kuno. Bagian tengahnya merupakan pola matahari dengan dua belas titik tempat empat ekor burung terbang mengelilinginya dalam arah berlawanan jarum jam yang sama. Kerajaan Shu Kuno, sezaman dengan masa Dinasti Shang.

Dewa matahari memainkan peran utama dalam banyak agama dan mitologi dunia.[4] Pemujaan terhadap Matahari pernah menjadi pusat peribadatan dari sejumlah peradaban, seperti bangsa Mesir kuno, suku Inka di Amerika Selatan, dan suku Aztek di wilayah yang kini menjadi negara Meksiko. Dalam agama seperti Hinduisme, Matahari hingga kini masih dianggap sebagai sesosok dewa, yang dikenal sebagai Surya. Banyak monumen kuno yang dibangun dengan memperhatikan fenomena matahari; sebagai contoh, megalitikum batu secara akurat menandai titik balik matahari musim panas atau musim dingin (contohnya di Nabta Playa, Mesir; Mnajdra, Malta; dan Stonehenge, Inggris); Newgrange, sebuah gundukan prasejarah buatan manusia di Irlandia, dirancang untuk mendeteksi titik balik matahari musim dingin; piramida El Castillo di Chichén Itzá, Meksiko, dirancang sedemikian rupa untuk menampilkan bayangan berbentuk ular yang seakan memanjat piramida tersebut pada saat hari ekuinoks vernal dan ekuinoks musim gugur.

Bangsa Sumeria kuno meyakini bahwa Matahari adalah perwujudan dari dewa Utu,[5][6] sang dewa keadilan dan saudara kembar dari Inanna, sang Ratu Surga,[5] yang diidentifikasikan sebagai planet Venus.[6] Kemudian, Utu juga diidentifikasikan dengan dewa Semit Timur yang bernama Syamas.[5][6] Utu dipandang sebagai sosok dewa penolong, yang senantiasa membantu mereka yang sedang dalam kesulitan.[5]

Setidaknya sejak masa Dinasti Keempat Mesir Kuno, Matahari dipuja sebagai dewa Ra, yang digambarkan sebagai sesosok dewa berkepala falkon (burung alap-alap) yang di atas kepalanya terdapat piringan matahari, dan dikelilingi oleh seekor ular. Pada periode Kerajaan Baru, Matahari diidentifikasikan dengan kumbang tinja. Dalam bentuk piringan matahari Aten, pamor Matahari sempat mengalami kebangkitan singkat selama Periode Amarna ketika ia kembali menjadi dewa yang paling agung, bahkan mungkin satu-satunya dewa, bagi Firaun Akhenaten.[7][8]

Ra di atas perahu surya, dihiasi dengan piringan matahari

Bangsa Mesir menggambarkan dewa Ra dibawa melintasi langit dalam sebuah perahu surya, dengan diiringi oleh dewa-dewa lain yang berkedudukan lebih rendah, dan bagi bangsa Yunani, ia adalah Helios, yang dibawa menggunakan kereta perang yang ditarik oleh kuda-kuda api. Sejak masa pemerintahan Elagabalus di masa Kekaisaran Romawi akhir, hari ulang tahun Matahari ditetapkan sebagai hari libur yang dirayakan sebagai Sol Invictus (secara harfiah bermakna "Matahari Tak Tertaklukkan") tepat setelah perayaan titik balik matahari musim dingin, yang mungkin telah menjadi cikal bakal dari perayaan Natal. Sehubungan dengan bintang-bintang tetap, jika dilihat dari Bumi, Matahari tampak mengelilingi Bumi satu kali dalam setahun di sepanjang garis ekliptika melintasi rasi-rasi bintang zodiak, sehingga para astronom Yunani mengategorikannya sebagai salah satu dari tujuh planet klasik (dari bahasa Yunani planetes, "pengembara"); penamaan hari-hari dalam seminggu berdasarkan ketujuh planet tersebut bermula sejak masa Romawi.[9][10][11]

Dalam agama Proto-Indo-Eropa, Matahari dipersonifikasikan sebagai dewi yang bernama *Seh2ul.[12][13] Sosok turunan dari dewi ini dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa antara lain mencakup Sól dalam Nordik Kuno, Surya dalam bahasa Sanskerta, Sulis dalam bahasa Galia, Saulė dalam bahasa Lituania, dan Solntse dalam bahasa Slavia.[13] Dalam agama Yunani kuno, dewa matahari adalah dewa berjenis kelamin laki-laki, yakni Helios,[14] yang pada masa-masa berikutnya disinkretiskan dengan dewa Apollo.[15]

Di dalam Alkitab, Kitab Maleakhi 4:2 menyebutkan istilah "Surya Kebenaran" (kadang-kadang diterjemahkan sebagai "Surya Keadilan"),[16][17] yang diinterpretasikan oleh sebagian penganut agama Kristen sebagai sebuah rujukan yang mengarah kepada sang Mesias (Kristus).[18] Dalam budaya Romawi kuno, hari Minggu didedikasikan sebagai hari bagi dewa matahari. Dalam sistem kepercayaan paganisme, Matahari dipandang sebagai sumber kehidupan, yang memberikan kehangatan dan penerangan. Matahari menjadi pusat dari kultus pemujaan yang populer di kalangan penduduk Romawi, yang mana mereka biasanya akan berdiri di waktu fajar untuk menyambut pancaran sinar matahari pertama sembari memanjatkan doa. Perayaan titik balik matahari musim dingin (yang kemudian turut memengaruhi perayaan hari Natal) pada mulanya merupakan bagian dari kultus Romawi pemujaan terhadap Matahari yang tak tertaklukkan (Sol Invictus). Hari tersebut kemudian diadopsi sebagai hari Sabat oleh umat Kristiani. Simbolisme yang mengaitkan cahaya merupakan perangkat yang sebelumnya berasal dari kepercayaan pagan yang lalu diadopsi oleh umat Kristiani, dan mungkin menjadi salah satu simbol terpenting yang tidak bersumber dari tradisi agama Yahudi. Gereja-gereja Kristen dibangun sedemikian rupa sehingga jemaat di dalamnya akan selalu menghadap ke arah matahari terbit.[19]

Tonatiuh, sang dewa matahari menurut kepercayaan bangsa Aztek,[20] diyakini memiliki kaitan yang sangat erat dengan praktik pengorbanan manusia.[20] Sang dewi matahari Amaterasu adalah sosok dewa yang paling penting dalam agama Shinto,[21][22] dan ia diyakini sebagai leluhur moyang secara langsung dari seluruh kaisar Jepang.[21]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Madanjeet Singh: The Sun: Symbol of Power and Life, Harry N Abram, 1993. ISBN 9780810938380
  2. ^ Lewis, Dyani (17 March 2020). "Indonesian rocks show ubiquity of ancient art". Cosmos. Diakses tanggal 27 October 2024.
  3. ^ "Solar Folklore".
  4. ^ Coleman, J.A.; Davidson, George (2015). The Dictionary of Mythology: An A–Z of Themes, Legends, and Heroes. London: Arcturus Publishing Limited. hlm. 316. ISBN 978-1-78404-478-7.
  5. ^ a b c d Black, Jeremy; Green, Anthony (1992). Gods, Demons and Symbols of Ancient Mesopotamia: An Illustrated Dictionary. The British Museum Press. hlm. 182–184. ISBN 978-0-7141-1705-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 November 2020. Diakses tanggal 22 August 2020.
  6. ^ a b c Nemet-Nejat, Karen Rhea (1998), Daily Life in Ancient Mesopotamia, Greenwood, hlm. 203, ISBN 978-0-313-29497-6
  7. ^ Teeter, Emily (2011). Religion and Ritual in Ancient Egypt. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-84855-8.
  8. ^ Frankfort, Henri (2011). Ancient Egyptian Religion: an Interpretation. Dover Publications. ISBN 978-0-486-41138-5.
  9. ^ "Planet". Oxford Dictionaries. December 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 22 March 2015.
  10. ^ Goldstein, Bernard R. (1997). "Saving the phenomena : the background to Ptolemy's planetary theory". Journal for the History of Astronomy. 28 (1): 1–12. Bibcode:1997JHA....28....1G. doi:10.1177/002182869702800101. S2CID 118875902.
  11. ^ Ptolemy; Toomer, G.J. (1998). Ptolemy's Almagest. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-00260-6.
  12. ^ Mallory, James P.; Adams, Douglas Q., ed. (1997). Encyclopedia of Indo-European Culture. London: Routledge. ISBN 978-1-884964-98-5. (EIEC). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 March 2017. Diakses tanggal 20 October 2017.
  13. ^ a b Mallory, J.P. (1989). In Search of the Indo-Europeans: Language, Archaeology and Myth. Thames & Hudson. hlm. 129. ISBN 978-0-500-27616-7.
  14. ^ Hesiod, Theogony 371 Diarsipkan 15 September 2021 di Wayback Machine.
  15. ^ Burkert, Walter (1985). Greek Religion. Cambridge: Harvard University Press. hlm. 120. ISBN 978-0-674-36281-9.
  16. ^ [[]] Malachi:4:2-9
  17. ^ Bible, Book of Malachi, King James Version, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 October 2017, diakses tanggal 20 October 2017
  18. ^ Spargo, Emma Jane Marie (1953). The Category of the Aesthetic in the Philosophy of Saint Bonaventure. St. Bonaventure, New York; E. Nauwelaerts, Louvain, Belgium; F. Schöningh, Paderborn, Germany: The Franciscan Institute. hlm. 86. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 April 2021. Diakses tanggal 3 November 2020.
  19. ^ Owen Chadwick (1998). A History of Christianity. St. Martin's Press. hlm. 22. ISBN 978-0-312-18723-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 May 2016. Diakses tanggal 15 November 2015.
  20. ^ a b Townsend, Richard (1979). State and Cosmos in the Art of Tenochtitlan. Washington, DC: Dumbarton Oaks. hlm. 66.
  21. ^ a b Roberts, Jeremy (2010). Japanese Mythology A To Z (Edisi 2nd). New York: Chelsea House Publishers. hlm. 4–5. ISBN 978-1-60413-435-3.
  22. ^ Wheeler, Post (1952). The Sacred Scriptures of the Japanese. New York: Henry Schuman. hlm. 393–395. ISBN 978-1-4254-8787-4.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement