Masjid di Jepang
Masjid di Jepang adalah bangunan berbentuk masjid yang didirikan sebagai tempat ibadah bagi muslim di Jepang. Pembangunan masjid di Jepang dilakukan oleh komunitas muslim Asia Tengah yang menjadi pengungsi di Jepang sejak masa Perang Dunia I. Dua masjid pertama yang dibangun di Jepang yaitu Masjid Kobe pada tahun 1935 M dan Masjid Tokyo pada tahun 1938 M. Masjid-masjid di Jepang dapat menampung jemaah dalam jumlah ratusan orang. Fasilitas yang tersedia pada masjid-masjid di Jepang terutama ruangan untuk salat, perpustakaan dan kantin.
Sejarah pembangunan
Pembangunan masjid di Jepang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama masa Perang Dunia I. Revolusi Bolshevik yang terjadi di Rusia memengaruhi terjadinya Perang Dunia I yang melibatkan kawasan Asia Tengah dan beberapa wilayah Rusia yang banyak dihuni oleh penduduk muslim. Para penduduk muslim di kawasan Asia Tengah dan Rusia kemudian memilih mengungsi ke negara lain untuk menghindari keterlibatan dalam peperangan. Penduduk muslim dari wilayah Rusia, Turki, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgizstan, dan Kazakhstan mengungsi ke negara lain. Salah satu negara yang menjadi tujuan pengungsiannya yaitu Jepang. Sekumpulan pengungsi kemudian membentuk komunitas masyarakat muslim di Jepang. Hubungan masyarakat yang terjalin antara komunitas muslim dengan orang Jepang di Jepang membuat beberapa orang Jepang menjadi muslim.[1]
Muslim dari komunitas pengungsi dan muslim dari orang Jepang kemudian merencanakan pengadaan pendirian masjid sebagai tempat ibadah bagi komunitas muslim di Jepang. Pada bulan Oktober 1935 M, sebuah masjid berhasil dibangun di Kota Kobe dan diberi nama Masjid Kobe. Masjid Kobe menjadi masjid pertama di Jepang. Kemudian pada tahun 1938 M, sebuah masjid berhasil dibangun di Tokyo dan diberi nama Masjid Tokyo.[1]
Kapasitas jemaah dan fasilitas
Masjid dengan kapasitas jemaah terbanyak adalah Masjid Camii yang dibangun di Kota Tokyo. Masjid Camii mampu menampung sebanyak 1.200 orang. Masjid lain di Jepang seperti Masjid Kobe di Kota Kobe dan Masjid Nagoya di Kota Nagoya masing-masing dapat menampung jemaah sebanyak 400 orang dan 300 orang. Di dalam Masjid Camii dan Masjid Nagoya terdapat ruangan untuk salat, ruangan yang berfungsi sebagai perpustakaan dan ruangan yang berfungsi sebagai kantin yang menjual makanan halal. Sementara itu, Masjid Kobe menyediakan ruangan untuk kajian bahasa Arab dan kajian mengenai ajaran Islam.[2]
Referensi
- ^ a b Widagdo, Suharyp (Desember 2017). Menjadi Muslim di Jepang. Kendal: Penerbit Ernest. hlm. 7. ISBN 978-602-61917-8-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Wibowo, Hamid Sakti (Maret 2023). Islam di Negeri Sakura: Sejarah dan Perkembangan Muslim di Jepang. Tiram Media. hlm. 26. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


