Masjid Baitul A'la Lil Mujahidin
| Masjid Baitul A'la Lil Mujahidin | |
|---|---|
Masjid Baitul A'la Lil Mujahidin | |
| Agama | |
| Afiliasi | Islam |
| Arsitektur | |
| Tipe | Masjid |
Masjid Baitul A’la Lilmujahidin, juga dikenal sebagai Masjid Abu Beureueh atau Masjid Segenggam Beras, adalah masjid bersejarah dan cagar budaya yang terletak di Kota Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, Aceh, Indonesia. Masjid ini dibangun di atas prakarsa Teungku Muhammad Daud Beureueh (Abu Beureueh) sekitar tahun 1951–1952.[1]
Arsitektur dan Fasilitas
Bangunan masjid Baitul A’la Lilmujahidin berukuran 1.350 meter persegi di atas lahan seluas 10.200 meter persegi.[2] Masjid ini didominasi oleh warna putih. Bagian atapnya berbentuk limas segi empat yang dilengkapi dengan sebuah kubah besar berwarna hitam di puncaknya. Di sisi barat masjid berdiri dua menara tinggi, masing-masing menara dihiasi dengan kubah kecil berwarna hitam di ujungnya. Pada bagian dalamnya, terdapat langit-langit masjid dari kayu mengkilap, tiang dan lantainya dilapisi marmer. Dinding dalamnya dihiasi ukiran floral dan kaligrafi ayat Al-Qur’an. Bangunan masjid tersebut dapat menampung para jamaah mencapai jumlah 1000 jamaah.
Bangunon kuno ini juga memiliki 2 menara yang menjulang tinggi yang terletak di bagian depan masjidnya. Fondasi masjid ini dibangun sedalam 6 meter dan tetap berdiri utuh usai gempa dan tsunami Aceh berkekuatan 7,9 SR pada 26 Desember 2004, tanpa mengalami kerusakan berarti. Pada tahun yang sama, bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya nasional melalui SK Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI No. KM.51/OT.007/MKP/2004. Dalam surat keputusan tersebut dituliskan, penetapan ini dilakukan oleh I Gede Ardika.
Sejarah

Pembangunan masjid Abu Beureueh dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Kecamatan Mutiara.[3] Namun, pembangunan masjid sempat terhenti selama 10 tahun, karena Abu Beureueh memilih naik gunung untuk memimpin Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh pada 20 September 1953.[4] Setelah pemberontakan reda, Abu Beureueh kembali mengajak masyarakat untuk melanjutkan pembangunan masjid yang sempat tertunda itu. Pada tahun 1963, masyarakat Pidie dan luar Pidie mengumpulkan bantuan untuk pembangunan masjid tersebut.
Pembangunan Masjid Baitul A’la Lil Mujahidin mendapat dukungan aktif dari masyarakat Aceh. Pekerjaan seperti penimbunan, pembuatan fondasi, serta penyediaan bahan bangunan dilakukan secara swadaya dan gotong royong oleh warga. Untuk membantu pembiayaan material, masyarakat mengumpulkan sumbangan berupa beras, dengan jumlah minimal satu genggam per keluarga atau individu. Dukungan juga datang dari perantau dan umat Muslim di luar Aceh. Karena praktik tersebut, masjid ini kemudian dikenal dengan sebutan “Masjid Segenggam Beras.” Bantuan yang terkumpulkan kemudian dijual untuk membeli berbagai material.[5]

Pada tahun 1973, masjid Baitul A'la Lilmujahidin telah selesai dibangun dan sudah dapat digunakan untuk salat. Abu Beureueh mendirikan Yayasan Baitul A’la Lilmujahidin sebagai badan hukum yang mengelola masjid dan pendidikan di dalam kompleks tersebut pada tanggal 9 Oktober 1979. Hal ini dilakukkannya karena khawatir konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) akan memanfaatkan pengaruh Abu Beureueh untuk kepentingan mereka sendiri. Muhammad Nur El Ibrahimi diangkat sebagai ketua yayasan, sedangkan Abu Beureueh menjadi Ketua Kehormatan.[6]
Kekayaan masjid kemudian didata dan diinventarisasi. Teungku Muhammad Daud Beureueh menyampaikan bahwa seluruh aset tersebut bukan milik yayasan secara pribadi, melainkan merupakan milik Allah dan umat Islam, yang dikelola oleh yayasan untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama.
Setelah wafatnya Abu Beureueh pada 10 Juni 1987, masjid ini tetap aktif digunakan oleh masyarakat. Makam beliau yang berada di sisi masjid juga menjadi tempat ziarah, terutama pada hari Senin dan Kamis. Makam ini dipagari dengan teralis putih berbentuk segi empat. Pengelola masjid tidak mengizinkan praktik seperti salat di sekitar makam atau menggantung kain putih, sesuai dengan pandangan almarhum yang menilai praktik tersebut tidak sejalan dengan ajaran Islam.[7]
Referensi
- ^ Norman, Iskandar (9 Oktober 2022). "Sejarah Masjid Baitul A'la Lilmujahidin Peninggalan Abu Beureueh". Aceh Info.
- ^ 1. "Masjid Segenggam Beras di Negeri Aceh | Republika ID". republika.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ Setyadi, Agus. "Yuk! Safari ke Masjid 'Segenggam Beras' di Aceh". detiknews. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ sinarpidie.co (2019-05-08). "Penggalan Khutbah Teungku Daud Beureueh di Masjid Baitul A'la Lilmujahidin Beureunuen". sinarpidie.co. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ Tawi, Mirzal (2021-02-25). "Masjid Baitul 'Ala Lil Mujahidin dan Teungku Daud Beureueh -" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ "Kisah Inspiratif Masjid Abu Beureueh: Simbol Persatuan dan Ketahanan". Kisah Inspiratif Masjid Abu Beureueh. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ Setyadi, Agus. "Kisah Segenggam Beras dan Telur dalam Pembangunan Masjid Abu Beureueh". detiknews. Diakses tanggal 2025-06-17.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.




