Masjid Agung Sumedang

Masjid Agung Sumedang
Masjid Agung Sumedang pada tahun 2021
PetaKoordinat: 6°51′34.77359″S 107°55′11.18816″E / 6.8596593306°S 107.9197744889°E / -6.8596593306; 107.9197744889
Agama
AfiliasiIslam
ProvinsiJawa Barat
WilayahKabupaten Sumedang
KepemilikanKementerian Agama Kabupaten Sumedang
Lokasi
Arsitektur
Rampung5 Juni 1854

Masjid Agung Sumedang adalah sebuah masjid yang terletak di Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Indonesia.[1] Masjid ini terletak di kawasan Alun-alun Sumedang.[2]

Keberadaan masjid ini sejak awal berkaitan erat dengan masa kejayaan Kerajaan Sumedang Larang yang kemudian bertransformasi menjadi Kabupaten Sumedang.[3] Sejak berdiri, Masjid Agung Sumedang berfungsi sebagai pusat syiar Islam dan kegiatan keagamaan masyarakat di wilayah Priangan Timur.[3]

Masjid Agung Sumedang dilindungi oleh Undang-undang Kepurbakalaan sebagai salah satu bangunan bersejarah di Jawa Barat.[2]

Sejarah

Masjid Agung Sumedang dibangun pada tahun 1850 ketika Bupati Sumedang dijabat oleh Pangeran Suria Kusumah Adinata yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sugih.[4] Pembangunan masjid ini dilaksanakan di atas tanah wakaf yang diberikan oleh Raden Dewi Siti Aisyah.[1]

Pembangunan dimulai pada 4 Rajab 1267 Hijriyah/3 Juni 1850 Masehi.[4] Pembangunan masjid selesai pada 8 Ramadhan 1270 H/5 Juni 1854 Masehi.[2] Pada tahap awal, masjid memiliki luas bangunan sekitar 583,66 meter persegi yang berdiri di atas lahan seluas 6.755 meter persegi.[4]

Pangeran Sugih yang dikenal sebagai salah satu bupati ternama di Tatar Sunda dan dijuluki sebagai bapak pembangunan Sumedang, turut berperan dalam keberadaan Masjid Agung Sumedang.[1] Sebelum berada di lokasi sekarang, Masjid Agung Sumedang sempat berdiri di kawasan yang kini dikenal sebagai SD Sukaraja dan kemudian dipindahkan oleh Pangeran Sugih.[1]

Perluasan bangunan

Bangunan Masjid Agung Sumedang mengalami perluasan pada masa pemerintahan Bupati Pangeran Aria Soeria Atmadja yang dikenal sebagai Pangeran Mekah.[4] Perluasan tersebut dilakukan ke arah depan, samping utara, dan samping selatan dengan penghulunya K.H.R. Muhammad Hamim.[4]

Renovasi dan pemugaran

Masjid Agung Sumedang telah mengalami tiga kali renovasi besar sejak pengelolaannya berada di bawah Departemen Agama Kabupaten Sumedang.[1] Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1952.[1] Pada masa ini, masjid tetap berdiri kokoh meskipun gempa besar merusak sejumlah bangunan di sekitarnya.[1]

Renovasi kedua dilaksanakan pada tahun 1982 dan selesai pada 9 Juni 1988, serta diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Yogie Suardi Memet bersama Bupati Sumedang Sutarja.[1] Dalam renovasi ini, atap diganti dengan beton dan tiang-tiang besi dilapisi kayu triplek.[1]

Renovasi ketiga dimulai pada 27 September 2002 dan diresmikan pada 22 April 2004 oleh Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan dan Bupati Sumedang Don Murdono.[1] Pada tahap ini dibangun menara azan setinggi 35,5 meter serta dilakukan renovasi fasilitas penunjang seperti tempat wudhu, toilet, dan ruang DKM.[1]

Arsitektur dan akulturasi

Masjid Agung Sumedang pada tahun 2011.

Masjid Agung Sumedang merupakan hasil akulturasi arsitektur Islam, Tiongkok, dan pengaruh kolonial Belanda.[5] Bentuk atap bersusun tiga menyerupai pagoda merupakan ciri utama pengaruh budaya Tiongkok.[5] Atap tersebut semakin ke atas semakin mengecil, dengan puncak berbentuk mamale dan mustaka yang menyerupai mahkota raja.[4] Penggunaan mahkota sebagai puncak atap berkaitan dengan latar Sumedang sebagai wilayah bekas kerajaan.[2]

Pengaruh Tiongkok juga terlihat pada ukiran kayu bermotif khas Tiongkok yang menghiasi kusen pintu, jendela, dan mimbar masjid.[4][5] Pengaruh arsitektur Belanda tampak pada bentuk kolom dan jendela berukuran besar dengan ujung setengah lingkaran.[1]

Interior

Masjid Agung Sumedang memiliki banyak tiang penyangga besar yang terbuat dari susunan bata bulat, baik di bagian dalam maupun luar bangunan.[4] Mimbar masjid yang masih asli memiliki empat tiang berwarna keemasan dan dihiasi ukiran bergaya Tiongkok.[5] Secara simbolik, bentuk atap, ornamen puncak, tiang segi delapan, dan motif ukiran mencerminkan makna kesucian, kedamaian, keabadian, kemakmuran, serta perlindungan spiritual.[5]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g h i j k l Azis, Nur (5 April 2022). "Fakta-fakta Seputar Masjid Agung Sumedang". detikJabar. Diakses tanggal 28 Desember 2025.
  2. ^ a b c d Rafsanjani, Lutfi Setia (29 Maret 2023). Mumu Mujahidin (ed.). "Masjid Agung Sumedang, Masjid Bersejarah Ratusan Tahun dengan Kubah Mahkota Raja". Diakses tanggal 28 Desember 2025.
  3. ^ a b Suwarna, Nanang (29 September 2025). "MASJID AGUNG SUMEDANG: Jejak Sejarah, Keindahan Arsitektur, dan Pesona Religi Kota Tahu". Radio Erks FM. Diakses tanggal 28 Desember 2025.
  4. ^ a b c d e f g h "Masjid Agung Sumedang dan Pengaruh Arsitektur Cina". inimahSumedang. 11 April 2022. Diakses tanggal 28 Desember 2025.
  5. ^ a b c d e Cahyaningsih, Dwi Nur (2020). "Makna Arsitektur sebagai Akulturasi Budaya Tiongkok pada Masjid Agung Sumedang". Universitas Padjadjaran.

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement