Masamper

Masamper adalah kesenian tradisional masyarakat ''Noorder Einlanden'' dalam bahasa Belanda yang berarti pulau-pulau lebih utara atau populer disebut Nusa Utara, atau Kabupaten Kepulauan Sangihe , Kabupaten Kepulauan Talaud dan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro di Sulawesi Utara. merupakan kegiatan bernyanyi bersama-sama secara berkelompok dan saling berbalas-balasan nyanyian.[1][2]

Kesenian Masamper merupakan grup seni bernyanyi yang memadukan dua unsur utama, yaitu vokal dan sentuhan geraka harus seirama,[3] disertai dengan gerak tari dari si pembawa lagu (pengaha) dalam tradisi Masamper, tidaklah sekadar menyanyi bersama anggota. Bagian tengah lokasi masamper dibiarkan kosong, menjadi tempat bagi mereka yang mendapat giliran memimpin lagu.[4]

Pada hakikatnya Masamper merupakan media pengungkapan jiwa, mengekspresikan jati diri dan secara khusus memiliki nilai yang universa, religius, interaksi sosial, historis, cinta bangsa dan tanah air, pendidikan dan identitas kultural.[1]

Asal Usul

Pada zaman dahulu, sebelum masuknya agama Kristen dan Islam, masyarakat suku sangir talaud sudah memiliki tradisi menyanyi. Pada masa itu, masyarakat menganut kepercayaan animisme, sehingga menyanyi yang di gunakan pada saat upacara pemujaan, di adakan untuk dewa. Menyanyi pada saat itu dikenal sebagai ; Sasambo,[5] kakalanto,[6] kakumbaede,[7] papantung,[8] tatingung, mengonong / mamuna U wera yang dalam modus non diatonis dilantunkan secara berbalas-balasan dengan syair dalam bahas daerah / sasra sasahara / sasalili.[9] Kemudian dengan seiring perkembangan zaman menyanyi ini dikenal dengan sebutan “mebawalase” yang terkait dengan bahas Indonesia “balaas” atau “nyanyi baku balas” yang menjadi ciri khas utama.[10] Karena masuknya Agama Kristen yang di bawah oleh para Zending dari belanda, kegiatan menyanyi kembali mendapat sentuhan dan memberikan warna tersendiri dalam konteks musik diatonik barat, pada akhirnya mebawalase mulai di kenal dengan sebutan Masamper yang diambil dari bahasa Belanda “Zangfereeninging /Zangfeer” atau paduan suara atau kegiatan menyanyi secara bersama-sama.[1]

Referensi

  1. ^ a b c "Masamper". www.wisatasia.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-11-28. Diakses tanggal 2019-11-20.
  2. ^ Wahyono, Ary (1992). Bebalang: memudarnya fungsi seke. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. hlm. 29. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ Kompas.com. (2021, Februari 7). Lagu Terpesona yang kini viral dan usaha melestarikan seni Masamper. Kompas.com.
  4. ^ "Masamper, Dulu dan Eksistensinya Kini". Barta1.com. 2019-06-22. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-11-30. Diakses tanggal 2019-11-20.
  5. ^ Lalira, James Edward (2025-02-17). Sejarah, Bahasa dan Budaya Desa Gemeh Dari Cikal Bakal Hingga Pemekaran Wilayah. Gema Edukasi Mandiri. hlm. 166. ISBN 978-623-10-7338-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ Adat Istiadat Daerah Sulawesi Utara. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1980-01-01. hlm. 217. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ Sejarah Daerah Sulawesi Utara. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 95. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ^ Adat Istiadat Daerah Sulawesi Utara. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1980-01-01. hlm. 291. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ^ Soputan, N., Semen, J. W., Lakat, A., & Talumepa, Y. B. (1983). Pengaruh migrasi penduduk terhadap perkembangan kebudayaan daerah Sulawesi Utara. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  10. ^ Lawendatu, Frangky; Batubara, Junita; Lestari, Dewi Tika (2025-07-05). "Daralo Song Composition: Mebawalase Mesampere Style". Jurnal Riset Ilmu Pendidikan (dalam bahasa Inggris). 5 (3): 515–522. doi:10.56495/jrip.v5i3.1182. ISSN 2808-750X.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement