Manjagit Parompa
Manjagit Parompa adalah ritual dimana orang tua seorang wanita memberikan kain yang disebut Parompa Sadun saat sang wanita di anugerahi anak pertama. Parompa Sadun ini bertuliskan nama anak tersebut yang lalu diselempangkan di bahu kedua orang tua bayi. Pada waktu upacara ini dihadiri pihak-pihak yang disebut Dalihan Natolu, yaitu pihak dari keluarga suami (Kahanggi), keluarga dari pihak istri (Mora) dan keluarga dari pihak saudara wanita suami (Anak Boru). Manjagit Parompa berasal dari kata Manjagit yang berarti Menerima, dan Parompa yakni Kain ulos berbentuk selendang untuk menggendong. Istilah Manjagit Parompa biasa disebut juga Mangalehen Parompa. Beda Manjagit dan Mangalehen adalah, Manjagit sang wanita dapat mengambil parompa ke orang tuanya, sedangkan Mangalehen orang tuanya yang mengantar parompa ke anaknya (sang wanita).[1]
Parompa Sadun
Parompa Sadun adalah kain tenun tradisonal suku Batak Angkola, yang menjadi ciri khas di Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Parompa dalam arti sebenarnya adalah kain panjang, namun biasanya sering diucapkan oleh orang batak yakni paroppa. Kain ini berukuran kurang lebih 100 x 200 cm, dihiasi dengan manik-manik dan rumbai di ujung kain, dengan tenunan motif khas.Kain adat ini biasanya diberikan oleh orangtua kepada seorang wanita yang baru saja dianugrahi anak pertama. Sedangkan upacara pemberian kain adat ini, disebut Mangalehen Parompa menyerahkan kain panjang. Parompa di pakai atau digunakan hanya di acara adat istiadat angkola, seperti acara bersanji untuk bayi yang baru lahir atau acara pernikahan, bukan kain gendong sehari-hari"[2]
Kain adat ini diselempangkan di bahu kedua orangtua bayi, seolah-olah dipakai untuk menggendong. Pada waktu upacara seperti acara adat Batak lainnya, hadir pihak-pihak yang disebut Dalihan na Tolu, yaitu pihak dari keluarga suami (kahanggi), keluarga dari pihak istri (Mora) dan keluarga dari pihak saudara wanita atau suami dari saudara wanita (anak boru).Pemberian kain ini disertai nasihat dan doa dari semua yang hadir secara bergantian. Hal ini bertujuan agar kelak anak yang baru dilahirkan, akan menjadi anak yang berguna, yang merupakan perwujudan rasa syukur keluarga besar akan kehadiran anggota keluarga baru Parompa sadun ialah tenunan masyarakat yang mempunyai fungsi adat di daerah Tapanuli Selatan yang terkenal dengan julukan “TONUNAN NI BORU REGAR SIPIROK”, yang terkenal sejak dahulu sampai sekarang. Kain adat ini dihormati dan dihargai penggunaannya, mempunyai nilai kebesaran dan kemuliaan dalam upacara adat baik siluluton (duka cita) maupun siriaon (sukacita).[2]
Filosofi Parompa Sadun
Filosofi dari Parompa sadun pada masa nenek moyang, kehidupan masih sangat sederhana atau primitif, mereka telah memikirkan apa saja yang ada di alam ini, terutama perhatian mereka kepada yang menyangkut kehidupan.Baik kehidupan manusia itu sendiri maupun kehidupan hewan dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di alam ini.Perhatian mereka, dipandang dari berbagai macam segi, yang utama adalah soal keajaiban yang sangat berpengaruh, seperti daun-daunan atau tumbuh-tumbuhan yang dapat menjadi obat untuk menyembuhkan penyakit. Pohon-pohon sebagai tempat pelindung. Demikian pula dari berbagai jenis hewan yang tenaganya luar biasa, yang sangat sayang kepada anaknya, yang selalu membela dan tidak segan-segan mengadakan perlawanan.Maka dari sinilah diperlambangkan jiwa atau watak seorang manusia, atau kehidupan duniawi, yang dianggap luar biasa atau keistimewaan tersendiri. Dan lambang tersebut digunakan untuk pakaian, untuk menunjukkan kesaktian atau keagungan seseorang.[2]
Refrensi
- ^ "Manjagit Parompa » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-11-21.
- ^ a b c Okezone (2017-09-10). "OKEZONE WEEK-END: Parompa Sadun, Budaya Khas Tapanuli Selatan Tenunan Boru Regar - PAGE 2 : Okezone Women". https://women.okezone.com/. Diakses tanggal 2025-11-21.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


