Mang Koko

Koko Sari Dewi
LahirKoko Koswara
10 April 1917
Indihiang, Tasikmalaya, Hindia Belanda
Meninggal4 Oktober 1985(1985-10-04) (umur 68)
Bandung, Jawa Barat
KebangsaanIndonesia
Nama lainMang Koko
Pendidikan
Pekerjaan
Tahun aktif1937-1985
OrganisasiJenaka Sunda Kaca Indihiang (1946)
Taman Murangkalih (1948)
Taman Cangkurileung (1950)
Taman Setiaputra (1950)
Kliningan Ganda Mekar (1950)
Gamelan Mundinglaya (1951)
Taman Bincarung (1958)
Yayasan Cangkurileung
Yayasan Badan Penyelenggara Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI, 1971)
Swara Cangkurileung (1970-1983)
Dikenal atasSeniman, budayawan, pengajar, wartawan, maestro seni karawitan Sunda.
Kota asalIndihiang, Tasikmalaya
Suami/istriBertha Sariahningsih
Anak8
Orang tuaIbrahim alias Sumarta
PenghargaanPiagam Wijayakusumah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kategori Pembaharu dalam Bidang Seni Karawitan, (1971).

Koko Koswara (10 April 1917 – 4 Oktober 1985), atau dikenal sebagai Mang Koko,[1] adalah seorang seniman Sunda sekaligus pelopor pembaharu karawitan Sunda.[2][3] Koko Koswara dikenal sebagai pencipta dan pengembang genre seni yang disebut karawitan wanda anyar.[4][5] Karawitan Wanda Anyar adalah bentuk pengembangan kreatif karawitan Sunda yang ditandai dengan inovasi pada melodi, ritme, struktur komposisi, dan penggunaan instrumen yang lebih fleksibel dibandingkan karawitan tradisional yang ketat mengikuti pakem klasik, gaya ini menggabungkan unsur tradisi dengan ekspresi baru, sehingga menghasilkan ragam musik Sunda yang modern dan eksperimental tanpa meninggalkan akar budaya aslinya.[6]

Perjalanan

Ayahnya Ibrahim alias Sumarta, masih keturunan Sultan Banten (Maulana Hasanuddin). Ia mengikuti pendidikan sejak HIS (1932), MULO Pasundan (1935). Selepas masa pendidikan ia bekerja sejak tahun 1937 berturut-turut di: Bale Pamulang Pasundan, Paguyuban Pasundan, De Javasche Bank; surat kabar harian Cahaya, harian Suara Merdeka, Jawatan Penerangan Provinsi Jawa Barat, guru yang kemudian menjadi Direktur Konservatori Karawitan Bandung (1961-1972),[7] Dosen Luar Biasa di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, sampai ia wafat.[8]

Abdi seni dan karya

Bakat seni yang dimilikinya berasal dari ayahnya yang tercatat sebagai juru mamaos Ciawian dan Cianjuran.[9] Kemudian ia belajar sendiri dari seniman-seniman ahli karawitan Sunda yang sudah ternama dan mendalami hasil karya bidang karawitan dari Raden Machjar Angga Koesoemadinata, seorang ahli musik Sunda.

Ia juga tercatat telah mendirikan berbagai perkumpulan kesenian, diantaranya: Jenaka Sunda Kaca Indihiang (1946),[10][11][4] Taman Murangkalih (1948),[12][13] Taman Cangkurileung (1950),[14][15] Taman Setiaputra (1950),[12][15] Kliningan Ganda Mekar (1950),[12][16] Gamelan Mundinglaya (1951),[11][17] dan Taman Bincarung (1958).[12][15]

Mang Koko juga mendirikan sekaligus menjadi pimpinan pertama dari Yayasan Cangkurileung pusat, yang cabang-cabangnya tersebar di lingkungan sekolah-sekolah seprovinsi Jawa Barat.[18][19] Ia juga mendirikan dan menjadi pimpinan Yayasan Badan Penyelenggara Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), Bandung (1971). Pernah pula ia menerbitkan majalah kesenian "Swara Cangkurileung" (1970-1983).

Karya cipta kakawihan yang ia buat dikumpulkan dalam berbagai buku, baik yang sudah diterbitkan maupun yang masih berupa naskah-naskah, diantaranya Resep Mamaos (Ganaco, 1948), Cangkurileung (3 jilid/MB, 1952), Ganda Mekar (Tarate, 1970), Bincarung (Tarate, 1970), Pangajaran Kacapi (Balebat, 1973), Seni Swara Sunda atau Pupuh 17 (Mitra Buana, 1984), Sekar Mayang (Mitra Buana, 1984), Layeutan Swara (YCP, 1984), Bentang Sulintang atau Lagu-lagu Perjuangan dan sebagainya.

Karya-karyanya bukan hanya dalam bidang kawih, tapi juga dalam bidang seni drama dan gending karesmen. Dalam hal ini tercatat misalnya Gondang Pangwangunan, Bapa Satar, Aduh Asih, Samudra, Gondang, Samagaha, Berekat Katitih Mahal, Sekar Catur, Sempal Guyon, Saha?, Ngatrok, Kareta Api, Istri Tampikan, Si Kabayan, Si Kabayan jeung Raja Jimbul, Aki-Nini Balangantrang, Pangeran Jayakarta, dan Nyai Dasimah.

Saat membaca riwayat kehidupan Mang Koko, akan ditemui seorang manusia yang telah memasrahkan jiwa dan raganya demi kehidupan dan kelestarian seni, khususnya seni Sunda. Namun ia merasa sudah cukup bila ia disebut sebagai seorang penghalus jiwa, sebab seperti diungkapkan dalam salah satu kawihnya, seni adalah penghalus jiwa.

Rujukan

  1. ^ Ruswandi, Tardi (2000). Koko Koswara: pencipta karawitan Sunda yang monumental. Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung.
  2. ^ Ruswandi, Tardi (2008). Bahan ajar kacapi siter. Sunan Ambu Press, STSI Bandung. ISBN 978-979-8967-24-5.
  3. ^ Santos, Ramon Pagayon (2014). ASEAN Community & Artistic Achievement, Surakarta, August 11-12, 2014: Proceeding of International Seminar (dalam bahasa Inggris). ISI Press. hlm. 119. ISBN 978-602-73270-0-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ a b Satriana, R., Haryono, T., & Hastanto, S. (2014). Kanca Indihiang sebagai Embrio Kreativitas Mang Koko. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan, 15(1), 32-42.
  5. ^ Buku abstraksi hasil penelitian dan karya seni tahun 1979-2008. Puslitmas STSI Bandung. 2008. hlm. 342. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ Saiful, Abizar Algifari (2024-06-06). Kawih Gaya Mang Koko: Pengantar Tinjauan Tekstual dan Kontekstual (dalam bahasa Inggris). Penerbit BRIN. doi:10.55981/brin.839. ISBN 978-623-8372-71-3.
  7. ^ Asian Musics in an Asian Perspective: Report of Asian Traditional Performing Arts 1976 (dalam bahasa Inggris). Academia Music. 1984. hlm. 28. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ^ Ensiklopedi tokoh kebudayaan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1995. hlm. 66–69. ISBN 978-979-9335-10-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ^ Rosidi, Ajip (2003). Apa siapa orang Sunda. PT Kiblat Buku Utama bekerja sama dengan Yayasan Kebudayaan Rancage. hlm. 199. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ^ Buletin kebudayaan Jawa Barat. Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat. 1974.
  11. ^ a b Herdini, Heri (2014). Perkembangan karya inovasi karawitan Sunda tahun 1920-an-2008. Sunan Ambu Press. hlm. 285. ISBN 978-979-8967-37-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. ^ a b c d Herdini, Heri (2014). Perkembangan karya inovasi karawitan Sunda tahun 1920-an-2008. Sunan Ambu Press. hlm. 136. ISBN 978-979-8967-37-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ^ Budaya. Djawatan Kebudajaan Kementerian P.P. & K. 1952. hlm. 29. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ^ Herdini, Heri (2014). Perkembangan karya inovasi karawitan Sunda tahun 1920-an-2008. Sunan Ambu Press. hlm. 141. ISBN 978-979-8967-37-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  15. ^ a b c Catatan seni. STSI Press. 1996. hlm. 55–56. ISBN 978-979-8967-01-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  16. ^ Jurriëns, Edwin (2004). Cultural Travel and Migrancy: The Artistic Representation of Globalization in the Electronic Media of West Java (dalam bahasa Inggris). KITLV Press. hlm. 119. ISBN 978-90-6718-222-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  17. ^ Ardjo, Irawati Durban (1998). Perkembangan tari Sunda: melacak jejak Tb. Oemay Martakusuma dan Rd. Tjetje Somantri. Sastrataya, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. hlm. 79. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  18. ^ Kawit. Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat. 1991. hlm. 87. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  19. ^ Buletin kebudayaan Jawa Barat. Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat. 1974. hlm. 10. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement