Manajah Antang
Manajah Antang merupakan upacara adat yang dilakukan oleh suku Dayak Ngaju di Kabupaten Sungai Kapuas.[1] Dulunya, upacara ini bertujuan untuk mencari di mana musuh berada ketika berperang. Mereka akan mengadakan ritual pemanggilan roh leluhur dengan burung Antang (sejenis burung elang), di mana burung tersebut dipercaya mampu memberitahukan lokasi musuh.[2] Musuh tersebut ditujukan kepada orang atau sekelompok orang yang benar-benar dianggap membahayakan suku mereka sajalah yang mereka anggap sebagai musuh.[3]
Tak hanya untuk keperluan peperangan, upacara ini juga digunakan untuk mencari petunjuk lain,[4][5] seperti mencari dimana tempat yang menguntungkan jika akan bekerja dan merantau, mencari tempat berladang yang subur, mengobati sakit seseorang, hingga mencari tempat terjadinya musibah.[6]
Hal-hal yang perlu diketahui
Ritual Manajah Antang ini lebih baik dilaksanakan pada saat cuaca terang dan bersih sehingga kehadiran antang tajahan dapat dilihat dengan jelas. Selain itu, ritual ini juga dapat dilaksanakan sesudah tengah hari, jika cuacanya masih terang.[7]
Sebelum upacara Manajah Antang dimulai, para tetua adat berkumpul dalam musyawarah, membentuk panitia kecil untuk mengatur jalannya prosesi. Penanggung jawab, pembantu upacara, hingga pengatur detail teknis ditunjuk secara adat demi kelancaran ritual yang sakral ini.[8]
Proses pelaksanaan
Rangkaian kegiatan dimulai dari Upacara Manawur, yaitu upacara pemanggilan roh yang dipimpin langsung oleh Demang atau Kepala Adat. Dalam proses ini, persembahan seperti beras tabur disiapkan, dan pimpinan duduk bersila menghadap arah timur, yaitu arah kehidupan. Mantra-mantra dibacakan sebagai panggilan dan permohonan agar roh tidak mengganggu upacara, bahkan turut membantu jalannya ritual.
Setelah Manawur, dilanjutkan dengan marasih petak, yakni prosesi memberi makan roh melalui makanan yang digantung di pohon. Lalu dilakukan pemasangan patinju atau tiang penanda dari kayu, dihiasi bendera berwarna-warni yang jumlahnya ganjil seperti tiga, lima, atau tujuh batang. Tiang-tiang ini memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan arah dan maksud upacara.
Semua bahan sesaji seperti telur, sirih, dan air putih disiapkan. Musik tradisional seperti gong, kecapi, dan karungut mengiringi pembakaran dupa. Pimpinan upacara duduk bersila menghadap matahari terbit, membaca mantra, lalu menabur beras kuning tujuh kali, mengundang roh antang datang memberi petunjuk.
Beras kuning ditabur sebanyak tujuh kali sambil membaca mantra, lalu dilanjutkan dengan tiga kali taburan lagi sebagai undangan kepada antang tajahan. Setelah itu, seluruh peserta upacara diajak melahap sajian dan bersorak dalam semangat adat. Jika roh antang hadir, maka kehadirannya diyakini akan memberikan petunjuk untuk menjawab persoalan yang sedang dihadapi komunitas.
Gerak-gerik antang tajahan diamati secara saksama oleh para tetua adat yang terlatih membaca simbol dan tanda. Setiap pergerakan yang ditunjukkan roh ditafsirkan sebagai pesan dari alam semesta. Petunjuk ini kemudian menjadi dasar dalam mengambil keputusan atas masalah yang dihadapi. Karena nilai spiritualnya yang tinggi, upacara ini tetap hidup dalam masyarakat Dayak Katingan sebagai warisan leluhur yang terus dijaga.[6]
Daftar Referensi
- ^ Daniswari, Dini (19 Agustus 2023). "6 Daftar Tradisi Suku Dayak, dari Ritual Tiwah hingga Ngayau". Kompas.com.
- ^ "Suku Dayak Berasal dari Mana? Ketahui Asal Usul dan Tradisinya". Tempo. 2024-11-18. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ "Upacara Manajah Antang". antorij.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ Aditiya, Surya (2022-11-08). "4 Tradisi Suku Dayak yang Belum Banyak Diketahui, Tiwah hingga Manajah Antang | Halaman 3". www.viva.co.id. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ "Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku Dayak - Gramedia". Best Seller Gramedia. 2022-07-01. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ a b Sumiatie, Sumiatie (2021-04-29). "Makna Ritual Manajah Antang Bagi Kehidupan Masyarakat Dayak Katingan di Kasongan: The Meaning of the Manajah Antang Ritual for the Life of the Dayak Katingan Community in Kasongan". Anterior Jurnal (dalam bahasa Inggris). 20 (2): 64–75. doi:10.33084/anterior.v20i2.1669. ISSN 2355-3529.
- ^ Liputan6.com (2025-06-08). "Manajah Antang, Ritual Kuno Dayak untuk Mencari Lokasi Musuh dalam Perang". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-06-17. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ Kompasiana.com (2022-12-19). "Upacara Manajah Antang Ritual Suku Dayak yang Memanggil Roh-Roh Gaib dari Alam Bawah". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-06-14.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


