Mamarimbing
Mamarimbing, atau Opo Mamarimbing merupakan salah satu Dotu dan Tonaas (Pemimpin) orang Minahasa, yang merupakan panglima perang dari sub-etnis Tontemboan.[1] Ia merupakan salah satu Muntu-Untu serta merupakan tokoh penting Minahasa dari sub-etnis Tontemboan yang dikenal sebagai ahli mendengarkan suara burung wara' atau manguni, yang keturunannya akhirnya menjadi salah satu fam Minahasa "Mamarimbing". Ia merupakan seorang Tonaas Minahasa, yang memainkan peran besar dalam pembagian wilayah Minahasa menjadi empat kelompok besar pada masa Pertemuan Raya di Watu Pinawetengan. Mamarimbing II, keturunan berikutnya, turut berperan dalam memimpin perang Minahasa melawan Spanyol dan perang Minahasa melawan Bolaang Mongondow pada abad 16, bahkan memiliki pengaruh besar dalam merumuskan strategi perang. Setelah perjuangannya, ia mendapat bagian tanah di Kawangkoan dan dimakamkan di sana,

Opo Mamarimbing I
Dotu Mamarimbing disebut sebagai Mawarimbing karena ia merupakan keturunan dari Tonaas yang ahli dalam mendengarkan suara burung wara' atau yang dikenal sebagai burung manguni (ma' wara' = tukang mendengar suara burung wara'/manguni; warimbing = bulu leher ayam jantan/unggas).

Burung ini sering disebut dengan nama "koko' ni Mamarimbing" (burung dari Opo Mamarimbing, koko' = ayam/unggas) karena pada waktu Pertemuan/Kongres Raya/Konferensi I di Watu Pinawetengan, yaitu pada masa Opo Kopero, Mandei, dan Muntu-untu yang memimpin pertemuan orang Malesung (julukan untuk orang Minahasa purba) untuk membagi wilayah Minahasa menjadi empat kelompok besar (paesaan/pakasaan), yaitu Tontemboan/Tumaratas, Tombulu, Tondano/Toulour, dan Tonsea. Pada saat itu, Opo Mamarimbing I (Opo Mamarimbing tua) menjadi juru pendengar burung wara' atau burung manguni
Opo Mamarimbing tua dikisahkan sebagai anak dari Toar dan Lumimuut. Istrinya bernama Tina’atalan yang melahirkan anak-anak: Matulandi, Tasumondak, dan Tarumampen. Mereka tinggal di daerah utara/barat kaki Gunung Tonderukan di Tumaratas tua, yang kini terletak di antara kampung Kanonang dan Tumaratas. Pemukiman di Tumaratas tua ini lama kelamaan berkembang menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok "Mawale" di sebelah barat dan "Tou Ure" di sebelah timur.
Perang Pasengkotan
Perang Pasengkotan, adalah sebuah konflik kuno yang terjadi di tanah Malesung (nama lama Minahasa). Pertarungan ini melibatkan nenek moyang awal Minahasa melawan kelompok pendatang dari selatan yang disebut sebagai kaum "Pasengkotan" yang artinya "pendatang". Peristiwa ini dicatat dalam tradisi lisan sebagai salah satu momen penting setelah era ampuhan (banjir besar), yang membentuk penyebaran sub-etnis Minahasa di bagian selatan.[1]
Konflik ini dimulai setelah Opo Mamarimbing, seorang Walian tua, dan Opo Makawulur yang merupakan seorang Waraney atau ksatria gunung, memimpin. Menurut cerita para budayawan, ancaman muncul dari selatan (sekitar Lilinowan hingga Danau Moat), di mana ada perubahan budaya yang tidak menghargai kesetaraan dan aturan adat Watu Tiwa. Orang-orang lokal mengidentifikasi kelompok musuh ini sebagai kaum "Pasengkotan".[2]
Untuk mempertahankan diri, bangsa Minahasa menciptakan Lesung Masaru. Ini adalah sembilan lesung batu yang digunakan dalam ritual perang. Lesung utama diukir dengan simbol dari leluhur Toar dan Lumimuut sebagai permohonan kekuatan kepada Empung Ririmpuruan. Abu dari kuburan nenek moyang diletakkan di dalam lesung tersebut dan diarahakan ke posisi musuh, dengan harapan bahwa jiwa para leluhur akan mengganggu konsentrasi musuh sebelum terjadinya pertempuran fisik.[3]

di sepanjang pinggir Sungai Ranoyapo. Pasukan gabungan Pasengkotan berhasil didorong mundur menuju selatan oleh pasukan yang dipimpin oleh Opo Makawulur dan Opo Mamarimbing.
Setelah kematian para pemimpin tertua, kaum Pasengkotan kembali menyerang dengan kekuatan yang lebih besar dari arah pantai. Perang ini dikenal dengan sebutan bage sapu rata karena strategi serangan yang dilakukan bangsa Minahasa untuk menerobos kepungan musuh. Karena pertempuran ini, pasukan Minahasa terpaksa mundur sampai ke daerah Tenga dan Sonder.[4]
Opo Mamarimbing II
Opo Mamarimbing II, yang merupakan keturunan dari dotu Mamarimbing, hidup jauh setelah Opo Mamarimbing tua, yaitu sekitar abad 17. Opo Mamarimbing II lahir sekitar tahun 1630-1640 dan tinggal di daerah Tongkimbut (Kawangkoan).
Perang dengan Spanyol
Mamarimbing menjadi salah satu pemimpin di perang Minahasa melawan Spanyol tahun 1664. Bersama dengan tokoh-tokoh seperti Ukung Oki, Londe, dan lainnya, Mamarimbing berjuang mempertahankan tanah Minahasa dari Spanyol. Pertempuran sengit terjadi di wilayah Pontak dan Tonsawang, mengakibatkan kerugian besar bagi pasukan Spanyol dan memaksa mereka mundur ke Filipina pada tahun 1665. Peran Mamarimbing dalam perjuangan ini menjadi bagian penting dari sejarah perlawanan rakyat Minahasa.
Perang dengan Mongondow

Mamarimbing juga berjasa menjadi pemimpin perang Minahasa melawan Bolaang Mongondow. Pada waktu perang Minahasa melawan Bolaang Mongondow yang terakhir pada sekitar tahun 1560 hingga 1590, mereka melawan Raja Loloda Mokoagow (Datoe Binangkang). Dalam perang ini, peranan Opo Mamarimbing/Mawarimbing sangat besar. Saat para dotu dan panglima perang berkumpul untuk merumuskan strategi menghadapi pasukan Mongondow, Opo Mamarimbing selalu mendengarkan suara burung wara’ untuk mengetahui keputusan para Opo di kasendukan (surga). Akhir dari perang ini adalah Raja Loloda Mokoagow beserta pasukannya dari pakasaan Tombulu, Tonsea, Tondano, dan Tontemboan mundur ke timur di daerah Tourages-Tompaso pada bulan Juni 1693, di mana saat itu mereka membakar mayat musuh mereka di tempat tersebut (Touracet, Tou Rages = orang yang dibakar). Pasukan mereka akhirnya kalah dan mundur hingga ke seberang kuala Poigar yang artinya "batas". Dari sini, nama orang Minahasa berubah dari Malesung menjadi Minahasa
Kemenangan ini berlanjut dengan pengusiran Mongondow dari markas mereka di Pinamorongan hingga ke sungai Ranoyapo dan Poigar. Di sepanjang sungai Poigar, barikade bambu yang didirikan oleh pasukan Minahasa masih dapat dilihat hingga kini. Kisah ini juga menjelaskan asal-usul nama Kuntung Tareran, yang berasal dari kata “Rinareran,” yang berarti berjejer, merujuk pada berjejernya kepala-kepala korban Mongondow di sepanjang bukit tersebut[2]
Karena khawatir dengan situasi perang ini, VOC mengutus Residen VOC di Manado, Hermann Jansz Steykuyler, untuk membuat perjanjian damai antara orang Minahasa dan Bolaang Mongondow pada tanggal 21 dan 30 September 1694 dengan pengganti Raja Loloda Mokoagow (Datoe Binangkang), yaitu Jacobus Manoppo (anak Loloda dari seorang gadis Minahasa, Malo, asal Rumoong Bawah), yang menyepakati perbatasan Minahasa dan Kerajaan Bolaang Mongondow terletak di garis Tanjung Poigar-kuala Poigar-selatan Pontak-kuala Boeras (Buyat).
Karena jasa-jasanya dalam perang Minahasa-Mongondow, Opo Mamarimbing II mendapat bagian tanah yang terletak di seberang kuala Ranoiapo (Rano I Apo), yaitu tanah "Kawangkoan di bawah", yang berada di sebelah barat laut tanah "Rumoong di bawah".
Wafat

Opo Mamarimbing II meninggal dan dimakamkan di kompleks waruga Tongkimbut (Kawangkoan) di kuburan Talikuran/Kinali, yaitu di sebelah timur laut kota Kawangkoan sekarang.
Pada masa hidup Opo Mamarimbing II, Tongkimbut merupakan pusat Wolo dan dipimpin oleh Tuur im Balak sekitar tahun 1650, bersama Tonaas Wangko Tuwo. Anak dari Wolo yang bernama Karamoij memisahkan diri dan mendirikan pemukiman di Tongkimbut Bawah (Sonder) bersama Keintjem, Pesik, Palar, Mangowal, dan Toporundeng.
Referensi
Anthonius Dan Sompe and Demsy Jura (11–12 October 2021). "Watu Pinawetengan as a Symbol of Unity and Brotherhood of the Minahasa Tribe". Proceedings of the 6th Batusangkar International Conference, BIC 2021. Batusangkar-West Sumatra, Indonesia: EAI. doi:10.4108/eai.11-10-2021.2319590. Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
(Buku *”Taar Era – Legenda Lipan & Konimpis”* oleh Valry S.H. Prang, 2017)
(Sumber Buku Mitologi & Sejarah Sub Etnis Minahasa Oleh. Drs. Valry S.H. Prang, 2017) [3] [4]
- ^ Karundeng, Rikson (2024-08-02). "Waraney Wuaya di Watu Tiwa': Menata Situs, Menjaga Pengetahuan - Kelung" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ "Kisah Pegunungan Tareran: Awal Sejarah Dan Strategi Perjuangan". Malesung. 2025-01-07. Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ https://malesung.com/sekilas-kisah-legenda-pertempuran-minahasa-mongondow-di-pegunungan-tareran/
- ^ https://valryprang.blogspot.com/
- ^ https://kelung.id/lasung-masaru-dan-perang-pasengkotan/
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


