Malam Tujuh Likur

Malam Tujuh Likur biasa juga disebut likuran atau malam selikur adalah budaya masyarakat Melayu berupa memasang lampu tradisional (disebut lampu colok atau lampu cangkok) adapula yang menggunakan obor. Kegiatan ini dilakukan sejak malam ke 21 Ramadan yang merupakan 10 hari terakhir Ramadan. dan ditambah satu setiap malam hingga akhir Ramadan hingga puncaknya di malam 27 Ramadan. Kegiatan ini berkaitan dengan malam Lailatul Qadar yang dipercaya datang di sepertiga akhir Ramadan.[1]

Selain itu, pemasangan lampu pelita juga diramaikan dengan kenduri yang diadakan bergantian dari rumah ke rumah selama seminggu. Kenduri biasanya dilakukan selepas shalat Tarawih.

Sejak tahun 2019, Tujuh Likur dan Pintu Gerbang Lingga masuk dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia.[2]

Malam Tujuh Likur di berbagai daerah Indonesia

  • Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau: Masyarakat memiliki kebiasaan untuk tidak menutup pintu rumah dan jendela. Mereka juga menghidupkan lampu seterang-terangnya. Pada saat kenduri juga disiapkan beberapa panganan seperti kue wajik, kue bangkit dan kue bahulu.[1]
  • Daik Lingga, Kepulauan Riau (Kepri): Selain pemasangan lampu juga dilakukan pembuatan ornamen pintu gerbang dengan nuansa islami. Beragam pintu gerbang dibangun untuk menyemarakkan kegiatan ini. Pintu gerbang telah disiapkan oleh pemuda dengan bergotong royong beberapa hari sebelumnya. Selain itu juga diramaikan dengan permainan meriam bambu di Lapangan Hang Tuah Daik Lingga.
  • Desa Mancung, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat: Malam 7 Likur juga menjadi bagian dari festival budaya tahunan.[3]
  • Malaysia : Perayaan ini juga dilakukan oleh etnis Melayu di Malaysia. Misalnya di Kota, Negeri Sembilan. Mereka menyalakan pelita di pinggir jalan sebagai bagian untuk memberi kemudahan masyarakat yang menuju ke masjid untuk mencari Malam Lailatul Qadr. Mereka juga menyediakan makanan tradisional secara bergotong royong seperti membuat dodol, rendang, bubur lambuk dan lemang yang menjadi menu wajib.[4]

Malam Tujuh Likur di Malaysia

Pelita daripada buluh yang dibina menyerupai masjid di Tepoh, Terengganu

Salah satu daerah yang masih melestarikan tradisi ini adalah Kampung Semerbok, Kota, Negeri Sembilan. Setiap tahun, pada sepuluh malam terakhir Ramadan, masyarakat setempat memasang pelita (lampu minyak tanah) di sepanjang jalan, di sekitar rumah, dan di tempat-tempat umum. Pemasangan pelita ini bertujuan untuk menerangi jalan bagi mereka yang pulang dari masjid setelah menunaikan ibadah malam, serta menciptakan suasana yang meriah sebagai bagian dari perayaan Ramadan.[5]

Proses pemasangan pelita dimulai dengan menyiapkan sumbu dan mengisi minyak tanah ke dalam wadah pelita. Setelah itu, pelita dinyalakan segera setelah berbuka puasa dan dibiarkan menyala hingga menjelang waktu sahur. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga melambangkan semangat gotong royong serta kebersamaan dalam komunitas.[5]

Selain pemasangan pelita, Malam Tujuh Likur juga menjadi ajang untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, seperti tadarus Al-Qur’an, ceramah agama, dan doa bersama. Beberapa organisasi kemasyarakatan, seperti Run Rembau, turut serta dalam upaya melestarikan tradisi ini dengan mengadakan berbagai program bagi generasi muda agar mereka tetap mengenal dan menjaga warisan budaya leluhur mereka.[5]

Gotong Royong dan Penyediaan Juadah Ramadan

Tradisi Malam Tujuh Likur juga erat kaitannya dengan kegiatan gotong royong dalam masyarakat. Di Kampung Semerbok, misalnya, kegiatan ini tidak hanya terbatas pada pemasangan pelita, tetapi juga meluas hingga penyediaan makanan khas Ramadan. Warga desa, baik yang muda maupun yang tua, berpartisipasi dalam memasak makanan secara bersama-sama.[6]

Salah satu hidangan yang selalu hadir dalam tradisi ini adalah bubur lambuk, bubur khas Ramadan yang dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Selain itu, makanan khas lainnya seperti dodol, rendang, dan lemang juga disiapkan menjelang Hari Raya Idulfitri. Proses pembuatan dodol, misalnya, bisa memakan waktu hingga 12 jam dan memerlukan banyak tenaga untuk mengaduk adonan secara terus-menerus.[6]

Semua makanan yang telah dimasak kemudian dibagikan kepada warga sekitar sebagai bentuk berbagi rezeki dan mempererat persaudaraan antarwarga. Momen berbuka puasa pun menjadi lebih istimewa dengan adanya tradisi makan bersama di atas tikar dengan hidangan yang disajikan dalam dulang, mencerminkan kebersamaan dan keharmonisan dalam masyarakat.[5]

Pelestarian Tradisi

Tradisi Malam Tujuh Likur bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam mempererat hubungan sosial dan melestarikan nilai-nilai kebersamaan. Ketua Majlis Pengurusan Komuniti Kampung Semerbok, Ribuan Abdul Wahab, menekankan pentingnya menjaga tradisi ini agar tidak hilang ditelan zaman. Ia menyatakan bahwa meskipun masyarakat memiliki perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi melalui kegiatan seperti ini, mereka dapat bersatu dan memperkuat tali persaudaraan.[5]

Malam Tujuh Likur juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk lebih mengenal sesama warga dan saling membantu. Nilai-nilai gotong royong yang diterapkan dalam kegiatan ini mencerminkan semangat kolektivitas yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Malaysia. Oleh karena itu, banyak pihak yang berupaya untuk terus melestarikan tradisi ini agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.[5]

Referensi

  1. ^ a b Antika, Rindi. "Mengenal Tradisi Malam Tujuh Likur Masyarakat Kepulauan Riau". detiksumut. Diakses tanggal 2025-02-27.
  2. ^ "SiAPIK KEPRI". siapik.kepriprov.go.id. Diakses tanggal 2025-02-27.
  3. ^ "Pj Gubernur Safrizal: Festival 7 Likur, Tradisi Budaya Sarat Makna yang Harus Dilestarikan". babelprov.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-02-27.
  4. ^ "Malam tujuh likur: Kesinambungan tradisi dan tuntutan agama". www.astroawani.com. Diakses tanggal 2025-02-27.
  5. ^ a b c d e f www.astroawani.com https://www.astroawani.com/gaya-hidup/malam-tujuh-likur-kesinambungan-tradisi-dan-tuntutan-agama-359316. Diakses tanggal 2025-03-05.
  6. ^ a b BERNAMA (2021-05-08). "Malam tujuh likur". Harian Metro (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-05.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement