Mahidol Adulyadej, Pangeran Songkla

Mahidol Adulyadej
Pangeran Bapa Thailand
Kelahiran1 Januari 1892
Bangkok, Siam
Kematian24 September 1929
Bangkok, Siam
Pemakaman16 Maret 1930
Sanam Luang, Bangkok
PasanganSangwan Talapat (menikah 1920)
KeturunanGalyani Vadhana, Putri Naradhiwas
Raja Ananda Mahidol (Rama VIII)
Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX)
WangsaMahidol
DinastiChakri
AyahChulalongkorn (Rama V)
IbuSavang Vadhana
AgamaBuddha Theravada
Tanda tanganMahidol Adulyadej

Mahitaladhibes Adulyadejvikrom, sang Ayah Pangeran (bahasa Thai: สมเด็จพระมหิตลาธิเบศรอดุลยเดชวิกรม พระบรมราชชนก; RTGS: Somdet Phra Mahitalathibet Adunyadetwikrom Phra Borommaratchachanok) (1 Januari 1892 – 24 September 1929), atau gaya resmi Mahidol Adulyadej, Pangeran Songkla adalah Ayah dari Raja Ananda Mahidol (Raja Rama VIII) dan Raja Bhumibol Adulyadej (Raja Rama IX) dari Thailand. Ia juga dikenal sebagai bapak kesehatan publik dan pengobatan modern Thailand. Ia juga mendirikan Wangsa Mahidol atau sekarang bernama Dinasti Chakri.

Pangeran Mahidol adalah anak ke-69 dari Raja Chulalongkorn dan ke-7 dari Ratu Savang Vadhana. Ibunya juga mengadopsi empat putri lain yang merupakan ibu-ibu biasa (Chao Chom Manda) yang meninggal di antara anak mereka adalah Pangeran Rangsit Prayulsak, kemudian bernama Pangeran Chainat, yang menjadi teman yang sangat dekat dengan Prince Mahidol selama masa kekanakannya. Kemudian di kehidupan mereka, Pangeran Rangsit akan memainkan peran penting dalam karier Mahidol, dan kemudian akan diangkat bupati ke salah satu anak Mahidol di Bhumibol.

Biografi

Pangeran Mahidol Adulyadej saat berusia 5 tahun.

Masa muda

Pangeran Mahidol Adulyadej adalah putra ke-69 dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dan putra ke-7 dari Ratu Savang Vadhana (kemudian menjadi Ibu Suri Sri Savarinthira). Beliau lahir pada hari Jumat, 1 Januari 1892 (menurut kalender lama Thailand tahun 1891) di kediaman Ibu Suri di dalam kompleks Istana Besar (Grand Palace), Bangkok.

Satu bulan setelah kelahirannya, Raja Chulalongkorn mengadakan upacara perayaan bulanan sesuai tradisi kerajaan pada 2 Februari 1892 dan memberikan nama lengkap yang panjang kepadanya, dengan nama panggilan informal yaitu Thul Kramom Daeng ("Pangeran Merah").

Beliau memiliki beberapa saudara kandung seibu, termasuk Putra Mahkota Maha Vajirunhis, Pangeran Isariyalongkorn, Putri Vichitra Chiraprabha, Pangeran Sommatiwongse Varodaya, Putri Valaya Alongkorn, dan Putri Sirabhorn Sobhon.

Semasa kecil, beliau tinggal bersama ibunya di Istana Besar di bawah pengasuhan Putri Somawadi Sriritanarajthida. Karena kondisi kesehatannya yang kurang prima, beliau harus mengonsumsi minyak ikan secara teratur. Makanan kesukaannya adalah ikan kura dengan jeruk bali, serta tebu potong yang direndam dalam air bunga segar untuk pencuci mulut.

Foto dalam upacara Sokant (potong jambul) pada usia 13 tahun.

Pada usia 12 tahun, Raja Chulalongkorn mengadakan upacara akbar Sokant (potong jambul) selama 7 hari 7 malam dari tanggal 24 hingga 31 Desember 1903. Setelah upacara tersebut, beliau dianugerahi gelar bangsawan tinggi (Krom) sebagai Krom Khun Songkhla Nakarin (Pangeran Songkhla).

Masa kebiaraan (Monastisitas)

Pada 21 Agustus 1904, satu tahun setelah upacara Sokant, Pangeran Mahidol bersama kakaknya, Putra Mahkota Maha Vajiravudh (kemudian Raja Rama VI), menjalani masa kebiaraan sebagai Samanera di Ubosot Wat Phra Si Rattana Satsadaram. Beliau menerima nama dharma Mahitalatulo. Selama menjadi biarawan, beliau tinggal di Wat Bowonniwet Vihara, sebelum akhirnya melepas masa kebiaraannya pada 13 Desember 1904.

Pendidikan

Beliau memulai pendidikan dasarnya di Sekolah Rajakumara di dalam Istana Besar. Sahabat karibnya adalah Pangeran Rangsit Prayurasakdi (kemudian Pangeran Chai Nat). Beliau juga terdaftar sebagai taruna khusus di Akademi Militer Kerajaan Chulachomklao bersama adik-adiknya, termasuk Pangeran Asdang Dejavudh, Pangeran Chudhadhuj Dharadilok, dan Pangeran Prajadhipok (kemudian Raja Rama VII).

Setelah itu, beliau berangkat ke Eropa untuk melanjutkan studi bersama saudara-saudaranya. Beliau belajar di Sekolah Harrow (Harrow School) di London, Inggris hingga tahun 1907. Beliau kemudian pindah ke Jerman untuk belajar di sekolah militer di Potsdam dan melanjutkan ke Akademi Militer Tinggi di Groß-Lichterfelde, Berlin.

Selama masa studinya di Jerman, Raja Chulalongkorn wafat pada 23 Oktober 1910. Pangeran Mahidol kembali ke Siam untuk menghadiri upacara kremasi ayahnya. Setelah upacara selesai, beliau kembali ke Jerman dan berhasil menyelesaikan pendidikan militernya dengan pangkat Fähnrich (Kadet). Beliau menjadi orang Thailand pertama yang meraih nilai tertinggi dalam ujian tersebut dari sekitar 400 siswa.

Beliau kemudian berpindah dari korps Angkatan Darat ke Angkatan Laut atas permintaan pemerintah Siam yang saat itu kekurangan perwira angkatan laut yang berkompeten. Beliau masuk ke Akademi Angkatan Laut Mürwik (Marineschule Mürwik) dan lulus dengan hasil gemilang. Beliau sempat bertugas di Angkatan Laut Kekaisaran Jerman dan juga menerima pangkat Letnan Dua (Sub-Lieutenant) di Angkatan Laut Kerajaan Siam dari Raja Rama VI pada tahun 1911.

Kembali ke Thailand

Pangeran Mahidol Adulyadej dalam seragam Angkatan Laut.

Pada tahun 1914, pecahnya Perang Dunia I memaksa beliau meninggalkan Angkatan Laut Jerman dan kembali ke Thailand. Beliau bertugas di Departemen Staf Angkatan Laut dengan pangkat Letnan Satu. Namun, masa pengabdiannya di angkatan laut tidak berlangsung lama.

Keponakannya, Pangeran Chula Chakrabongse, menulis bahwa Pangeran Mahidol sangat mencintai tugas angkatan laut dan ingin memimpin kapal torpedo di laut lepas. Namun, pihak berwenang menganggap tidak pantas bagi seorang pangeran tinggi untuk melakukan tugas berbahaya tersebut. Hal ini membuatnya kecewa.

Selain itu, terdapat perbedaan pendapat teknis dengan perwira senior. Pangeran Mahidol berpendapat bahwa Siam sebaiknya memiliki kapal-kapal kecil yang efisien seperti Kapal selam dan kapal torpedo yang bisa bermanuver di sungai, daripada kapal perang besar yang menurutnya belum mendesak. Karena aspirasinya dalam dunia militer tidak terpenuhi, ditambah masalah kesehatan yang rapuh, beliau memutuskan untuk beralih ke bidang kesehatan. Atas saran dari saudaranya, Pangeran Rangsit Prayurasakdi, beliau memutuskan untuk pergi ke Amerika Serikat untuk mempelajari kesehatan masyarakat dan kedokteran di Universitas Harvard. Beliau mengabdi di Angkatan Laut Siam hanya selama 9 bulan 18 hari sebelum akhirnya mendedikasikan hidupnya untuk dunia medis.

Beralih ke dunia kedokteran

Setelah mengundurkan diri dari dinas militer, Pangeran Rangsit Prayurasakdi (saat itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Departemen Pendidikan dan Komandan Sekolah Kerajaan Medis) bersama Mom Chao Poonsri Kasem Kasemsri, mengunjungi Pangeran Mahidol untuk mengajaknya membantu mengembangkan Rumah Sakit Siriraj. Pangeran Rangsit mengundang beliau mampir ke rumah sakit tersebut.

Saat melihat kondisi rumah sakit yang sempit dan tidak mampu menampung pasien hingga banyak yang harus menunggu di bawah pohon, serta kekurangan peralatan medis yang parah, Pangeran Mahidol merasa sangat prihatin. Beliau pun memutuskan untuk membantu meningkatkan kualitas medis Thailand. Namun, beliau memiliki prinsip: "Sebelum membantu, aku harus memiliki pengetahuan tentang hal tersebut terlebih dahulu." Oleh karena itu, beliau bertekad untuk mempelajari ilmu kedokteran secara formal terlebih dahulu.[1]

Pangeran Rangsit Prayurasakdi menjelaskan alasan mengapa beliau sangat gigih mengajak Pangeran Mahidol membantu dunia medis:

Karena Pangeran Mahidol adalah pangeran berpangkat tinggi. Jika beliau terjun langsung mengelola hal ini, maka kegiatan medis akan menjadi lebih menonjol dan menarik lebih banyak orang untuk ikut membantu. Selain itu, beliau memiliki pendapatan yang tinggi namun lebih suka menggunakannya untuk amal publik. Dan yang paling penting, beliau adalah pangeran yang cerdas, memiliki ketekunan yang luar biasa, dan jika melakukan sesuatu, beliau akan melakukannya dengan sungguh-sungguh tanpa menyerah. Dengan begitu, urusan medis akan maju dengan pesat.

— Pangeran Rangsit Prayurasakdi

Masa studi kedokteran

Pangeran Mahidol memutuskan untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Beliau berkonsultasi dengan Phraya Kalyanaitri (Jens Iverson Westengard) dalam memilih universitas. Beliau memilih untuk belajar di Universitas Harvard, Cambridge, Massachusetts. Beliau memulai dengan kelas pra-kedokteran selama satu tahun dan resmi terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran tahun pertama di Fakultas Kedokteran Harvard pada tahun 1917.

Setelah menyelesaikan studi praklinis, beliau sempat menunda pendidikan kedokterannya untuk mendaftar di Sekolah Kesehatan Masyarakat yang didirikan atas kerja sama antara Universitas Harvard dan Institut Teknologi Massachusetts (MIT) pada tahun 1919. Selama masa studi ini, beliau menulis laporan penelitian berjudul "A sanitary survey of the city of Gloucester, Massachusetts 1921" dan berhasil meraih Sertifikat Kesehatan Masyarakat (C.P.H.) pada tahun 1921.

Saat menempuh pendidikan di Harvard, beliau menyewa sebuah apartemen dan hanya memiliki satu orang pelayan. Beliau menggunakan nama samaran "Mr. Mahidol Songkhla". Dr. A.G. Ellis, yang mengenalnya saat itu, memberikan kesaksian:

Di Universitas Harvard, beliau hanyalah seorang mahasiswa kedokteran biasa, bukan seorang bangsawan. Di kartu namanya tertulis 'Mr. Mahidol Songkhla'. Di negara yang tidak mengenal sistem bangsawan, beliau memposisikan dirinya bukan sebagai pangeran. Kami menganggap sikap beliau ini sebagai penghormatan sejati bagi negara kami dan sesuai dengan karakteristik seorang bangsawan yang sesungguhnya.

— Dr. A.G. Ellis

Setelah meraih sertifikat kesehatan masyarakat, beliau bertindak sebagai perwakilan pemerintah Siam dalam bernegosiasi dengan Yayasan Rockefeller terkait bantuan pendidikan medis dan sains di Thailand. Kerja sama ini mencakup pengembangan kurikulum, staf pengajar, dan lingkungan pendidikan di Universitas Chulalongkorn dan Fakultas Kedokteran Rumah Sakit Siriraj.

Setelah itu, beliau sempat mencoba melanjutkan studi kedokteran tahun ketiga di Universitas Edinburgh, Skotlandia. Namun, beliau menderita penyakit ginjal (nefritis). Cuaca Inggris yang lembap dan dingin tidak cocok bagi kondisi kesehatannya, sehingga beliau harus kembali ke Siam. Raja Rama VI kemudian mengangkatnya menjadi Direktur Jenderal Departemen Universitas pada 11 Oktober 1923.

Pada tahun 1926, beliau kembali ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan studi kedokterannya di Universitas Harvard. Beliau akhirnya lulus dan meraih gelar Dokter Medis (M.D.) dengan predikat memuaskan (Cum Laude) pada tahun 1928. Beliau kembali ke Thailand pada 13 Desember 1928 dan menetap di Istana Baru, Istana Sra Pathum.

Dokter Pangeran (Mho Chao Fa)

Tugas pertama beliau sekembalinya ke Thailand adalah memberikan beasiswa kepada 10 mahasiswa untuk belajar di bidang kedokteran. Beliau berpandangan bahwa lulusan kedokteran luar negeri hanya mempelajari penyakit yang ada di wilayah tersebut. Oleh karena itu, sekembalinya ke Thailand, mereka harus belajar satu tahun lagi untuk mendapatkan keahlian mengenai penyakit-penyakit yang ada di Thailand. Namun, pihak berwenang tidak dapat memenuhi keinginan beliau, yang menyebabkan beliau merasa kurang puas.

Akibatnya, beliau mengubah niatnya dari bekerja di Rumah Sakit Siriraj menjadi bekerja di Rumah Sakit McCormick di Provinsi Chiang Mai. Beliau tiba di Chiang Mai pada 24 April 1929 dan tinggal bersama keluarga Direktur Rumah Sakit saat itu, Dr. E.C. Cort. Beliau hanya membawa satu orang pelayan.[2]

Beliau sangat memperhatikan perawatan masyarakat luas, sehingga penduduk Chiang Mai menjuluki beliau Mho Chao Fa (Dokter Pangeran).[3] Beliau menetap di Chiang Mai selama kurang lebih tiga minggu sebelum akhirnya harus kembali ke Bangkok pada 18 Mei 1929 untuk menghadiri upacara kremasi Pangeran Bhanurangsi Savangwongse.

Wafat

Guci Jenazah Kerajaan (Royal Urn) Pangeran Mahidol Adulyadej di Balairung Istana Suan Kularb.
Phra Merumas (Krematorium Kerajaan) Pangeran Mahidol Adulyadej di Sanam Luang.

Setelah selesainya upacara kremasi Pangeran Bhanurangsi, Pangeran Mahidol berniat kembali ke Chiang Mai. Namun, rencana tersebut tidak terlaksana karena beliau jatuh sakit dan harus beristirahat di Istana Sra Pathum bersama ibunya, dan tidak pernah meninggalkan istana lagi sejak saat itu.[3]

Selama masa perawatan, pikiran beliau tetap tercurah pada Rumah Sakit Siriraj. Setiap kali ada orang dekat yang menjenguk, beliau selalu menanyakan progres pekerjaan terkait rumah sakit tersebut. Kondisi kesehatannya sempat membaik namun kemudian menurun drastis. Dokter pribadinya, Profesor T.P. Noble dan W.H. Perkins, telah berusaha memberikan perawatan terbaik, namun kondisi beliau terus memburuk.

Pada tanggal 24 September 1929, pukul 16:45, Pangeran Mahidol Adulyadej wafat akibat abses hati (amoebic liver abscess), disertai komplikasi edema paru dan gagal jantung. Beliau wafat pada usia 38 tahun, 8 bulan, dan 23 hari, setelah menderita sakit selama kurang lebih tiga setengah bulan.

Raja Prajadhipok (Rama VII) memerintahkan Pangeran Paribatra Sukhumbandhu untuk mewakili raja dalam upacara pemandian jenazah di Istana Sra Pathum, kemudian jenazah disemayamkan di Balairung Istana Suan Kularb, Istana Dusit. Upacara kremasi kerajaan (Phra Ratchaphithi Thawai Phra Phloeng Phra Sop) dilaksanakan pada 16 Maret 1930 di Sanam Luang.[4]

Sebagai bentuk penghormatan, Rumah Sakit Siriraj memasang papan kutipan beliau sebagai pesan abadi bagi para mahasiswa kedokteran yang berbunyi: "Utamakanlah kepentingan orang lain sebagai yang pertama, dan kepentingan pribadi sebagai yang kedua. Keuntungan, kekayaan, dan kehormatan akan datang sendirinya jika Anda menjaga kemurnian etika profesi Anda."

Kehidupan Pribadi

Nama dan Nama Keluarga Mahidol

Lambang pribadi Pangeran Mahidol Adulyadej dan lambang Keluarga Mahidol.

Nama asli Pangeran Mahidol dapat ditemukan dalam dua ejaan: "Mahidol Aduldet" dan "Mahidol Adulyadej". Pada awalnya, Raja Rama V memberikan nama "Mahidol Aduldet" saat upacara perayaan bulanan kelahirannya. Namun, saat beliau berusia 12 tahun dan diberikan gelar Chao Fa (Pangeran Tinggi) dengan gelar wilayah Krom Khun Songkhla Nakarin, namanya dicatat sebagai "Mahidol Adulyadej".

Setelah putranya, Ananda Mahidol, naik takhta sebagai Raja Rama VIII, namanya secara resmi kembali menggunakan ejaan "Mahidol Aduldet". Namun, pada tanggal 9 Juni 1970, bertepatan dengan 24 tahun masa pemerintahan Raja Rama IX, dikeluarkan dekret kerajaan yang menetapkan nama anumerta beliau menjadi Somdet Phra Mahitalathibet Adulyadej Vikrom Phra Boromarajchanok. Sejak saat itu, ejaan "Mahidol Adulyadej" digunakan secara resmi hingga sekarang. Raja Rama IX juga memberikan status kehormatan bagi beliau setara dengan Krom Phra Ratchawang Bowon Sathan Mongkhon (Wakil Raja) di masa lalu.

Mengenai nama keluarga, saat menempuh studi di luar negeri, beliau menggunakan nama Mr. Mahidol Songkla, sementara istrinya menggunakan nama Mrs. Songkla. Oleh karena itu, anak-anak beliau awalnya menggunakan nama keluarga "Songkla". Baru pada tahun 1929, Raja Rama VII menganugerahkan nama keluarga kerajaan baru bagi keturunan langsung Pangeran Mahidol, yaitu "Mahidol" (ราชสกุลมหิดล), yang digunakan hingga saat ini.

Pernikahan

Pangeran Mahidol bersama Sangwan Talapat (Ibu Suri Srinagarindra).
Patung lilin Pangeran Mahidol dan Sangwan di Madame Tussauds Bangkok.

Saat belajar di Amerika Serikat, Pangeran Mahidol memberikan beasiswa pribadi kepada dua perawat terpilih dari Thailand untuk belajar di sana. Kedua perawat tersebut adalah Sangwan Talapat (kemudian dikenal sebagai Srinagarindra) dan Ubol Palakawong na Ayudhya. Pangeran Mahidol merawat kedua mahasiswanya dengan sangat baik, memberikan bimbingan tentang gaya hidup dan adat istiadat di luar negeri.

Pada 10 Oktober 1920, Pangeran Mahidol melangsungkan pernikahan dengan Sangwan Talapat (Srinagarindra) di Istana Sra Pathum setelah beliau kembali ke Thailand untuk menghadiri upacara kremasi Ibu Suri Saovabha Phongsri.

Anak-anak

Pangeran Mahidol Adulyadej dan Ibu Suri Srinagarindra memiliki tiga orang anak, yaitu seorang putri dan dua orang putra yang keduanya kelak menjadi Raja Thailand:

Foto Nama Kelahiran Wafat Pasangan Anak
Putri Galyani Vadhana, Putri Naradhiwas 6 Mei 1923 2 Januari 2008 Aram Rattanakul Serirengrit Dhasanawalaya Sornsongkram
Raja Ananda Mahidol (Rama VIII) 20 September 1925 9 Juni 1946 Tidak menikah Tidak ada
Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) 5 Desember 1927 13 Oktober 2016 Ratu Sirikit 1. Putri Ubolratana Rajakanya

2. Raja Vajiralongkorn (Rama X) 3. Putri Maha Chakri Sirindhorn 4. Putri Chulabhorn Walailak

Jasa dan Kontribusi Penting

Selama bertugas di Angkatan Laut, beliau merancang proyek kapal selam pertama bagi Thailand. Meskipun rencana tersebut tidak langsung terwujud saat itu, 20 tahun kemudian Angkatan Laut Thailand akhirnya memiliki 4 kapal selam pertama (HTMS Matchanu, Wirun, Sinsamut, dan Phlai Chumphon) berdasarkan visi beliau.

Di bidang medis, beliau mengabdikan diri selama 10 tahun untuk memodernisasi kesehatan Thailand. Beliau menyumbangkan harta pribadi untuk pembangunan berbagai gedung dan perluasan **Rumah Sakit Siriraj**. Beliau juga melakukan survei sanitasi di Bangkok untuk dibandingkan dengan standar internasional dan mengusulkan sistem kremasi elektrik demi kesehatan lingkungan.

Selain kedokteran, beliau juga memberikan dana sebesar 100.000 Baht untuk beasiswa studi perikanan di luar negeri guna meningkatkan nutrisi rakyat Thailand, sehingga beliau juga dijuluki sebagai "Pelita Konservasi Satwa Air Thailand". Beliau juga membantu institusi pendidikan lain seperti Bangkok Christian College dan memberikan peralatan medis modern seperti mesin sinar-X untuk Rumah Sakit McCormick.

Penghormatan

Monumen Pangeran Mahidol Adulyadej di depan Rumah Sakit Siriraj, Bangkok.

Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, tanggal wafat beliau, yaitu 24 September, diperingati setiap tahun sebagai "Hari Mahidol" di Thailand. Universitas medis terkemuka di Thailand juga dinamai sesuai namanya, yaitu Universitas Mahidol.

Gelar dan Penghormatan

Gelar Kerajaan

  • 1 Januari 1892 – 10 Januari 1904: Yang Mulia Pangeran Mahidol Adulyadej (Somdet Phra Chao Luk Ya Thoe Chao Fa Mahidon Adulyadet)
  • 10 Januari 1904 – 23 Oktober 1910: Yang Mulia Pangeran Mahidol Adulyadej, Pangeran Songkhla (Somdet Phra Chao Luk Ya Thoe Chao Fa Mahidon Adulyadet Krom Khun Songkhla Nakarin)
  • 23 Oktober 1910 – 26 November 1925: Yang Mulia Pangeran Mahidol Adulyadej, Pangeran Songkhla (sebagai Adik Raja) (Somdet Phra Chenthathibodi Chao Fa Mahidon Adulyadet Krom Khun Songkhla Nakarin)
  • 26 November 1925 – 24 September 1929: Yang Mulia Pangeran Mahidol Adulyadej, Pangeran Songkhla (sebagai Kakak Raja) (Somdet Phra Chao Phi Ya Thoe Chao Fa Mahidon Adulyadet Krom Khun Songkhla Nakarin)
  • 13 November 1929 – 25 Maret 1935: Yang Mulia Pangeran Mahidol Adulyadej, Pangeran Songkhla (Gelar Anumerta Dinaikkan) (Somdet Phra Chao Phi Ya Thoe Chao Fa Mahidon Adulyadet Krom Luang Songkhla Nakarin)
  • 25 Maret 1935 – 9 Juni 1970: Yang Mulia Pangeran Ayahanda (Somdet Phra Ratchabida Chao Fa Mahidon Adulyadet Krom Luang Songkhla Nakarin)
  • 9 Juni 1970 – Sekarang: Yang Mulia Pangeran Mahidol Adulyadej, Pangeran Ayahanda Kerajaan (Somdet Phra Mahitalathibet Adulyadej Vikrom Phra Boromarajchanok)

Pangkat Militer

Tanggal Pangkat Matra
13 Desember 1923 Letnan Kolonel Angkatan Darat
19 April 1924 Kolonel Angkatan Laut
22 April 1926 Kolonel Senior Angkatan Darat
8 Januari 1998 Laksamana Armada (Anumerta) Angkatan Laut

Nama Kehormatan (Eponim)

  • Bapak Kedokteran Modern Thailand
  • Bapak Pendidikan Tinggi Thailand (Ditetapkan tahun 2012)
  • Pelita Konservasi Satwa Air Thailand
Laksamana Armada Mahidol Adulyadej
PengabdianThailand Siam
Dinas/cabangAngkatan Laut Siam
Lama dinas1908 – 1929
PangkatLaksamana Armada (Anumerta)

Pangkat Militer

  • 13 Desember 1923: Letnan Kolonel (Angkatan Darat)
  • 19 April 1924: Kolonel (Angkatan Laut)
  • 8 Januari 1998: Laksamana Armada (Diberikan secara anumerta oleh Raja Rama IX)

Nama Kehormatan (Eponim)

  • Bapak Kedokteran Modern Thailand
  • Bapak Pendidikan Tinggi Thailand (Ditetapkan tahun 2012)
  • Pelita Konservasi Satwa Air Thailand

Penggunaan Nama Mahidol

Sebagai bentuk penghormatan, nama beliau digunakan untuk berbagai institusi dan entitas:

Pendidikan dan Kesehatan

  • Universitas Mahidol: Salah satu universitas kedokteran tertua dan terbaik di Thailand.
  • Universitas Prince of Songkla: Dinamai berdasarkan gelar wilayah beliau.
  • Institut Praboromarajchanok: Lembaga pendidikan di bawah Kementerian Kesehatan Masyarakat.
  • Penghargaan Pangeran Mahidol: Penghargaan internasional bergengsi di bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat.

Geografi dan Militer

  • Jalan Mahidol: Jalan raya utama di Provinsi Chiang Mai.
  • Galangan Kapal Mahidol Adulyadej: Galangan kapal milik Angkatan Laut Kerajaan Thailand.
  • Kamp Krom Luang Songkhla Nakarin: Markas militer infanteri laut di Songkhla.

Ilmu Pengetahuan

Referensi

  1. ^ Terpuji Nama Mahidol, hal. 31
  2. ^ Rumah Sakit McCormick Mengenal McCormick Diarsipkan 2016-08-09 di Wayback Machine., diakses 6 September 2016
  3. ^ a b Wuttisen, Suthiluck (1992). Dana Mho Chao Fa / Fakultas Kedokteran Universitas Chiang Mai. Chiang Mai: Thanaban Printing. hlm. 74. ISBN 9746723022.
  4. ^ Departemen Seni, Biro Sastra dan Sejarah. Silsilah Keluarga Kerajaan Diarsipkan 2017-02-02 di Wayback Machine.. Cetakan ke-14. Bangkok:2011, hal. 144

Pranala luar


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement