Maduretno
| Maduretno ꦩꦢꦸꦉꦠ꧀ꦤ | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Gusti Kanjeng Ratu | |||||
Maduretno pada Juni 2013 | |||||
| Kelahiran | Gusti Raden Ajeng Nurkamnari Dewi 12 April 1978 Yogyakarta, Indonesia | ||||
| Pasangan | |||||
| |||||
| Wangsa | Hamengkubuwono | ||||
| Ayah | Hamengkubuwana X | ||||
| Ibu | Ratu Hemas | ||||
| Agama | Islam | ||||
| Almamater | |||||
| Keluarga Sultan Yogyakarta |
|---|
Sri Sultan Hamengkubawana X GKR Hemas |
|
Keluarga Inti
Keluarga Besar
|
Gusti Kanjeng Ratu Maduretno (bahasa Jawa: ꦩꦢꦸꦉꦠ꧀ꦤ, translit. Maduretna; lahir 12 April 1978 dengan nama Gusti Raden Ajeng Nurkamnari Dewi[1]) adalah keluarga kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Ia merupakan putri ketiga dari Hamengkubuwana X, penguasa Yogyakarta dengan istrinya Hemas.
Masa kecil dan pendidikan
Nurkamnari Dewi menghabiskan masa kecil awalnya di kompleks perumahan Pabrik Gula Madukismo di Kasihan, Bantul. Karena kesibukkan tugas kerajaan dan politik, ia mengikuti orangtuanya pindah dari Kaliurang di Pakem, Sleman ke perumahan tersebut pada rentang akhir 1970-an hingga awal 1980-an bersama kerabat kerajaan lainnya.[2] Setelah kurang lebih satu dekade tinggal di Madukismo, keluarga tersebut kemudian memutuskan untuk pindah ke Keraton Yogyakarta pada Februari 1988.
Ayahnya, KGPH Mangkubumi merupakan putra tertua dari Hamengkubuwana IX diasumsikan sebagai pewaris utama sukesi Kesultanan Yogyakarta. Pada 1989, setelah kakeknya mangkat, ayah Nurkamnari Dewi dinobatkan sebagai Hamengkubuwana X sementara ibunya dinobatkan menjadi permaisuri.[3][4][5] Setelah penobatan orang tuanya tersebut, ia bersama seluruh saudarinya menetap penuh di Keraton Yogyakarta.
Nurkamnari Dewi dibesarkan di Yogyakarta hingga fase pendidikan sekolah menengah pertama. Ia pernah bersekolah di SMP Stella Duce Yogyakarta. Setelah lulus, ia kemudian didukung orangtuanya melanjutkan pendidikan di Australia. Nurkamnari Dewi menempuh masa SMA di Indooroopilly State Highschool (ISHS) di Brisbane, Queensland. Selulus SMA, ia memutuskan untuk tetap di Brisbane untuk melanjutkan kuliah bidang perhotelan di TAFE Queensland, sebelum ia lanjut ke bidang food and beverages di Holmesglen Glen Waverly Campus di Melbourne, Victoria.[6]
Kehidupan pribadi

Pada 9 Mei 2008, Nurkamnari Dewi menikah dengan Yun Prasetyo. Pernikahan mereka digelar di Keraton Yogyakarta dan menjadi Pernikahan Agung ketiga putri Hamengubuwana X setelah kakaknya Pembayun menikah pada 28 Mei 2002. Sesuai adat keraton, sebelum menikah, calon mempelai pria diangkat menjadi abdi dalem kraton dengan gelar dan nama Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Purbodiningrat, sementara gelar mempelai wanita menyesuaikan menjadi Gusti Raden Ayu (GRAy) Purbodiningrat.[1]
Pernikahan Nurkamnari Dewi dan Yun Prasetyo di keraton dihadiri oleh pejabat-pejabat penting negara termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Urutan acara pernikahan sesuai dengan tradisi yang berlaku di kraton dengan pengecualian, tidak ada prosesi kirab.[7]
Hingga saat ini, pasangan Purbodiningrat dan Maduretno belum dikaruniai anak.
Kiprah di keraton

Sebagai putri dalem, Maduretno menjalankan fungsi-fungsi formal dalam tata kelola internal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagai putri tengah, ia memiliki peran yang terdefinisi dalam pelaksanaan berbagai agenda dan upacara adat keraton. Maduretno terlibat dalam koordinasi dan penyelenggaraan ritual-ritual besar keraton, seperti pelaksanaan upacara Garebeg yang menandai hari Maulid Nabi Muhammad, upacara Tingalan Jumenengan Dalem (peringatan naik takhta raja), serta upacara siklus hidup bagi anggota kerabat keraton. Keterlibatannya dalam aktivitas seremonial ini merupakan bagian dari tanggung jawabnya dalam menjalankan fungsi kelembagaan Keraton sebagai pusat pelestarian tradisi dan budaya Jawa.
Di samping tugas-tugas seremonial, Maduretno juga mengemban perwakilan dan tugas administratif. Ia sering ditugaskan untuk mewakili ayahnya dalam menerima kunjungan resmi, baik dari pejabat pemerintah, delegasi kebudayaan, maupun tokoh masyarakat. Penugasan ini terkait dengan fungsi keraton dalam menjaga hubungan eksternal dan menjalankan komunikasi publik. Selain itu, ia juga terlibat dalam pengelolaan dan pengawasan aspek-aspek budaya dan pendidikan yang berada di bawah naungan keraton, termasuk kegiatan yang berfokus pada pelestarian aset budaya, seperti naskah kuno dan benda-benda pusaka. Keterlibatannya berorientasi pada pemeliharaan dan promosi warisan budaya keraton.
Maduretno turut memiliki peran dalam kegiatan bisnis dan kelembagaan di luar keraton. Bersama saudara-saudaranya, ia tercatat aktif dalam beberapa entitas usaha, termasuk PT Yogyakarta Tembakau Indonesia[8] dan Nurkadhatyan Spa.[9] Selain itu, Maduretno menduduki posisi sebagai komisaris di PT Buana Alam Tirta. Perusahaan ini merupakan pengelola resmi dari Kebun Binatang Gembira Loka di Yogyakarta.[10] Peran ini menunjukkan keterlibatannya dalam sektor swasta dan pengembangan fasilitas pariwisata regional.
Gelar dan gaya
Nurkamnari Dewi lahir dengan gelar kebangsawanan Jawa Gusti Raden Ajeng (GRAj), gelar yang disematkan kepada para putri penguasa sebelum menikah. Sebelum pernikahannya pada 2008, calon suaminya diberi gelar da nama baru oleh Hamengubuwana X menjadi Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Purbodiningrat. Perubahan nama suaminya berdampak pada nama Nurkamnari Dewi, nama dan gelarnya kemudian berganti mengikuti nama suaminya menjadi Gusti Raden Ayu (GRAy) Purbodinigrat.
Pada tahun 2008, ia menerima kenaikan gelar dan perubahan nama menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Maduretno sementara suaminya menerima gelar Kanjeng Pangeran Harya (KPH).[11][12] Penganugerahan gelar ini digelar dalam upacara wisudhan dalam rangka Tumbuk Ageng peringatan ulang ke-64 ayahnya di Bangsal Kencono, Keraton Yogyakarta. Dalam situasi yang sama, kakak keduanya, GRAy Suryokusumo, juga diwisuda menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono.[11][12] Dalam lingkungan keraton dan masyarakat, penyandang gelar Gusti Kanjeng Ratu biasanya disapa dengan "Gusti" atau "Gusti Ratu" sebagai tanda penghormatan.
Referensi
- ^ a b "Sultan Hamengkubuwono X Akan Nikahkan Putrinya". antaranews.com. Diakses tanggal 15 September 2021.
- ^ Syamsi, Indra; Sustiwi, Fadmi; Sugito, Sigit; Hasibuan, Syahbenol (2016). Faraz; Indarwati, Lucia (ed.). Memaknai Tumbuk Ageng GKR Hemas. Sleman: PT. Kanisuis. hlm. 29. ISBN 978-979-21-5091-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Profil Lengkap Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X". Detik. 22 Oktober 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-06-05. Diakses tanggal 5 Juni 2023.
- ^ Hariadi Saptono, Djoko Poernomo, Soelastri Soekirno, Julius Pourwanto (27 Juni 2022). "KGPH H Mangkubumi Dinobatkan Jadi Sultan Hamengku Buwono X (Arsip Kompas)". Kompas. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-06-05. Diakses tanggal 5 Juni 2023. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ^ S. Dian Andryanto, ed. (3 April 2022). "76 Tahun Herjuno Darpito Sri Sultan Hamengkubuwono X". Tempo Nasional. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-06-05. Diakses tanggal 5 Juni 2023.
- ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-02. Diakses tanggal 2014-05-02.
- ^ http://radarjogja.blogspot.ca/2008/04/selasa-29-april-2008-pengusaha-bunga.html#!/2008/04/selasa-29-april-2008-pengusaha-bunga.html
- ^ "Kampanye Anti Rokok Perlu Konsensus, Sultan Resmikan Pabrik Sampurna Hijau". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-03. Diakses tanggal 2014-05-02.
- ^ "Sensasi Pijat Kuno ala Keraton". tribunnews.com. Tribunnews. Diakses tanggal 15 September 2021.
- ^ "PT. Buana Alam Tirta Adakan Rups di Mayang Tirta". gembiralokazoo.com. Gembira Loka Zoo. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-03. Diakses tanggal 15 September 2021.
- ^ a b Burhani, Ruslan, ed. (2008-05-06). "Peringatan "Tumbuk Ageng" Sultan HB X". Antara News. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ^ a b "Calon Mantu Sultan "Dinaikkan" Gelarnya". Kompas.com. 2008-05-06. Diakses tanggal 2025-12-03.
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


