M. Joesoef Emdhy

M. Joesoef Emdhy
Informasi pribadi
Lahir(1926-02-02)2 Februari 1926
Campang Tiga Ilir, Cempaka, Ogan Komering Ulu Timur
Meninggal28 Agustus 1998(1998-08-28) (umur 71)
Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
MakamTMP Ksatria Ksetra Siguntang, Kota Palembang
Partai politik  Golkar
Suami/istriHj. Chodijah
Hubungan
Anak9
AlmamaterSekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (1951–1952)
Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta
Karier militer
PihakIndonesia
Dinas/cabang TNI Angkatan Darat
Masa dinas1944 - 1958
Pangkat Kolonel Inf.

Sebelum Rasionalisasi Pangkat

Mayor Jenderal TNI
NRP22
SatuanInfanteri
Pertempuran/perangRevolusi Nasional Indonesia
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

H.M. Joesoef Emdhy (2 Februari 1926 – 28 Agustus 1998) adalah seorang perwira TNI Angkatan Darat dan tokoh pejuang kemerdekaan asal Sumatera Selatan. Ia dikenal sebagai salah satu pelopor perjuangan bersenjata di wilayah pedalaman Sumatera Selatan selama Revolusi Nasional Indonesia (1945–1949). Atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan, beliau dianugerahi Bintang Gerilya oleh Presiden Soekarno pada tahun 1958 dan secara resmi diakui sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1982.

Kehidupan Awal

H.M. Joesoef Emdhy lahir pada tanggal 2 Februari 1926 di Campang Tiga, Ogan Komering Ulu Timur, saat masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Ia adalah putra dari H. Mashur dan Hj. Chodijah binti H. Daud Fatoni. Masa remajanya berlangsung pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), di mana banyak pemuda Indonesia mendapatkan pelatihan militer melalui organisasi seperti Heiho dan PETA. Pengalaman ini menjadi dasar bagi keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Karier Militer

Setelah kemerdekaan, Joesoef Emdhy bergabung dengan laskar perjuangan di Sumatera Selatan, yang kemudian dilebur ke dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal TNI. Ia bertugas di wilayah Sumatera Selatan dan menjabat sebagai Komandan Kompi di bawah struktur Komando Teritorium II, yang merupakan cikal bakal Kodam II/Sriwijaya.

Pada masa awal TNI, ketika struktur kepangkatan masih dalam proses pembentukan, Joesoef Emdhy dipercaya memegang jabatan komando yang setara dengan perwira tinggi. Dalam dokumentasi resmi dan foto-foto masa itu, beliau memiliki pangkat Madjen TNI (Mayor Jenderal TNI), sebuah pengakuan fungsional terhadap posisi dan tanggung jawabnya dalam struktur pertahanan daerah. Namun, setelah dilakukannya Rasionalisasi (RERA) pada awal 1950-an, pangkatnya disesuaikan menjadi Letnan Kolonel, yang menjadi pangkat resmi terakhir selama dinas aktif. Ia pensiun dari dinas militer pada tahun 1958. Namun ia mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Kolonel setelah ia di karyakan menjadi pejabat di lingkungan PN Perkebunan.

Atas kontribusinya selama revolusi, Presiden Soekarno menganugerahkan Bintang Gerilya kepadanya pada 17 Agustus 1958, sebagaimana tercantum dalam piagam Tanda Jasa Pahlawan nomor 41061.

Peran dalam Perjuangan Sumatera Selatan

Perjuangan H.M. Joesoef Emdhy tidak dapat dipisahkan dari konteks perlawanan rakyat Sumatera Selatan selama Revolusi Nasional Indonesia. Seperti yang tercatat dalam buku resmi Kodam IV/Sriwijaya, "Untuk Diingat dan Dikenang" (1972), wilayah-wilayah seperti Pagar Alam, Tjurrup, dan Kepahiang menjadi pusat perlawanan terhadap upaya kembalinya kekuasaan kolonial. Di masa itu, para pemuda dan tokoh masyarakat membentuk laskar yang kemudian dilebur ke dalam TKR.

Sebagai Komandan Kompi, Joesoef Emdhy memimpin pasukan di wilayah strategis yang menjadi jalur logistik dan komunikasi antar kabupaten. Ia berperan dalam mengorganisasi rakyat, mempertahankan wilayah dari penetrasi musuh, dan menjaga kelangsungan operasi gerilya. Dalam konteks ini, beliau adalah bagian dari jaringan perlawanan yang lebih luas, yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Letkol. Barlian dan Letkol. Bambang Utojo, yang memimpin struktur komando di wilayah Sumatera Selatan.[1]

Buku tersebut juga menekankan pentingnya strategi bumi hangus dan penghancuran jembatan, seperti di Tabarena, untuk menghambat pergerakan pasukan Belanda. Dalam konteks inilah peran Joesoef Emdhy menjadi vital: sebagai komandan di daerah pedalaman, ia tidak hanya memimpin pasukan, tetapi juga menjadi penghubung antara militer dan masyarakat sipil dalam perjuangan bersama.

Karier Sipil

Setelah pensiun dari militer, Joesoef Emdhy melanjutkan pendidikan di Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta. Ia kemudian beralih ke sektor pembangunan nasional dan diangkat sebagai Direktur PN Perkebunan X, yang kini menjadi bagian dari Perkebunan Nusantara VII. Ia menjabat selama sekitar lima tahun dan turut serta dalam pengelolaan perkebunan negara di Sumatera Selatan, menjadikan sektor ini sebagai pilar ekonomi daerah di era pasca-kemerdekaan.

Foto M Joesoef Emdhy saat menjabat sebagai Direktur PN Perkebunan X yang dikutip dari buku "Untuk diingat dan dikenang"

Penghargaan dan Pengakuan Resmi

Pada tanggal 26 Juni 1982, H.M. Joesoef Emdhy dianugerahi gelar Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia Nomor Skep/744/VI/82. Penghargaan ini diberikan oleh Jenderal TNI Purn. M. Jusuf (Menteri Pertahanan dan Keamanan) dan Laksamana TNI (Purn.) Sudomo (Wakil Panglima Angkatan Bersenjata), sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi beliau selama masa perjuangan.

Penghargaan Bintang Gerilya yang diberikan oleh Soekarno kepada Pahlawan yang ber Gerilya pada masa kemerdekaan Republik Indonesia

Tanda Jasa

Selama menjadi perwira militer, beliau menerima berbagai penghargaan Tanda Jasa:

Deskripsi Tanda Jasa

Baris ke-1 Bintang Gerilya Bintang Kartika Eka Paksi Bintang Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia
Baris ke-2 Satyalancana Perang Kemerdekaan II Satyalancana Perang Kemerdekaan I Satyalancana Kesetiaan
Baris ke-3 Satyalancana Penegak Satyalancana G.O.M V Satyalancana G.O.M II

Kehidupan Pribadi

H.M. Joesoef Emdhy menikah dengan Hj. Chodijah binti H. Daud Fatoni. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai sembilan orang anak:

  1. Hj. Murthy Halimah,
  2. Dr. Emmy Heryati,
  3. Edi Marta Rosadi,
  4. Sri Hartati,
  5. Lana Ramdaniar,
  6. Benny Joesoef, SH,
  7. Yani Diana,
  8. Masti Gautama, dan
  9. Hendra Media, SH.

Meninggal Dunia

H.M. Joesoef Emdhy meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 1998 di kediamannya di Jalan Jenderal Sudirman KM 5 No. 5206, Palembang, pada usia 72 tahun. Ia dimakamkan dengan penghormatan penuh sebagai veteran pejuang di Taman Makam Pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang.

Warisan dan Semangat Perjuangan

Perjuangan H.M. Joesoef Emdhy mencerminkan semangat yang dijunjung tinggi oleh Kodam II/Sriwijaya: "Patah tumbuh, hilang berganti. Gugur satu, tumbuh seribu." Seperti yang tertuang dalam buku "Untuk Diingat dan Dikenang", semangat inilah yang menjadi roh perlawanan rakyat Sumatera Selatan. Joesoef Emdhy adalah salah satu dari "seribu" yang tumbuh, melanjutkan perjuangan dari medan tempur ke ranah pembangunan, dari laskar ke birokrasi negara.

Warisannya tidak hanya tercatat dalam dokumen resmi, tetapi juga dalam nilai-nilai keberanian, kesetiaan, dan pengabdian yang ditanamkan kepada keluarga dan masyarakat. Ia adalah bukti bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya milik para pahlawan yang namanya terpampang di buku sejarah, tetapi juga milik mereka yang berjuang dari balik layar, dari pedalaman, dengan kesetiaan tanpa tanda jasa.

Referensi

  1. ^ Ali, Mohd. (1972). Untuk Diingat dan Dikenang: Menyambut HUT Kodam IV/Sriwijaya ke-XXVII. Palembang: Dinas Penerangan Kodam IV/Sriwijaya. hlm. 109.
  • Ali, Mohd. (1972). Untuk Diingat dan Dikenang: Menyambut HUT Kodam IV/Sriwijaya ke-XXVII. Palembang: Dinas Penerangan Kodam IV/Sriwijaya.
  • Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia. (1982). Surat Keputusan Nomor Skep/744/VI/82 tentang Pengakuan Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia.
  • Presiden Republik Indonesia. (1958). Piagam Tanda Dasa Pahlawan Nomor 41061.
  • Formulir Pendaftaran Calon Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia. (1981). Sub. Kanminvet 09 Kodyaplg, Kodam IV/Sriwijaya.


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement