Lensa es
Lensa es adalah lapisan atau zona es berbentuk lensa yang terbentuk di dalam tanah atau media berpori selama proses pembekuan. Fenomena ini terjadi ketika air dalam pori-pori tanah bermigrasi ke arah zona pembekuan dan membeku di sana, membentuk akumulasi es yang sejajar atau hampir sejajar dengan permukaan tanah. Proses ini berlangsung akibat adanya gradien suhu yang menyebabkan terjadinya tekanan isap pembekuan (cryosuction), sehingga air dari lapisan tanah yang lebih hangat bergerak menuju lapisan yang membeku. Lensa es dapat terbentuk pada tanah mineral maupun organik yang memiliki porositas cukup tinggi untuk memungkinkan pergerakan air, tetapi tidak terlalu besar sehingga kontinuitas kapilaritas tetap terjaga.[1]
Pertumbuhan lensa es dipengaruhi oleh karakteristik tanah, seperti ukuran butir, porositas, kadar air, serta kecepatan pendinginan. Tanah dengan pori-pori halus dan kemampuan kapilaritas tinggi, seperti tanah lanau, lebih rentan terhadap segregasi es karena mampu mempertahankan kontinuitas air menuju zona pembekuan. Lapisan es yang terbentuk dapat menyebabkan pengangkatan permukaan tanah dan menimbulkan tekanan pada struktur di atasnya, seperti jalan, pondasi, atau pipa bawah tanah. Studi eksperimental dan teoretis menunjukkan bahwa kondisi superpendinginan geometris serta kekuatan ikatan antarpartikel tanah berperan penting dalam menentukan lokasi dan waktu pertumbuhan lensa es.[1][2]
Mekanisme Pembentukan
Proses pembentukan lensa es dimulai ketika suhu udara turun di bawah titik beku dan zona pembekuan berkembang ke dalam tanah. Pada fase ini, air pori yang belum membeku bergerak melalui mekanisme kapilaritas ke antarmuka air-es, lalu membeku dan membentuk lapisan es baru. Ketika terjadi superpendinginan geometris (geometrical supercooling), tekanan internal dapat membuka celah pada tanah yang kemudian diisi oleh air baru, membentuk lensa es tambahan.[1] Penelitian menunjukkan bahwa arah pembekuan turut memengaruhi bentuk dan distribusi lensa es. Pembekuan dari atas ke bawah cenderung menghasilkan lapisan tipis yang berulang, sedangkan pembekuan dari bawah ke atas dapat menghasilkan lensa es yang lebih tebal dan jarang.[3] Pada tanah lempung halus atau silty, fenomena ini lebih intensif karena keseimbangan antara permeabilitas rendah dan daya kapiler tinggi yang mendukung pergerakan air.[4] Secara geomorfik, akumulasi dan pencairan lensa es berperan penting dalam evolusi tanah beku, terutama dalam pembentukan patterned ground serta perkembangan ibun abadi.[5]
Referensi
- ^ a b c Style, Robert W.; Peppin, Stephen S. L.; Cocks, Alan C. F.; Wettlaufer, J. S. (2011-10-14). "Ice-lens formation and geometrical supercooling in soils and other colloidal materials". Physical Review E. 84 (4): 041402. doi:10.1103/PhysRevE.84.041402.
- ^ Fu, Ziteng; Wu, Qingbai; Zhang, Wenxin; He, Hailong; Wang, Luyang (2022-02-10). "Water Migration and Segregated Ice Formation in Frozen Ground: Current Advances and Future Perspectives". Frontiers in Earth Science (dalam bahasa English). 10. doi:10.3389/feart.2022.826961. ISSN 2296-6463. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ^ Niggemann, Katharina; Ziegler, Martin; Fuentes, Raul (2023-07-23). "Influence of freezing directions on ice lens formations in soils". doi.org. Diakses tanggal 2025-11-04.
- ^ MUTO, Yoshiko; WATANABE, Kunio; ISHIZAKI, Takeshi; MIZOGUCHI, Masaru (2001). "Observation of ice lensing in glass-powder medium. The relationship between ice lens Growth and water content". Journal of the Japanese Society of Snow and Ice. 63 (1): 3–9. doi:10.5331/seppyo.63.3. ISSN 0373-1006.
- ^ C. Palmer, Andrew (1967). "Ice Lensing, Thermal Diffusion and Water Migration in Freezing Soil". Journal of Glaciology. 6 (47): 681–694. doi:10.1017/s0022143000019948. ISSN 0022-1430.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


