Lapangan udara Henderson (Guadalkanal)


Lapangan udara Henderson

Lapangan udara Henderson adalah bekas pangkalan udara militer yang terletak di Pulau Guadalcanal, Kepulauan Solomon, dan memiliki peran penting selama Perang Dunia II. Awalnya dibangun oleh Kekaisaran Jepang, bandara ini menjadi pusat perebutan sengit antara pasukan Jepang dan Sekutu dalam salah satu pertempuran paling menentukan di Perang Pasifik. Saat ini, lokasi tersebut dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Honiara.

Sejarah

Pembangunan oleh Jepang

Setelah pendudukan Kepulauan Solomon pada April 1942, militer Jepang merencanakan serangkaian operasi untuk merebut Port Moresby di Nugini dan Tulagi di bagian selatan Solomon, dengan tujuan memperluas garis pertahanan mereka di Pasifik Selatan. Langkah ini juga dimaksudkan untuk memotong jalur suplai antara Australia dan Amerika Serikat melalui perebutan wilayah strategis seperti Nauru, Ocean Island, Kaledonia Baru, Fiji, dan Samoa, sehingga Australia tidak lagi menjadi ancaman bagi posisi Jepang di kawasan tersebut.

Pembangunan lapangan udara di Guadalcanal dimulai setelah survei oleh insinyur Jepang pada awal Mei 1942. Lokasi ini dikenal sebagai “Lunga Point” (atau “Runga Point” bagi Jepang) dan memiliki kode “RXI”. Bandara tersebut dirancang untuk memungkinkan pesawat Jepang mengawasi jalur pelayaran ke Australia, bagian selatan Solomon, dan sisi timur Nugini.

Dua unit konstruksi besar terlibat dalam proyek ini, masing-masing beranggotakan 1.379 dan 1.145 orang, yang awalnya ditugaskan untuk bekerja di Pulau Midway sebelum rencana itu dibatalkan. Mereka tiba pada 6 Juli 1942 dan mulai bekerja tiga hari kemudian. Aktivitas ini diamati oleh para pengintai pantai Sekutu (Allied Coastwatchers), yang kemudian melaporkan pembangunan tersebut dan mendorong rencana Amerika Serikat untuk merebut Guadalcanal.

Pada pertengahan Juli, sekitar 250 pekerja sipil dari "Hama Construction Unit" di bawah komando Inouree Hama bergabung dalam proyek tersebut, dibantu oleh spesialis dari 14th Encampment Corps yang membangun stasiun radio di Tulagi, Gavutu, dan RXI. Tenaga kerja lokal juga dilibatkan.

Pekerjaan berjalan lancar, dan pada malam 6 Agustus 1942, tepat sebelum pendaratan pasukan Amerika, para pekerja Jepang menerima jatah tambahan sake untuk merayakan selesainya pembangunan lebih cepat dari jadwal.

Perebutan oleh Amerika Serikat dan Pertempuran Guadalcanal

Pada 7 Agustus 1942, pasukan Amerika dari Divisi Marinir ke-1 dan ke-2 melakukan pendaratan amfibi di Guadalcanal, Tulagi, dan Florida di bagian selatan Kepulauan Solomon. Tujuan utama operasi ini adalah mencegah Jepang menggunakan pulau-pulau tersebut untuk mengancam jalur suplai antara AS, Australia, dan Selandia Baru, serta untuk menjadikan Guadalcanal dan Tulagi sebagai basis dukungan serangan terhadap pangkalan utama Jepang di Rabaul, Pulau New Britain.

Pasukan Marinir dengan cepat mengalahkan pertahanan Jepang yang minim dan merebut Tulagi, Florida, serta lapangan udara RXI yang hampir selesai dibangun. Lapangan udara tersebut kemudian dinamai "Henderson Field" untuk menghormati Mayor Lofton Henderson, seorang perwira penerbang Korps Marinir AS yang gugur dalam Pertempuran Midway ketika memimpin serangan terhadap armada kapal induk Jepang. Henderson adalah pilot Marinir pertama yang tewas dalam pertempuran tersebut.[1]

Pesawat pertama yang mendarat di Henderson Field adalah PBY Catalina, pada 12 Agustus 1942. Delapan hari kemudian, 31 pesawat Marinir (F4F Wildcat dan SBD Dauntless) diluncurkan dari kapal induk USS Long Island dan menjadi skuadron udara permanen pertama di lapangan tersebut. Perbaikan dan penguatan landasan dilakukan oleh Batalyon Konstruksi Angkatan Laut AS ke-6 (Seabees).[2] Dua hari kemudian, skuadron P-400 Airacobra (varian P-39) milik Angkatan Darat AS juga tiba, diikuti oleh pesawat pembom B-17 dan berbagai pesawat Angkatan Laut AS yang menggunakan pangkalan itu selama beberapa bulan berikutnya.

Jepang, yang terkejut oleh serangan Sekutu, berulang kali berusaha merebut kembali Henderson Field antara Agustus dan November 1942. Pertempuran ini melibatkan tiga pertempuran darat besar, tujuh pertempuran laut besar (termasuk dua pertempuran kapal induk dan lima pertempuran malam hari), serta serangan udara dan pengeboman berat oleh kapal perang Jepang, termasuk kapal tempur kelas Kongo. Semua upaya Jepang akhirnya gagal total setelah Pertempuran Laut Guadalcanal pada November 1942, yang menjadi titik balik utama kemenangan Sekutu di Pasifik.

Pada Desember 1942, Jepang mengakhiri semua upaya untuk merebut kembali Guadalcanal dan mulai mengevakuasi pasukannya secara bertahap di bawah tekanan dari Korps XIV Angkatan Darat AS. Evakuasi terakhir selesai pada 7 Februari 1943, menandai berakhirnya Pertempuran Guadalcanal dan kemenangan strategis bagi Sekutu

Daftar pemboman Angkatan Laut

Antara 10 September dan 23 September, pasukan besar termasuk kapal induk Shōkaku , Zuikaku dan 4 kapal perang kelas Kongo berangkat dari Truk untuk menduduki pangkalan di Kepulauan Solomon di utara Guadalcanal.[3]

Antara 11 Oktober dan 30 Oktober, Zuikaku , Shokaku , Hiei , Kirishima , Kongo , dan Haruna beserta pasukan pendukung mereka berangkat dari Truk untuk bertugas di Kepulauan Solomon. Operasi ini pada akhirnya akan memicu Pertempuran Kepulauan Santa Cruz.

Rujukan

  1. ^ October Matanikau Battle. University Press of Mississippi. 2004-09-01. hlm. 219–243. ISBN 978-1-60473-055-5.
  2. ^ Construimus, Batuimus”. Diakses pada 2025-11-05.
  3. ^ "Imperial Battleships". www.combinedfleet.com. Diakses tanggal 2025-11-04.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement