Laksaur

Ikat kepala Laksaur

Laksaur adalah salah satu milisi pro-Indonesia yang meneror penduduk Timor Timur pada tahun 1999, di sekitar referendum mengenai kemerdekaan. Milisi ini didirikan pada April 1999[1] dan

melakukan aksinya antara 27 Januari hingga 15 Desember 1999 dan bertanggung jawab di daerah Cova-Lima.[2] Laksaur memiliki sekitar 500 anggota dan, tergantung sumbernya, 100 atau 200 senjata api. Basisnya terletak di Salele di Subdistrik Tilomar.[3][4] Milisi ini terbagi menjadi lima subkelompok, masing-masing dipimpin oleh seorang subkomandan (Danki). Kelompok-kelompok ini tersebar di Subdistrik Tilomar, Suai, Fatululic, Fohorem dan Fatumean. Setiap kelompok kembali dibagi ke dalam unit-unit yang masing-masing dipimpin oleh seorang komandan (Danton).[5]

Komandan tertinggi milisi adalah Olivio Mendonça Moruk (Olivio Mendoza Moruk, juga dikenal sebagai Alisio Mau). Pejabat untuk Pekerjaan Umum sebelumnya adalah Chefe de Suco dari Foholulik (Subdistrik Tilomar), tetapi diberhentikan karena korupsi dan pelecehan seksual. Saudara Moruk, Egidio Manek (juga Igidio atau Izidio), adalah wakil komandan.[4] Selain itu, ia adalah Danki dari Tilomar. Danki lainnya adalah Maternus Bere (di Suai), Cosmas Amaral (Fohorem), Pedro Teles (Fatululic) dan Henrikus Mali (Fatumean).[5]

Sejarah

Para anggota Laksaur, 1999.

Laksaur terlibat dalam Pembantaian Gereja Suai pada 6 September 1999. Dua hari setelah pengumuman hasil referendum kemerdekaan, di mana mayoritas rakyat Timor Timur dengan jelas memilih untuk melepaskan diri dari kekuasaan pendudukan Indonesia, milisi menyerang gereja Nossa Senhora do Rosario di Suai, tempat ratusan pengungsi berlindung, menurut laporan International Commission of Inquiry on East Timor dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Milisi tersebut dilaporkan mendapat dukungan dari tentara reguler Indonesia. Hanya 26 korban, yang dimakamkan di sisi lain perbatasan di Timor Barat Indonesia, yang berhasil diidentifikasi. Menurut saksi mata, jumlah korban jauh lebih tinggi, diperkirakan mencapai 200 orang.

Pada 23 April 1999 terjadi kekerasan di Subdistrik Tilomar. Tiga pendukung kemerdekaan dibunuh, dan satu orang lainnya menghilang dari desa Niquiir (Nikir). Militer Indonesia dan Laksaur menghancurkan beberapa rumah di desa Fatuc Metan (Fatukmetan) dan menyiksa penduduknya. Sebanyak 950 penduduk melarikan diri ke sebuah gereja dan sekolah. Pemimpin milisi Laksaur setempat, Miguel Mau, kemudian pada 26 November 2003 dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara.[6]

Moruk dibunuh pada 6 September 2000 di Timor Barat oleh mantan anggota milisi, satu minggu setelah ia didakwa. Ia mendapat pemakaman militer yang disiarkan di televisi Indonesia, yang dihadiri tentara, polisi, dan milisi bersenjata. Diduga Moruk dibungkam agar tidak memberatkan perwira militer berpangkat tinggi. Tujuh orang kemudian didakwa di Kupang.[4][7]

Egidio Manek dan 13 anggota milisi lainnya didakwa secara in absentia pada 2003 atas 51 kejahatan, termasuk pembunuhan massal, pembunuhan, pengusiran paksa ribuan penduduk Cova Lima, pemerkosaan, penyiksaan, kejahatan terhadap kemanusiaan, penculikan, dan penganiayaan. Dakwaan tersebut mencakup pembantaian Gereja Suai, pembunuhan 14 pendukung kemerdekaan di desa Lactos (Subdistrik Fohorem), pembunuhan atau penghilangan 52 warga sipil lainnya antara 12 April dan 17 Oktober 1999, serta penyiksaan dan kekejaman lainnya terhadap 49 warga sipil antara 27 Januari dan 30 Oktober 1999. Semua korban adalah pendukung kemerdekaan.[2] Beberapa milisi Laksaur dijatuhi hukuman penjara selama beberapa tahun.[4]

Maternus Bere ditangkap pada awal Agustus 2009 ketika ia berkunjung ke Suai dari Timor Barat, tempat ia tinggal. Ia menghadiri sebuah upacara untuk ayahnya yang meninggal. Namun, saat itu Bere sudah menjadi warga negara Indonesia dan sekretaris sebuah distrik di Indonesia, sehingga negara tetangga tersebut memprotes penangkapannya. Hanya tiga minggu kemudian Bere dibebaskan dan berlindung di Kedutaan Besar Indonesia di Dili. Menteri Kehakiman Lúcia Lobato mengonfirmasi bahwa pembebasan tersebut dilakukan karena alasan politik.[8]

Referensi

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement