Kutukan pengetahuan
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Januari 2023) |
Kutukan pengetahuan (curse of knowledge) adalah bias kognitif ketika orang-orang yang lebih tahu merasa sangat sulit memikirkan masalah dari sudut pandang orang-orang yang kurang/belum tahu. Istilah ini dicetuskan oleh Robin Hogarth.[1]
Dalam satu eksperimen, sekelompok subjek "memilih" sebuah lagu yang terkenal di meja, sedangkan subjek lainnya mendengarkan dan mencoba mengidentifikasi lagu tersebut. Beberapa "pemilih" mendeskripsikan pengalaman sensorik yang kaya di dalam pikirannya ketika mereka mengikuti melodinya. Para pemilih rata-rata memperkirakan 50% pendengarnya tahu lagu yang dimaksud. Kenyataannya, hanya 2,5% pendengar yang tahu lagu tersebut.[2][3] Ada pula fenomena yang dialami para pemain charade: Si aktor mungkin sulit memercayai bahwa lawan mainnya terus-menerus gagal menebak kalimat rahasia yang hanya diketahui aktor sambil digambarkan dengan pantomim.
Kutukan pengetahuan belakangan ini dianggap sebagai salah satu faktor kesulitan dalam mengajar.[4]
Sejarah konsep

Istilah "kutukan pengetahuan" dicetuskan dalam sebuah artikel di Jurnal Ekonomi Politik tahun 1989 oleh para ekonom Colin Camerer, George Loewenstein, dan Martin Weber. Tujuan penelitian mereka adalah untuk melawan "asumsi konvensional dalam analisis (ekonomi) semacam itu mengenai informasi asimetris, yaitu bahwa agen yang lebih terinformasi dapat secara akurat mengantisipasi penilaian agen yang kurang terinformasi".
Penelitian semacam itu berawal dari karya Baruch Fischhoff pada tahun 1975 seputar bias retrospektif, sebuah bias kognitif yang menganggap mengetahui hasil suatu peristiwa tertentu membuatnya tampak lebih mudah diprediksi. Penelitian yang dilakukan oleh Fischhoff mengungkapkan bahwa partisipan tidak tahu bahwa pengetahuan mereka tentang hasil memengaruhi respons mereka, dan, jika mereka tahu, mereka tetap tidak dapat mengabaikan atau mengatasi efek bias tersebut. Partisipan studi tidak dapat secara akurat merekonstruksi kondisi pikiran mereka sebelumnya yang kurang berpengetahuan, yang secara langsung berkaitan dengan kutukan pengetahuan. Rekonstruksi yang buruk ini diteorikan oleh Fischhoff karena partisipan "berlabuh pada kondisi pikiran retrospektif yang diciptakan oleh penerimaan pengetahuan". Penerimaan pengetahuan ini kembali ke gagasan kutukan yang dikemukakan oleh Camerer, Loewenstein, dan Weber: orang yang berpengetahuan tidak dapat secara akurat merekonstruksi apa yang akan dipikirkan atau dilakukan oleh seseorang, baik dirinya sendiri maupun orang lain, tanpa pengetahuan tersebut. Dalam makalahnya, Fischhoff mempertanyakan kegagalan berempati dengan diri sendiri dalam kondisi kurang berpengetahuan, dan mencatat bahwa seberapa baik orang mampu merekonstruksi persepsi terhadap orang lain yang kurang berpengetahuan merupakan pertanyaan krusial bagi para sejarawan dan "seluruh pemahaman manusia".
Penelitian ini mendorong para ekonom Camerer, Loewenstein, dan Weber untuk berfokus pada implikasi ekonomi dari konsep tersebut dan mempertanyakan apakah kutukan tersebut merugikan alokasi sumber daya dalam suatu tatanan ekonomi. Gagasan bahwa pihak yang lebih terinformasi dapat mengalami kerugian dalam suatu kesepakatan atau pertukaran dipandang sebagai sesuatu yang penting untuk dibawa ke ranah teori ekonomi. Sebagian besar analisis teoretis tentang situasi di mana satu pihak kurang berpengetahuan daripada pihak lain berfokus pada bagaimana pihak yang kurang terinformasi berusaha mempelajari lebih banyak informasi untuk meminimalkan asimetri informasi. Namun, dalam analisis ini, terdapat asumsi bahwa pihak yang lebih terinformasi dapat secara optimal memanfaatkan asimetri informasi mereka, padahal kenyataannya tidak. Orang tidak dapat memanfaatkan informasi tambahan mereka yang lebih baik, meskipun seharusnya mereka memanfaatkannya dalam situasi tawar-menawar.
Misalnya, dua orang sedang tawar-menawar untuk membagi uang atau perbekalan. Satu pihak mungkin mengetahui besarnya jumlah yang akan dibagi, sementara pihak lainnya tidak. Namun, untuk memanfaatkan keuntungan mereka sepenuhnya, pihak yang terinformasi harus memberikan penawaran yang sama terlepas dari jumlah barang yang akan dibagi. Namun, pihak yang terinformasi sebenarnya menawarkan lebih banyak ketika jumlah yang akan dibagi lebih besar. Pihak yang terinformasi tidak dapat mengabaikan informasi mereka yang lebih baik, meskipun seharusnya demikian.
Lihat pula
- Efek Dunning–Kruger
- Celah empati
- Efek konsensus palsu
- Realisme naif
- Informasi asimetris
- Seleksi maju
Referensi
- ^ Camerer, Colin (1989). "The curse of knowledge in economic settings: An experimental analysis". Journal of Political Economy. 97: 1232–1254.
- ^ Heath, Chip (2007). Made to Stick. Random House.
- ^ Ross, L., & Ward, A. (1996). Naive realism in everyday life: Implications for social conflict and misunderstanding. In T. Brown, E. S. Reed & E. Turiel (Eds.), Values and knowledge (pp. 103–135). Hillsdale, NJ: Erlbaum.
- ^ Wieman, Carl (2007). "The "Curse of Knowledge," or Why Intuition About Teaching Often Fails". APS News. The Back Page. 16 (10). Diakses tanggal 8 March 2012.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


