Krisis air bersih di Indonesia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2025) |
Krisis air bersih di Indonesia merupakan kondisi ketika ketersediaan air layak konsumsi tidak mencukupi kebutuhan masyarakat. Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya peningkatan urbanisasi yang mendorong tingginya permintaan air serta terjadinya degradasi lingkungan yang menurunkan kualitas dan kuantitas sumber daya air.[1]
Keterbatasan air bersih menjadi salah satu faktor yang mengancam kelangsungan hidup manusia. Sebuah data memaparkan bahwa per tahun 2022, di tingkat global sebanyak 2,2 miliar manusia hidup dengan akses air yang buruk. Di wilayah pedesaan, terdapat perbandingan 4 dari 5 orang masih mengalami kekurangan akses pada layanan dasar air minum.[2]
Global Commission ons the Economics of Water (GCEW) menegaskan bahwa apabila krisis air global tidak ditangani secara efektif, maka target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) terancam tidak tercapai.[2] Masalah krisis air bersih memiliki dampak buruk pada beberapa sektor kehidupan, mulai dari kesehatan, ekonomi hingga keberlanjutan sumber daya air di beberapa daerah.
Penyebab
Penyebab terjadinya krisis air bersih salah satunya adalah kenaikan jumlah populasi manusia. Menurut data, jumlah penduduk Indonesia menyentuh angka 281,6 juta jiwa per Januari 2025.[1] Adanya urbanisasi dan penggunaan air tanah secara berlebihan di tiap daerah justru memperparah kondisi tersebut. Sikap masyarakat yang mengabaikan kondisi lingkungan sekitar dengan membuang sampah sembarangan di perairan maupun sungai menjadi penyebab krisis air bersih lainnya. Selain itu, krisis air bersih juga disebabkan oleh perubahan iklim yang semakin ekstrem.[3] Isu krisis air bersih terjadi akibat perubahan iklim, emisi gas rumah kaca meningkat sehingga mengakibatkan pemanasan global. Kelangkaan air bersih juga melanda banyak negara seperti Eropa, Asia Timur, Asia Tenggara, Timur Tengah dan di berbagai wilayah lainnya.[4]
Dampak
Krisis air bersih memiliki dampak yang cukup serius dan perlu perhatian lebih. Dampak ini dimulai dari kesehatan masyarakat yang terganggu mengakibatkan timbulnya penyakit diare dan stunting. Terhitung hampir 70 persen dari 20.000 sumber air minum rumah tangga tercemar oleh limbah tinja. Hal ini yang menimbulkan penyakit diare dan merupakan penyebab utama kematian balita.[5] Lingkungan yang merespon adanya masalah ini memberikan tanda dengan terjadinya intrusi air laut dan kekeringan lahan. Hal ini diakibatkan penyerapan air bersih yang berkurang sehingga zat baik tidak terserap dengan cukup.
Upaya penanganan
Upaya penanganan yang dilakukan pemerintah dalam kasus tersebut dengan menetapkan target pengelolaan Sumber Daya Air berkelanjutan, yakni peningkatan kapasitas sumber air nasional sekitar 2,3 miliar m3. Selain itu adanya pasokan air irigasi dari waduk sekitar 355,8 ribu hektare.[6] Masyarakat didorong untuk melakukan penghematan air serta mengembangkan teknologi filter air. Adanya sistem sanitasi sederhana bisa menjadi salah satu upaya yang bisa diterapkan sehari-hari untuk mendapatkan air bersih layak konsumsi.
Referensi
- ^ a b Media, Kompas Cyber (2025-04-25). "Jumlah Populasi Indonesia 2025". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-09-25.
- ^ a b Kompas, Tim Harian (2024-11-01). "Krisis Air Dunia". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-09-25.
- ^ "Krisis Air dan Ketahanan Pangan di Indonesia: BMKG Sebut Restorasi Sungai dan Pemanenan Air Hujan sebagai Solusi Strategis - Siaran Pers - BMKG". BMKG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Diakses tanggal 2025-09-25.
- ^ "Ancaman Krisis Air, BMKG: Negara Maju atau Berkembang Sama-sama Menderita - Siaran Pers - BMKG". BMKG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Diakses tanggal 2025-09-25.
- ^ "Indonesia: Hampir 70 persen sumber air minum rumah tangga tercemar limbah tinja". www.unicef.org. Diakses tanggal 2025-09-25.
- ^ antaranews.com (2022-03-15). "Pengelolaan Sumber Daya Air berkelanjutan tingkatkan ketahanan air". Antara News. Diakses tanggal 2025-09-25.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


