Kota Bidar

Kota Bidar adalah sebuah kota di negara bagian Karnataka, India. Wilayah Kota Bidar berupa bukit pada Dataran Tinggi Dekkan dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.[1] Penduduk asli di Kota Bidar berasal dari suku Dekkan dan penduduk pendatang berasal dari wilayah Iran dan Asia Tengah.[2] Bahasa yang dituturkan oleh penduduk Kota Bidar meliputi bahasa Kannada, bahasa Marathi, bahasa Telugu dan bahasa Urdu.[3]

Kota Bidar merupakan bagian penting dari dinasti-dinasti kerajaan Hindu selama abad pertengahan dan kemudian oleh dinasti-dinasti kerajaan Islam sejak Kesultanan Delhi hingga Kekaisaran Mughal.[4] Dalam administrasi pemerintahan negara bagian Karnataka di India, Kota Bidar berkedudukan sebagai ibu kota Distrik Bidar.[1] Penduduk di Kota Bidar mengadakan kegiatan produksi tanaman pertanian terutama tebu, kacang tanah, gandum dan kacang-kacangan. Sejak tahun 1990, Kota Bidar mengembangkan sektor industri terutama industri kimia.[5] Kebudayaan asli di Kota Bidar adalah kebudayaan Dekkan. Namun kebudayaan yang mendominasi adalah kebudayaan Persia dan kebudayaan Arab.[6]

Wilayah administratif dan kondisi geografi

Kota Bidar terletak di Distrik Bidar dalam Divisi Hyderabad Karnataka pada negara bagian Karnataka, India. Lokasi Kota Bidar berada di bagian timur laut Karnataka.[1] Kota Bidar merupakan sebuah kota yang wilayahnya berbentuk bukit. Wilayah Kota Bidar berada di Dataran Tinggi Dekkan.[1] Tanah di Kota Bidar berupa tanah merah.[7] Wilayah Kota Bidar berada pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.[4] Bagian utara Kota Bidar dibatasi oleh sungai Manjera, sedangkan bagian selatannya dibatasi oleh sungai Sena.[8]

Penduduk

Penduduk asli di Kota Bidar berasal dari suku Dekkan yang menjadi penduduk utama sejak abad ke-13 hingga ke-17 Masehi. Kota Bidar merupaan percontohan kekuasaan dinasti-dinasti dari suku Dekkan yang membentuk kerajaan seperti Kesultanan Bahmani.[2] Sejak Kota Bidar berkedudukan sebagai ibu kota Kesultanan Bahmani, wilayahnya menjadi tujuan menetap bagi penduduk pendatang yang berasal dari wilayah Iran dan Asia Tengah.[9]

Penduduk lokal di Kota Bidar bertutur dalam bahasa Kannada. Namun bahasa Marathi dan bahasa Telugu juga dituturkan di Kota Bidar oleh penduduk pendatang. Bahasa Marathi dituturkan oleh penduduk yang berasal dari Maharasthra, sedangkan bahasa Telugu dituturkan oleh penduduk yang berasal dari Andhra Pradesh. Selain itu, penduduk pendatang yang bermigrasi dari wilayah bagian barat laut India umumnya menuturkan bahasa Urdu.[3]

Pemerintahan

Kota Bidar merupakan bagian penting dari dinasti-dinasti kerajaan Hindu selama abad pertengahan. Pada tahun 1324 M., Muhammad bin Tughluq menguasai Kota Bidar dan menjadikannya bagian dari pemerintahan Kesultanan Delhi ketika ia masih berstatus sebagai pangeran. Pada tahun 1347, wilayah Dataran Tinggi Dekkan termasuk Kota Bidar memisahkan diri dari Kesultanan Delhi dan menjadi bagian dari Kesultanan Bahmani.[4]

Pada tahun 1425 M, Kota Bidar ditetapkan sebagai ibu kota baru Kesultanan Bahmani dan menggantikan kedudukan ibu kota sebelumnya yaitu Gulbarga.[4] Pada tahun 1531 M, Kota Bidar menjadi pusat bagi pemerintahan Kesultanan Bidar yang dikuasai oleh Dinasti Barid Syahi. Pada tahun 1619, Kota Bidar berusaha dikuasai oleh Kesultanan Bijapur dan berhasil ditaklukkan pada tahun 1620 M. Namun pada tahun 1657 M, Aurangzeb selaku Wizurai Kekaisaran Mughal menaklukkan Kesultanan Bijapur dan menguasai Kota Bidar. Aneksasi terhadap Kota Bidar oleh Kekaisaran Mughal secara resmi dimulai sejak tahun 1686. Pada tahun 1724 M, Kota Bidar berada dalam kekuasaan Nizam Hyderabad setelah Kekaisaran Mughal mengalami keruntuhan.[4] Dalam administrasi pemerintahan negara bagian Karnataka di India, Kota Bidar berkedudukan sebagai ibu kota Distrik Bidar.[1]

Perekonomian

Penduduk di Kota Bidar mengadakan kegiatan produksi tanaman pertanian. Jenis tanaman yang dihasilkan terutama tebu, kacang tanah, gandum dan kacang-kacangan.[7] Sejak tahun 1990, di Kota Bidar berkembang sektor industri terutama industri kimia dalam skala kecil hingga skala menengah.[5]

Kebudayaan

Kebudayaan asli di Kota Bidar adalah kebudayaan Dekkan yang telah menjadi tradisi di Gulbarga. Namun setelah Kota Bidar menjadi ibu kota Kesultanan Bahmani sejak tahun 1422, kebudayaan lain seperti kebudayaan Persia dan kebudayaan Arab juga diterapkan di Kota Bidar. Kebudayaan Persia dan kebudayaan Arab kemudan menjadi kebudayaan dominan dibandingkan kebudayaan Dekkan. Hasil kebudayaan Persia secara umum digunakan dalam gaya arsitektur dan seni di Kota Bidar.[6]

Peninggalan bersejarah

Monumen dan situs bersejarah

Kota Bidar memiliki monumen dan situs bersejarah yang secara khusus berkaitan dengan sejarah Karnataka dan secara umum berkaitan dengan suku Dekkan. Monumen dan situs bersejarah di Kota Bidar bersifat unik karena mewakili menerapkan kesenian bidri yang tercipta sebagai hasil percampuran budaya dari berbagai periode sejarah. Kesenian bidri di Kota Bidar merupakan hasil dari hubungan sosial budaya antara suku Dekkan dengan orang Turki, orang Afganistan, orang Arab, orang Iran dan Kekaisaran Mughal. Lokasi-lokasi yang menjadi tempat dibangunnya monumen dan situs bersejarah di Kota Bidar telah menjadi tujuan pariwisata oleh para turis.[10]

Masjid Jami' Bidar

Masjid Jami' Bidar di Kota Bidar.

Masjid Jami' Bidar merupakan masjid tertua di Kota Bidar yang dibangun pada masa kekuasaan Kesultanan Bahmani dalam pemerintahan Sultan Ahmad Syah. Pembangunan Masjid Jami' Bidar dimulai sebelum ibu kota Kesultanan Bahmani dipindahkan dari Gulbarga ke Kota Bidar. Proses pembangunannya diawasi oleh Muhammad Syah selaku anak sekaligus perwakilan Sultan Ahmad Syah dalam pemerintahan di Provinsi Bidar yang meliputi Kota Bidar.[11] Bangunan Masjid Jami' Bidar dibangun dengan masing-masing sisi dinding sekitar 310 kaki. Sementara itu, ketinggian bangunan Masjid Jami' Bidar adalah 28 kaki lebih 6 inci. Setiap fasad pada Masjid Jami' Bidar dibangun dengan bentuk yang seragam dan berukuran sama.[12]

Referensi

  1. ^ a b c d e Swarooprani K. (2022). Yeshasvini Scheme (dalam bahasa Inggris). Bilaspur: Sankalp Publication. hlm. 94. ISBN 978-93-93849-82-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b Shankar, Pratyush (2023). History of Urban Form of India: From Beginning Till 1900's (dalam bahasa Inggris). New Delhi: Oxford University Press India. hlm. 33. ISBN 978-9-39-105034-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b Strauss, Robert (Maret 2017). Introducing Story-Strategic Methods: Twelve Steps Toward Effective Engagement (dalam bahasa Inggris). Eugene: Wipf & Stock Publishers. hlm. 15. ISBN 978-1-5326-1316-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ a b c d e Pletcher, Kenneth, ed. (2011). The Geography of India: Sacred and Historic Places (dalam bahasa Inggris). Kota New York: Britannica Educational Publishing. hlm. 187. ISBN 978-1-61530-202-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ^ a b Malgond, Sharnappa S. (2019). The Role of the Self Help Groups in Transforming the Lives of the Poor in Bidar District of Karnataka (dalam bahasa Inggris). Raleigh: Lulu Publication. hlm. 71. ISBN 978-0-359-75564-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ a b Eaton, Richard Maxwell (1978). The Sufis of Bijapur, 1300-1700: Social Roles of Sufis in Medieval India (dalam bahasa Inggris). Princeton: Princeton University Press. hlm. 55. ISBN 978-1-400-86815-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ a b Mangeshkar, Jaibharat Madivalappa (2020). Impact Of Mgnrega On Rural Employment: A Study In Bidar District Of Karnataka (dalam bahasa Inggris). Bangalore: Archers & Elevators Publishing House. hlm. 61. ISBN 978-81-948984-2-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ^ Ali, Moulavi Cherágh (1885). Hyderabad (Deccan) Under Sir Salar Jung (dalam bahasa Inggris). Mumbai: Education Society's Press. hlm. 31. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ^ Manglik, Rohit (November 2022). EduGorilla Prep Experts (ed.). Urban History in India (dalam bahasa Inggris). EduGorilla Publication. hlm. 58. ISBN 978-9-3690-6357-4. ; Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ^ Waghmare, Nalini Avinash (Maret 2024). Documentation and Preservation of Folklore Culture of Bidar District (dalam bahasa Inggris). New Delhi: Blue Rose Publishers. hlm. 33. ISBN 978-93-5989-557-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ^ Hosamani, Ratnakar D. (2019). A Study of Historical Monuments in Bidar District (1st Century-17th Century CE) (dalam bahasa Inggris). Raleigh: Lulu Publication. hlm. 90. ISBN 978-0-359-77997-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. ^ Yazdani, Ghulam (1995). Bidar, Its History and Monuments (dalam bahasa Inggris). Delhi: Motilal Banarsidass. hlm. 55. ISBN 81-208-1071-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement