Konsep tebal
Dalam filsafat, konsep tebal (thick concept) (kadang disebut: thick normative concept atau thick evaluative concept) adalah jenis konsep yang memiliki derajat muatan deskriptif yang signifikan sekaligus mengandung penilaian evaluatif. Contoh paradigmatik dari konsep ini adalah berbagai kebajikan dan keburukan seperti keberanian, kekejaman, kejujuran, dan kebaikan. Keberanian, misalnya, dapat diberikan karakterisasi kasar dalam istilah deskriptif sebagai “...melawan bahaya demi mencapai tujuan yang bernilai”. Pada saat yang sama, menyebut seseorang sebagai berani umumnya melibatkan ekspresi sikap penghargaan atau pro-attitude, atau suatu kualitas yang (secara prima facie) dianggap baik—yakni sebuah pernyataan evaluatif.
Posisi tengah
Konsep-konsep tebal (thick concepts) umumnya dianggap menempati sebuah “posisi tengah” antara konsep deskriptif tipis dan konsep evaluatif tipis. Konsep deskriptif—seperti air, emas, panjang, dan massa—secara konvensional dipahami sebagai istilah yang terutama berfungsi untuk menunjuk ciri-ciri atau sifat-sifat faktual yang terdapat di dunia, tanpa secara langsung menyampaikan alasan untuk bertindak. Sebaliknya, konsep evaluatif—seperti benar dan baik—biasanya dipahami sebagai istilah yang tidak terutama menunjuk ciri faktual, melainkan memberikan alasan atau dorongan untuk bertindak, serta mengekspresikan penilaian normatif.
Kedudukan ganda (double feature) dari konsep tebal, yang menggabungkan dimensi deskriptif dan evaluatif dalam satu istilah, telah menjadikannya titik perdebatan penting antara kaum realis moral dan kaum ekspresivis moral. Kaum realis moral berpendapat bahwa kandungan yang berorientasi pada dunia (world-guided content) dan kandungan yang berorientasi pada tindakan (action-guiding content) tidak dapat dipisahkan secara berguna, karena pemisahan tersebut dianggap mengabaikan cara konsep tebal berfungsi dalam praktik penalaran moral sehari-hari. Mereka menekankan bahwa penggunaan kompeten terhadap konsep tebal dapat dikategorikan sebagai bentuk pengetahuan etis, sebab istilah tersebut diyakini menangkap sekaligus sifat faktual dan nilai normatif yang terkait dengannya.[1]
Sebaliknya, kaum ekspresivis—yang mempertahankan pandangan bahwa nilai-nilai moral pada dasarnya merupakan ekspresi sikap atau disposisi evaluatif yang diproyeksikan ke dunia—berupaya mempertahankan pemisahan analitis antara komponen deskriptif yang netral secara moral dari suatu konsep tebal dan sikap evaluatif yang biasanya menyertainya. Dengan demikian, bagi mereka, konsep tebal bukanlah bukti bahwa fakta dan nilai terjalin secara tak terpisahkan, melainkan contoh istilah yang memadukan dua aspek berbeda: deskripsi mengenai keadaan tertentu dan ekspresi sikap evaluatif yang lazim diasosiasikan dengan keadaan tersebut. Pendekatan ini memungkinkan ekspresivis untuk menjelaskan fungsi praktis konsep tebal tanpa mengakui bahwa konsep tersebut merujuk pada nilai yang dianggap sebagai ciri obyektif dunia.[2]
Referensi
- ^ Dancy, Jonathan (2021-07-29). McDowell, Williams, and Intuitionism. Oxford University PressOxford. hlm. 178–196. ISBN 0-19-886560-0.
- ^ Blackburn, Simon (1992-12). "Gibbard on Normative Logic". Philosophy and Phenomenological Research. 52 (4): 947. doi:10.2307/2107920. ISSN 0031-8205.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


