Konkatedral Manokwari

Konkatedral Manokwari
Gereja Konkatedral Santo Agustinus Manokwari
PetaKoordinat: 0°51′44.13218″S 134°4′34.86468″E / 0.8622589389°S 134.0763513000°E / -0.8622589389; 134.0763513000
Informasi umum
LokasiJalan Brawijaya Nomor 40, Manokwari Timur, Kabupaten Manokwari, Papua Barat 98312
NegaraIndonesia
DenominasiGereja Katolik Roma
Arsitektur
Status fungsionalAktif
Tipe arsitekturGereja
Administrasi
KeuskupanManokwari–Sorong

Konkatedral Manokwari atau disebut juga Paroki Ko-Katedral Santo Agustinus Manokwari adalah sebuah gereja konkatedral Katolik yang berlokasi di Distrik Manokwari Timur, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Indonesia. Gereja ini merupakan bagian dari Keuskupan Manokwari-Sorong. Gereja ini dinamai menurut Agustinus, seorang pujangga gereja.

Sejarah

Pada awalnya Gereja Santo Agustinus merupakan katedral dari Prefektur Apostolik Manokwari sejak 19 Desember 1959 yang kemudian ditingkatkan menjadi Keuskupan Manokwari pada tanggal 15 November 1966. Seiring perpindahan pusat keuskupan dari Kabupaten Manokwari ke Kota Sorong dan perubahan nama keuskupan menjadi Keuskupan Manokwari-Sorong, status katedral kemudian beralih ke Gereja Kristus Raja, Sorong sejak 14 Mei 1974.[1]

Gereja Santo Agustinus sempat mengalami pembangunan ulang, yang ditandai dengan peletakan batu pertama. Upacara tersebut berlangsung pada 11 September 2014 dan dipimpin oleh Hilarion Datus Lega yang merupakan Uskup Manokwari-Sorong. Gereja ini kemudian diberkati dan diresmikan pada 27 Agustus 2017, yang beriringan dengan peringatan 80 tahun Paroki Santo Agustinus.[2]

Pada 15 April 2025 saat berlangsung Misa Krisma, Uskup Datus membacakan surat penetapan tentang Penetapan Nama Paroki Ko-Katedral Santo Agustinus Manokwari.

Bangunan

Bangunan gereja memiliki luas 2.054 meter persegi di atas lahan dengan luas sekitar lima hektare. Bangunan gereja terinspirasi dari bentuk monstrans, yaitu wadah yang digunakan untuk meletakkan hosti,[3] dan juga mengikuti bentuk rumah Honai, yakni rumah adat bagi Suku Dani. Adapun bangunan gereja ini didesain oleh Ignatius Tatang.[2]

Sisi dalam Gereja Santo Agustinus menampilkan akulturasi budaya Papua, yang dicirikan dengan ukiran khas Papua serta motif tifa yang menggambarkan sukacita dalam kalangan masyarakat Papua. Banyaknya pilar di dalam gereja juga mengadopsi rumah adat Suku Arfak yang disebut sebagai Rumah Kaki Seribu.[2]

Fasilitas

Gereja Santo Agustinus memiliki sebuah menara lonceng dengan tinggi 31 m (101 ft 8+12 in) dan berwarna emas. Menara lonceng ini mulai dibangun pada 15 Juli 2018 dan diberkati pada 18 Oktober 2020.[4] Menara lonceng ini memiliki seratus anak tangga.[2]

Pada 16 Oktober 2024, Uskup Datus memimpin peletakan batu pertama dalam rangka pembangunan kantor, aula, dan pastoran Paroki Santo Agustinus. Hal ini menjadi suatu tanda dalam hal pengembangan fasilitas gereja.[5][6]

Referensi

  1. ^ "Ternyata Logo Keuskupan Manokwari-Sorong Maknanya Begini…". Komunikasi Sosial Keuskupan Manokwari-Sorong. 13 Juni 2023. Diakses tanggal 15 April 2025.
  2. ^ a b c d Pasa, Kresensia Kurniawati Mala (27 November 2022). Libertus Manik Allo (ed.). "Menilik Keindahan Gereja Katolik St Agustinus Manokwari, Akulturasi Budaya Papua dan Katolik". Tribun Papua Barat. Diakses tanggal 15 April 2025.
  3. ^ Raharjo, Stephanus Istata (28 Agustus 2017). "Telan 9 Miliar, Tuhan Sendiri yang Membangun Gereja Agustinus Manokwari". Sesawi.net. Diakses tanggal 15 April 2025.
  4. ^ "Uskup Manokwari Sorong Resmikan Menara Lonceng Paroki Santo Agustinus Manokwari". Papua Kini. 18 Oktober 2020. Diakses tanggal 15 April 2025.
  5. ^ Tatontos, Oudriana (16 Oktober 2024). Dina Rianti (ed.). "Paroki Santo Agustinus Manokwari Lakukan Pengembangan Fasilitas Gereja". Radio Republik Indonesia. Diakses tanggal 15 April 2025.
  6. ^ "Kakankemenag Manokwari Hadiri Peletakan Batu Pertama Pembangunan Kantor, Aula, dan Pastoran Paroki Santo Agustinus Manokwari". Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua Barat. 16 Oktober 2024. Diakses tanggal 15 April 2025.

Lihat juga

Pranala luar


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement